MUI-BOGOR.ORG – Gadget atau gawai yang semakin canggih membuat kita semakin mudah mendapatkan banyak informasi, namun keberlimpahan informasi ini justru tidak membuat kita tercerahkan. Kita harus lebih cermat dan teliti kembali saat menerima informasi. Tidak hanya orang yang berpendidikan rendah, orang yang berpendidikan tinggi sekalipun bisa terkena fake news atau berita palsu.
Kita hidup di zaman yang penuh paradoks. Teknologi informasi merajalela, tapi informasi benar justru kian langka. Data berserakan di dunia maya, tapi hikmah dan adab kian tenggelam. Inilah zaman ketika berita hoaks bisa menjadi lebih dipercaya ketimbang fatwa ulama, ketika ustadz Instagram lebih didengar daripada imam masjid.
Masyarakat semakin sedikit yang datang ke langgar untuk bertanya kepada ulama atau kiai, melainkan membuka layar gadget kemudian bertanya kepada Artificial Intelligence atau AI. Padahal jawaban-jawaban dalam AI banyak sekali kemungkinan untuk salah, karena AI hanya merangkum informasi-informasi yang berlimpah dari sumber-sumber yang tidak semuanya benar.

Pernyataan itu disampaikan oleh Darmawan Sepriyossa, wartawan senior yang kini menjadi host Podcast Madilog, pada Studium General Pendidikan Kader Ulama (PKU) Angkatan XIX MUI Kabupaten Bogor, di Balai Diklat Dharmais, Sukaraja, Sabtu (26/7/2025).
Oleh sebab di atas, Darmawan mengajak para kader ulama untuk menguasai literasi digital. Literasi digital tidak sesempit kemampuan membuka browser dan memahami aplikasi. Dalam konteks dakwah, literasi digital adalah kesanggupan membaca realitas digital dengan nalar Islam.
“Ulama hari ini tak hanya cukup dengan kemampuan membaca kitab kuning. Ulama harus bisa membaca tren, membaca data, membaca emosi kolektif umat yang digiring oleh clickbait dan buzzer, membaca algoritma YouTube, menyelami big data, memahami logika viralitas dan SEO,” ujar ex wartawan tempo tersebut.
Darmawan memantik diskusi para peserta PKU Angkatan XIX dengan pernyataan, “jika Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya hadir hari ini, boleh jadi mereka akan membuat kanal YouTube, berdakwah lewat podcast. Jika kader ulama hari ini tidak disiapkan untuk menjadi pemain utama di medan digital, maka medan itu akan diisi oleh mereka yang tidak beradab, tak punya sanad, tak punya kemauan membela yang benar,” pungkasnya. (fw)