Ahad Safar 29 1439 | Ahad 19 November 2017

ARTIKEL MUI

Melepas Kepergian Sang Tamu Agung

 

Tiada terasa, tamu agung Ramadlan 1434 H sebentar lagi akan meninggalkan kita. Banyak sudah hikmah, manfaat, kebahagiaan, keberuntungan,serta keberkahan yang dibawa oleh tamu agung ini yang sudah kita raih. Berbagai limpahan nikmat kasih sayang, dalam bentuk ampunan, pembebasan dari ancaman siksa api neraka. Berbagai do`a, zikir, tadarrus al-Qur`an akan didengar dan diterima. Zakat, infaq dan sedekah akan dilipat gandakan oleh Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Jumlah detik, menit, jam, dan hari, siklus 24 jam telah  diisi dan dihiasi oleh hamba Allah yang saleh, dengan tulus dan ikhlas melaksanakan dengan berbagai aktifitas siyamu Ramadlan di siang harinya dan Qiyamu Ramadlan di malam harinya selama bulan Ramadlan 1434 H ini, akan dilipat gandakan point pahalanya oleh Allah SWT pada hari pembalasan dan hari perhitungan amal (fi yaumil jaza wa fi yauml hisab). Selain itu, siyamu Ramadlan akan tampil sebagai pendamping setia yang akan mengawal dan akan mengadvokasi

setiap hamba Allah, yang ketika di dunia dengan sadar melaksanakan kewajiban puasa. Seraya siyamu Ramadlan berseru di hadapan Hakim Tunggal Ahkamul Hakimin,: Ya Allah Ya Rabb!. Aku telah menghalangi yang bersangkutan untuk makan, minum, dan hubungan seksual sejak imsak sampai dengan waktu berbuka. Berikanlah syafaat kepadaku,dan aku    akan menyampaikan syafaat dan pertolongan itu kepadanya!. Kemudian, Allah SWT langsung menerima permohonannya.

 

Allah SWT secara khusus telah berpesan kepada para hamba-Nya yang telah memasuki masa babak final melaksanakan puasa Ramadlan dengan tiga pesannya yang tertuang dalam QS. 2 (al-Baqarah) : 185. Pertama: ... Wa li tukmilul `iddata ... (dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya). Allah SWT sangat memahami betul struktur fisik jasmani dan rohani setiap isan hamba-Nya, bahwa menjelang akhir bulan Ramadlan, tidak sedikit hamba-Nya  yang berpuasa, yang puasanya kalah dan jatuh disebabkan oleh berbagai godaan hawa nafsu. Keinginan untuk mudik (pulang kampung) dengan berbagai oleh-olehnya. Demikian pula, persiapan untuk Idul Fitri dengan kelengkapan pakaian, makanan, dan berbagai asesoris lainnya. Sehingga konsentrasi pelaksanaan ibadah shaumnya hampir nyaris atau bahkan sudah buyar. Allah SWT mengingatkan untuk melaksanakan shaumu Ramadlan secara sempurna (29 atau 30 hari) sesuai dengan perhitungan hisab, dan atau ru`yatul hilal (melihat hilal 1 Syawwal yang dilakukan oleh para ahlinya). Kedua: ... wa litukabbirullaha `ala ma hadakum...(dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya).  Allah SWT membimbing setiap hamba-Nya yang baru saja lulus melaksanakan siyamu Ramadlan untuk mebasahi bibirnya dengan ucapan takbir, tahlil dan tahmid, dengan mengumandangkan ucapan: Allahu Akbar 3x la ilaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahilhamd. Gema takbir ini disunnahkan untuk  dikumandangkan pada malam `Idul Fitri, sejak terbenam matahari sampai dengan dilaksanakanya shalat `Idul Fitri. Ucapan takbir ini, merupakan ekspressi dan implementasi atas berbagai keberhasilan, dan kesuksesan yang diraih oleh setiap hamba Allah yang telah mampu mengendalikan berbagai godaan hawa nafsunya, dan dia tampil sebagai pemenangnya.  Ketiga: ... wa la`allakum tasykurun... ( supaya kamu bersyukur). Sebagai simbol dan ekpressi syukur atas berbagai limpahan nikmat dan karunia-Nya, setiap hamba Allah SWT disunnahkan untuk melaksanakan shalat `Idul Fitri secara berjama`ah dua rakaat, yang diteruskan dengan tausiyyah  dari khatib. Pelaksanaannya, diusahakan di lapangan terbuka sebagai sosialisasi dari manifestasi  rasa syukur kepada Allah SWT, dan rasa  persaudaraan, persamaan akan jelas terlihat, dengan tidak melihat status sosial, latar belakang ekonomi dan politik, semua bersujud mencium bumi Allah ini, dan dengan penuh kesadaran bahwa fasilitas kehidupan, baik dalam bentuk nikmat intelektual dan keterampilan, serta kemajuan  yang dimiliki, kekayaan, amanah jabatan, semua itu bersumber dari Allah SWT. Sehingga setiap hamba Allah sadar betul bahwa dirinya lemah, hina, tidak ada apa-apanya dibanding dengan kekuasaan Allah SWT. Jiwanya dan apa yang dimilikinya   pada suatu saat akan ditarik kembali jam tayang dan peredarannya dari muka bumi ini, untuk menuju   hadirat Maha Pemilik Alam Semesta yaitu Allah SWT.

