Kamis Safar 7 1440 | Kamis 18 Oktober 2018

ARTIKEL MUI

Obat, Dan Pengobatan Dalam Perspektif Hukum Islam - Halaman 2

 

            Di samping itu, setiap insan hamba Allah dihimbau  untuk mengkonsumsi makananan dan minuman sebagai sebuah rizki yang halal dan yang thayyib (yang layak dan cocok untuk anggota tubuh) yang berfungsi sebagai gizi jasmani, yang dapat menumbuh kembangkan anggauta tubuh jasmaninya yang sehat dan kuat untuk mengisi gizi ruhaninya untuk menjadikan sehat dan kokoh rohaninya dalam mengabdi dan beribadah kepada-Nya.  Oleh sebab itu, begitu sangat sayang kepada hamba-Nya dengan  melarang dan mengharamkan secara tegas untuk mengkonsumsi makanan, minuman, yang masuk melewati kerongkongan dan perutnya dan bahkan lebih dari itu, melakukan hubungan biologis dengan pasangan yang haram (tanpa ikatan akad nikah yang legal dan sah), yang semuanya akan mengancam eksistensi agama, eksistensi jiwa dan  eksistensi akalnya, bahkan eksistensi kehormatan dan keturunannya.  Juga tidak kalah pentingnya, proses dan mekanisme memperoleh makanan, minuman, dan pasangan suami-isteri apakah bertentangan dengan hukum syariah dan juga hukum positif yang berlaku. Sehingga dalam memperoleh pendapatan dan kekayaan tidak menzalimi hak-hak pihak lain secara tidak adil, semisal: Rizki yang diperoleh melalui pencurian, penipuan, atau perampokan, dan apalagi melalui perkorupsian, seteguk  air minum dan sesuap nasi yang bersumber dari yang  haram yang bukan haknya itu akan menjadi api panas yang menyengat, yang menyebabkan  hidup pelakunya gundah, gelisah dan stress, merasa tidak indah dan tidak nyaman terhadap apa yang dimilikinya itu.

 

            Di samping itu, pendistribusian dan pendayagunaan rizki yang diperoleh apakah digunakan untuk poya-poya, penuh dengan maksiat dan dosa, atau dipergunakan untuk  kebaikan dan kebajikan yang dapat dirasakan oleh dirinya, keluarganya dan masyarakatnya. Pada umumnya, rizki yang di peroleh yuang bersumber dari yang haram itu akan cepat habisnya. Sebaliknya, rizki yang bersumber dari yang halal itu akan nyaman dinikmatinya, mempunyai manfaat bagi sesama, dan terus berlimpah dalam kebaikan dan keberkahan dari Allah SWT. Sehingga hidup sehat dalam perspektif agama kita, jasmaninya sehat yang ditunjang oleh ekonominya yang sehat, dan diharapkan ruhaninya sehat untuk menuju kehidupan duniawi yang sangat sementara ini penuh dengan kebahagiaan, dan kehidupan ukhrawi penuh dengan kepuasan dibawah Ridha Allah SWT yang layak dan pantas menghuni surga-Nya, Jannat an-na`im. Semua ini dapat dimanifestasikan melalui ibadah shaum, khususnya ibadah shaum Ramadlan yang tinggal beberapa minggu lagi kita akan memasasukinya, dan puasa sunah lainnya sebagai media pelatihan pengendalian syahwat hawa nafsu yang akan dapat menjebak setiap insan untuk terperosok dalam lembah kehinaan dan kehancuran kehidupan dunia dan akhirat. Na`uzubillah.

 

 

 

C. Sakit, Obat dan Pengobatan.

 

 

 

            Sehat jasmani dan rohani  merupakan nikmat Allah yang sangat mahal yang dikaruniakan kepada setiap hamba-Nya secara gratis dan sulit untuk menghitung dan apalagi mau membayarnya. Sedangkan, sakit (al-maridh/as-saqam) , dalam perspektif agama Islam, dimaknai sebagai sebuah hikmah dan bahan muhasabah (evaluasi diri) bahwa siapapun hamba Allah dalam posisi tidak berdaya ketika dalam keadaan sakit, baik sakit ringan, sakit sedang, apalagi sakit yang kronis yang sudah mengancam eksistensi jiwanya yang sudah terbaring, dan bahkan terkapar di pembaringan, yang hanya dapat ditangisi oleh istreri/suami dan sanak saudara. Sehingga sakit/penyakit itu menjadi sebuah hikmah, sebuah ujian/test dan cobaan (imtihan wa ibtilaan) bagi siapapun hamba-Nya, apakah dia seorang yang kaya raya, pejabat, ulama, intelektual, pengusaha,rakyat biasa atau  dhu`afa, untuk menjadikan sakit itu sebagai sebuah hikmah untuk lebih  diposisikan  Allah SWT sebagai tempat meminta, bermunajat, dan tempat mengajukan berbagai keluhan dan problem, sehingga melalui sakit, Allah SWT akan mendengar rintihan, manja dan cengengnya sosok seorang hamba-Nya. Seorang hamba yang belum pernah mengalami sakit dalam sepanjang hidupnya secara establish, selalu sehat maka boleh jadi dia tidak dapat mensyukurinya. Sehingga dia bertepuk dada,, sombong bahkan menganggap dirinya sakti sebagai Tuhan, sebagai yang telah dilakukan oleh Fir`aun.

 

   

 

Kontak Kami

Jln. Bersih No. 01 Cibinong-Bogor Cibinong
Jawa Barat 16330
Indonesia

email info@mui-bogor.org
telepon 021-879139001
fax 021-879139001
  http://www.mui-bogor.org

 

Langganan Berita

Langganan berita kami sekarang!