Kamis Safar 7 1440 | Kamis 18 Oktober 2018

ARTIKEL MUI

`Idul Fitri Merupakan Ajang Sillaturrahmi dan Evaluasi Diri Untuk Menggapai Rida Ilahi - Halaman 2

 

Allahu Akbar 3x Lailaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd.

 

            Kaum muslimin-muslimat rahimakumullah

 

            Tiada ungkapan yang paling indah untuk dikumandangkan di malam takbir, setelah umat Rasulullah SAW dapat melaksanakan dan menyelesaikan kewajiban ilahi, ibadah shaumu Ramadhan 1432 H (30 hari lamanya), kecuali ucapan kalimat takbir, kalimat tahlil dan kalimat tahmid.

 

            Ungkapan tersebut pada hakikatnya merupakan rasa syukur ke hadirat Allah SWT, Rabbul `alamin, atas kemenangan dan keberuntungan yang diperoleh setiap hamba Allah yang telah dapat mengisi dan menghiasai bulan Ramadhan   1432 H dengan berbagai aktifitas shiyamu dan qiyamu Ramadhan, shalat sunnah tarawih dan witir, dan berbagai salat sunnah lainnya, serta ibadah zakat fitrah, zakat mal, tadarrus al-Qur`an dan berbagai aktifitas sunah lainnya.

 

Kalimat takbir  merupakan manifestasi rasa syukur dari setiap insan hamba Allah yang telah mendapatkan limpahan nikmat dan karunia-Nya yang tak terhingga, baik berupa nikmat sehat, rizki, jabatan, dan kedudukan serta teristimewa nikmat taufik dan hidayah Allah SWT.      Hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT QS 29 Al-Baqarah) : 185

 

……….وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (البقرة\2: 185)

 

Artinya: … dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur.

 

            Dengan kalimat takbir ini, seorang hamba  Allah  menghinakan dirinya di hadapan kekuasaan Allah Swt. Tanpa melihat jabatan dan status sosial apapun yang disandangnya, semua bertekuk lutut di hadapan Allah, sang Maha Pencipta. Apa yang dimiliki dan disandangnya merupakan amanat dan titipan Allah, yang sewaktu-waktu bisa ditarik dan dicabut langsung oleh Allah Swt. Ternyata, Kepemilikan seorang hamba, tak sebanding dengan kekuasaan Allah SWT.

 

`Aidin Aidat, kaum Muslimin kaum Muslimat yang Insya Allah dimuliakan Allah SWT.

 

            `Idul Fitri yang memiliki arti kembali kepada kesucian, merupakan ajang perenungan jati diri dari setiap insan hamba Allah. Melalui perenungan dan muhasabah ini setiap orang akan selalu diingatkan dan disadarkan dengan munculnya beberapa pertanyaan, siapa sebenarnya diri ini? Untuk apa hidup di dunia ini? Lalu kemana akan pergi setelah ditinggalkan dunia yang sementara ini? Kampung mana yang akan dijadikan tempat berpulang? Ke kampung kebahagiaankah, surga yang penuh kenikmatan atau kampung penderitaan, neraka yang penuh kesengsaraan  dan siksaan?.

 

            Jawaban dari beberapa pertanyaan tersebut yang merupakan bentuk evaluasi diri ini akan tampak dari hasil ibadah shaumu Ramadhan yang dilaksanakan dengan penuh keimanan dan harapan akan Ridla Allah SWT  selama satu bulan penuh. Melalui ibadah puasa, setiap hamba Allah akan sadar, dirinya hanyalah merupakan bagian dari mahluk Allah yang diciptakan-Nya. Betapa lemah dan tak berdayanya hamba-Nya itu, jika Allah SWT tidak membantu, tidak memberikan pertolongan dan tidak mengangkat derajat dan posisi hambanya yang ia kehendaki. La Haula Wa La Quwwata illa billahil `Aliyyil `Azim (Tidak ada daya dan upaya kecuali daya dan kekuatan Allah SWT Yang Maha Tinggi Lagi Maha Agung).

 

         Kita sadar betul dengan pendidikan dan pelatihan ibadah saumu Ramadlan Allah SWT dengan kasih sayang-Nya telah mengingatkan kita untuk selalu waspada bahwa kehidupan duniawi yang sedang kita jalani ini bersifat sementara dan sangat terbatas. Di suatu saat, kehidupan duniawi ini akan ditinggalkan kita, atau ia akan meninggalkan kita terlebih dahulu. Kita diminta oleh Allah SWT untuk dapat mengantisipasi berbagai jebakan kehidupan duniawi  yang akan menyeret kita ke lembah kehinaan dan kenistaan yang lebih rendah posisinya  dari binatang, bahkan lebih hina. Dengan selalu memilah dan memilih makanan yang zatnya halal dan proses untuk mendapatkannya pun melalui proses yang halal, demikian juga minuman yang dikonsumsi, adalah minuman yang zatnya dan proses mendapatkannya melalui proses yang halal, demikian juga  pemenuhan kebutuhan biologis terhadap pasangan suami atau isteri. Melalui ibadah puasa Ramadlan kita dilatih untuk meninggalkan semua itu, jangankan terhadap yang haram, yang halal saja dilarang yang berlangsung kurang lebih 12 ½ jam atau 13 jam (750 menit) sejak mulai waktu Imsak sampai dengan waktu berbuka puasa. Kitapun sudah mengeluarkan zakat fitrah  untuk diri kita, anak isteri dan seluruh keluarga dan semua yang menjadi tanggungan kita dengan jumlah sangat sedikit 3¼ liter jika dibandingkan dengan berbagai nikmat Allah yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT kepada kita. Zakat fitrah begitu sangat menentukan akan eksistensi dan keberadaan puasa Ramadlan yang kita lakukan diterima oleh tidak oleh Allah SWT. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

 

صوم شهر رمضان معلّـق بين السمآء  و الأرض و لا يرفع إلاّ بزكاة الفطـر

 

Artinya: Puasa bulan Ramadlan itu tergantung antara langit dan bumi, dan tidak dapat diangkat melainkan dengan memberikan zakat fitrah.

 

          Sehingga diharapkan, hamba Allah yang telah dapat melaksanakan ibadah puasa Ramadlan dengan penuh ikhlas hanya untuk dan karena Allah, melaksanakan qiyamu Ramadlan, sekaligus telah mengeluarkan zakat fitrah, dan telah mengeluarkan zakat mal (bagi yang telah memenuhi haul dan nishabnya), maka posisinya seperti seorang bayi yang baru dilahirkan dari kandungan ibunya bersih, suci yang bebas dan terbebaskan dari berbagai polusi dosa dan kesalahan.

 

   

 

Kontak Kami

Jln. Bersih No. 01 Cibinong-Bogor Cibinong
Jawa Barat 16330
Indonesia

email info@mui-bogor.org
telepon 021-879139001
fax 021-879139001
  http://www.mui-bogor.org

 

Langganan Berita

Langganan berita kami sekarang!