Ramadlan 1434 H sudah berkemas untuk pergi meninggalkan kita. Rasulullah SAW telah  bersabda: Langit dan bumi serempak menangis  tersedu-sedu, ikut sedih atas peristiwa musibah yang terjadi pada umat Nabi Muhammad SAW. Kenapa keduanya menangis?. Karena umat Rasulullah SAW akan ditinggalkan oleh bulan Ramadlan. Karena, tamu agung ini telah banyak membawa keberkahan dan keberuntungan dunia dan akhirat bagi mereka. Di samping itu, sesuai dengan sabda Rasulullah: Iblis la`natullah dan pasukannya asy-syayatin( pasukan syetan) sangat bangga dan bahagia dengan perginya bulan Ramadlan. Karena mereka akan memulai  aktifitasnya kembali  menggoda setiap anak manusia yang baru saja sukses  melaksanakan puasa, dengan berbagai jebakan dan rayuan dahsyat. ... dengan ditebarkannya syahwat dalam bentuk makanan yang lezat, pakaian, hiburan , dan minu-mnuman keras yang memabukkan, perjudian, prostisusi. dengan target utamanya menjadikan setiap hamba Allah yang sangat disenangi oleh-Nya beralih menjadi yang sangat dibenci Allah SWT. Kita berharap, mudah-mudah-an Ibadah saum kita akan dterima di sisi Allah SWT. Berbagai amaliah Ramadlan yang sudah dilakukan, akan mengantarkan kita tergolong sebagai hamba Allah yang berlabel ”Minal `Aidin wal Faizin”( yaitu kelompk hamba Allah yang kembali kepada posisi awalnya, yaitu suci, bersih bagaikan seorang bayi yang baru dilahirkan dari kandungan  ibunya,  karena telah terbebaskan dari noda dosa dan maksiat. Selain itu, masuk juga kepada kelompok yang tampil sebagai pemenang. Sebab, yang bersangkutan telah mampu mengendalikan hawa nafsunya  Sehingga, kehidupannya di muka bumi ini  semakin  berkualitas, baik karya, profesi, kekayaan, dan jabatan yang dimiliki akan semakin terasa manfaat dan maslahatnya, bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan agama. Mudah-mudah-an, berbagai aktifitas Ramadlan 1428 H yang telah dilakukan akan mampu mengawal dan mendampingi perjalanan kehidupan kita pada pasca Ramadlan, dan sekaligus kita berjuang semaksimal mungkin untuk mempertahankannya. Mudah-mudahan bangsa kita Indonesia tercinta akan selalu terbebaskan dari berbagai  musibah dan cobaan baik yang datangnya dari dalam maupun dari luar, menjadi negara yang sejahtera dan penuh berkah, baik pimpinan, seluruh lapisan masyaraka,t dan  rakyatnya selalu mendapat petunjuk dan Ridha Allah SWT menuju ” Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Gofur”. Selamat jalan  dan Selamat berpisah Ramadlan 1434 H!

 

 

 

   

 

Kontak Kami

Jln. Bersih No. 01 Cibinong-Bogor Cibinong
Jawa Barat 16330
Indonesia

email info@mui-bogor.org
telepon 021-879139001
fax 021-879139001
  http://www.mui-bogor.org

 

Langganan Berita

Langganan berita kami sekarang!