Ahad Safar 29 1439 | Ahad 19 November 2017

ARTIKEL MUI

Obat, Dan Pengobatan Dalam Perspektif Hukum Islam

 

I.                   PENDAHULUAN

 

 Reformasi  yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad SAW 15 abad yang lalu melalui Risalah Islamiyyahnya, yang  berkait  dengan hidup dan kehidupan manusia adalah terwujudnya eksistensi kebahagiaan,  keselamatan, kesuksesan dan kenyamanan hidup di dunia dan akhirat.

Sehat jiwa (sehat rohaniah) yang terisi dan terpatri pada hati dan sanubarinya dengan a`aqidah al Islamiyyah ash-shahihah yang membebaskan  diri setiap insan hamba Allah untuk  tertunduk dan  bersimpuh di hadapan Allah SWT secara vertikal, melalui media shalat lima waktu, sebagai buah hasil dari peristiwa mukjizat Isra` dan mi`raj Nabi Muhammmad SAW.  Sikap mental yang selalu dilandasi dan terimplementasi dengan kalimatut-tauhid , La ilaha illallah (Tidak ada Tuhan yang wajib disembah melainkan Allah) akan mengusir dan mengikis serta mengantisipasi berbagai macam virus ruhaniyyah, semacam: virus al-kibr  wat-takabbur (sombong), al-hasad  (dengki/irihati), al-haqd (dendam), dan virus al-Ananiyyah (egoistik), dan yang sangat berbahaya adalah virus kemunafikan, virus kekafiran, serta visus kemusyrikan. Sehingga dalam situasi, kondisi dan posisi apapun seorang hamba Allah yang saleh akan selalu menggantungkan berbagai poroblematika kehidupannya kepada Yang Maha Kaya, Yang Maha Berkuasa, dan 97 Maha lainnya

 

Curhat Vertikal  selalu dilakukan dengan berbagai media ibadah, baik ibadah mahdhah kepada Allah SWT misalnya: shalat lima waktu, shalat-shalat sunnah, puasa Ramadhan dan puasa-puasa sunat, haji dan umrah, tilawah al-Qur`an, zikir dan doa, serta ta`lim, maupun ibadah sosial (ibadah ghaeru mahdhah) yang diberikan untun kepentingan kebutuhan hidup para dhu`afa, yatama,fuqara, dan masakin, seperti: zakat, infak, sodaqoh, wakaf, dan berbagai bantuan sosial lainnya.

 

            Di samping itu, sehat jasmaniah yang merupakan potensi dan kemampuan  seorang hamba Allah yang ikhlas dan penuh kesadaran untuk menjalankan aturan-aturan, norma-norma hukum syariah yang akan mengawal seseorang untuk melakukan berbagai aktiifitas dan perbuatan,  dimulai dari masa balignya, sejak bangun tidur sampai tidur kembali dan seterusnya sampai hayatnya terpisah dari jasadnya dalam posisi disayangi dan dimulyakan, serta diridhai oleh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Selain itu, diisi dan dihiasi oleh sehat moral (mental) untuk melakukan berbagai aktifitas yang penuh dengan berbagai hambatan dan kendala yang dilandasi oleh semangat Lillahita`ala. Sehingga sentuhan aktifitas hamba-Nya itu, dalam bentuk gagasan dan  pemikiran yang sehat, ucapan dalam bingkai kebenaran yang santun dan lembut dan prilaku yang ditampilkan, dengan tidak menyakiti hati siapapun, serta dapat dirasakan dampak positifnya baik untuk dirinya, masyarakat lingkungannya, bangsa dan negaranya.

 

 

 

B. Himbauan untuk selalu Hidup Bersih Menuju Hidup Sehat.   

 

 

 

            Ada kurang lebih 30 ayat secara berulang, Allah SWT menghimbau kepada setiap hamba-Nya untuk menjalani pola hidup bersih, baik bersih angggauta badan,  pakaian, tempat tinggal dan lingkungannya. Di samping itu, diperkuat dengan ratusan hadis-hadis Rasulullah yang berkait tentang kualitas hidup bersih, sehingga para fuqaha secara spesifik telah menempatkan pembahasan Kitab/Bab ath-taharah (hidup dan prilaku bersih), baik berkait dengan mekanisme bersuci, alat untuk bersuci, dan kotoran dan najis yang mengancam eksistensi kebersihan ( dalam bentuk najis ringan /mukhaffafah, atau najis sedang (mutawassitoh, atau najis berat mugallazhoh). Sehingga seseorang yang akan menghadap Allah dari ujung rambut sampai dengan ujung kakinya ketika mau melaksanakan shalat mesti terbebaskan badannya, pakaian yang dikenakan untuk shalatnya, dan tempat shalatrnya dari berbagai kotoran dan najis. Di samping itu, mekanisme bersucinya mesti benar sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW, dengan istinja`  setelah melakukan buang air kecil (BIK) atau buang air besar (BAB), melakukan mandi (al-gusl) baik dalam bentuk mandi biasa, atau mandi sunnah, atau mandi wajib untuk menghilangkan hadas besar (hadas akbar),  melakukan  berwudlu yang benar dengan melaksanakan rukun dan sunah-sunahnya, atau melaksanakan tayammum sebagai sebuah dispensasi hukum yang dilakukan ketika dalam keadaan sakit yang mengancam eksistensi jiwa ketika menggunakan air, atau dalam kondisi tidak ditemukannya air. Selain itu, juga mesrti dipergunakan alat-alat bersuci dengan memilah dan memilih watak air yang suci mensucikan (al-ma thahir muthahhir/al-ma` al-muthlaq) untuk mengangkat hadas besar dan mengangkat hadas kecil (berwudlu) dan hadas besar (mandi junub, mandi  setelah menjalanai masa menstruasi (al-haidh), dan setelah melahirkan (wiladah dan nifas). Sehingga ketika wudhunya sah maka akan mengantarkan ibadah shalatnya, thawafnya,, tilawah al-Qur`annya  bernilai sah, i`tikaf zikir dan doanya juga bernilai sah, bahkan setiap hamba Allah untuk selalu memposisikan dirinya dalam keadaan bersih dalam keadaan dawam al-wudhu (melestarikan wudhu). Sehingga diharapkan setiap jam, menit, dan detiknya kehidupan hamba-Nya yang dicintai dan dimuliakan-Nya itu dalam keadaan bersih dan dekat denganNya, yang akan dirinya bersih jasmani dan rohani, lebih dari itu sehat jasmani dan rohaninya, terbebaskan dari belenggu kehidupan yang penuh maksiat dan dosa.

 

   

 

Kontak Kami

Jln. Bersih No. 01 Cibinong-Bogor Cibinong
Jawa Barat 16330
Indonesia

email info@mui-bogor.org
telepon 021-879139001
fax 021-879139001
  http://www.mui-bogor.org

 

Langganan Berita

Langganan berita kami sekarang!