Kamis Safar 7 1440 | Kamis 18 Oktober 2018

ARTIKEL MUI

Obat, Dan Pengobatan Dalam Perspektif Hukum Islam - Halaman 3

 

            Di samping itu, orang yang sakit diharapkan dapat mengevaluasi adanya sesuatu yang salah dan tidak pas karena mengabaikan pola makan dan minum yang tidak benar, bahkan apa saja masuk yang halal dan yang haram, atau melakukan hubungan biologis di luar akad nikah sehingga terancam penyakit kelamin, HIV dan Aids.  Pada akhirnya, orang yang sakit itu memilih dua pilihan sesuai dengan izin dan kehendak Allah SWT, apakah dia akan sembuh dan pulih kembali dari sakitnya, atau sebaliknya sebagai faktor penyebab kematiannya, wafat kembali kepada al-Khaliq Rabbul `alamin, Inna Lillahi wa Inna Lillahi Raji`un.

 

            Rasulullah Muhammad SAW yang sangat disayangi oleh Allah SWT sebagai uswah dan qudwah bagi kita umatnya hanya diberikan amanah jatah hidup kurang lebih 63 tahun, tidak seperti nabi dan rasul sebelumnya hidup dalam rentangan ratusan tahun. Kehiduapan Rasulullah yang berlangsung singkat namun sangat berkualiatas dalam berbagai aspek kehidupan beliau yang sulit dilukiskan ini memberikan pembelajaran kepada umatnya untuk selalu jadikan waktu-waktu hidup yang masih tersisa   ini menjadi manfaat dan maslahat untu diri pribadi, keluarga, masyarakat bangsa dan Negara, sehingga pada klimaksnya tinggalkan dunia ini dalam keadaan husnul khatimah yang diridhai oleh Allah SWT dan didoakan oleh semua keluarga, saudara yang masih hidup.

 

             Berkait dengan soal sakit dan penyakit ini, Allah SWT tidak menghendaki hamba-Nya membiarkan dirinya ketika sakit,  hanya penuh bertawakkal, berserah diri kepada-Nya, akan tetapi diminta, dan bahkan diwajibkan untuk berikhtiar, berusaha maksimal untuk dapat menyembuhkan penyakitnya. Secara khusus Rasulullah SAW meminta kepada sahabatnya dan umatnya untuk berobat ketika sakit, karena setiap penyakit itu pasti ditemukan obatnya. Ketika tidak berikhtiar, maka hamba Allah tersebut dianggap telah menghancurkan dirinya, dan bahkan membunuh dirinya disebabkan oleh sebab sakit dan penyakitnya itu menjadi yang bersangkutan meninggal dunia. Di pihak lain, sakit dan penyakit serta resep obatnya ini menjadi tantangan tersendiri bagi para intelektual dalam bidang ketabiban dan kedokteran untuk menemukan faktor penyebab sakitnya (disebabkan oleh virus, bakteri), atau disebabkan oleh pola makan dan minum yang terlarang, atau ada faktor tekanan psikologis, arau ada intervensi jin/syaitan baik passif maupun aktif. Sehingga dengan penyakit ini menjadi hikmah tersenidir, bagi dunia ketabiban dan kedokteran dengan hadirnya Rumah sakit dan juga farmasi yang berkait dengan obat-obatan. Para ulama Islam, semisal: Ibnu Sina (Avicena), dan Ibn Rusyd (Averoes) dengan menulis kitab al-kulliyyatnya yang mengurai tentang obat dan   pengobatan berdasarkan pesan-pesan teks ayat Al-Qur`an dan Hadis Nabi, serta praktek Rasulullah dalam bentuk tib an-nabawi. Sehingga konsep dan penemuan para ulama Islam, khususnya Ibn Rusyd ini menjadi bahan dan cikal bakal  pengembangan dunia kedokteran di Eropa dan dunia modern kini.

 

            Adapun solusi untuk mengantisipasi secara prepentif dan mengatasi secara kuratif terhadap  penyakit itu, adalah:

 

  1. Orang yang sakit itu mesti jadikan penyakit ini sebagai sebuah hikmah dan muhasabah, untuk terus berhusnuzzan bahwa yang bersangkutan yakin kepada Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk sembuh kembali. Pada hakikatnya yang menyembuhkan derita penyakitnya itu adalah Allah SWT.
  2. Dengan memperbanyak istigfar atas berbagai kealpaan, maksiat dan dosa yang dilakukan, membaca zikir dan doa yang ma`tsur sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW, dengan mengkonsumsi  minuman air putih, ikhlas dengan membaca sebelumknya surat al-fatihah, yang dikenal dengan surat asy-Syifa (penyembuhan) sebelum meminumnya.
  3. Jika masih belum sembuh, konsultasi kepada ahlinya yang berkompetensi dalam bidang ketabiban dan kedokteran untuk berikhtiar baik rawat biasa, maupun rawat inap. Dengan tetap mantapkan semangat husnuzzan Allah SWT akan masih memberi kesempatan swembuh, untuk didayagunakan kesempatan ribadah, dan hal-hal yang positif lainnya.
  4. Memilah dan memilih sistem pengobatan yang tidak membawa kepada kemusyrikan dengan mempersyaratkan sesuatu yang tidak rasional dan mengada-ngada (tetapi di balik itu ada penipuan), demikian juga obat yang digunakan adalah obat yang halal, baik yang nabati, maupun yang hewani, yang diproduk dari bahan-bahan yang halal. Diharapkan obat yang dapat menyembuhkan terhadap obyek sebuah penyakit, tidak mempunyai side effect kepada penyakit lainnya.
  5. Jika ikhtiar melalui pengobatan dan tersebut dikabulkan oleh Allah SWT sembuh, Insya Allah kesembuhan tersebuhan tersebut akan disyukuri untuk lebih meningkatkan lagi amal salih, dan ibadah kepada-Nya. Jika tidak sembuh, maka diakhiri kehidupan ini dengan penuh tawakkal dengan disefrtai dengan ikhtiar, dan kembali ke hadirat Allah SWT dalam penuh kepuasan, penuh dengan nilai-nilai kesalehan, dengan membawa predikat "husnul-Khatimah". Amin Ya Rabbal `alamin.

 

                                                Mesjid Raya Pondok Indah, Rabu, 27 Rajab 1432 H

 

   

 

Kontak Kami

Jln. Bersih No. 01 Cibinong-Bogor Cibinong
Jawa Barat 16330
Indonesia

email info@mui-bogor.org
telepon 021-879139001
fax 021-879139001
  http://www.mui-bogor.org

 

Langganan Berita

Langganan berita kami sekarang!