Bencana: Teguran Alam atau Ujian Keimanan?

Bencana: Teguran Alam atau Ujian Keimanan?

MUI-BOGOR.ORG – Musibah yang menjadi bencana alam seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran hutan, hingga kekeringan sering kali dipandang semata sebagai peristiwa alam biasa. Dalam kacamata Islam, melihat bencana alam tidak sesederhana itu, ia bukan hanya soal rusaknya bumi, namun juga cermin hubungan antara manusia dengan Allah SWT dan dengan alam ciptaan-Nya.

Bencana alam merupakan sunnatullah yang mengandung hikmah dan peringatan keras bagi manusia agar kembali menata iman dan perilakunya. Al-Qur’an menegaskan bahwa di balik sebuah bencana yang terjadi mengandung hikmah dan makna. Allah SWT berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah SWT merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Rum [30]: 41).

Ayat di atas memberikan pesan teologis yang kuat, sebagian bencana adalah konsekuensi dari keserakahan manusia berupa eksploitasi alam, pengabaian keseimbangan eskosistem, dan abainya menjaga amanah sebagai khalifah di bumi. Namun, Islam juga menegaskan bahwa tidak semua bencana alam adalah hukuman, ada bencana alam yang menjadi ujian keimanan dan sarana penghapus dosa.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, gangguan, maupun kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah SWT hapuskan dengannya sebagian dosa-dosanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Hadits ini menanamkan optimisme, bahwa sebuah musibah yang menjadi bencana bukan akhir segalanya, melainkan pintu rahmat bagi orang yang bersabar dan bertawakal.

Sayangnya, dalam realitas hari ini, musibah yang menjadi bencana sering kali hanya direspons dengan emosi sesaat. Solidaritas muncul di awal, lalu perlahan menghilang, tanpa refleksi mendalam. Padahal, para ulama telah lama mengingatkan bahwa bencana yang terjadi seharusnya melahirkan muhasabah kolektif.

Imam Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab Zad al-Ma’ad menjelaskan bahwa bencana memiliki fungsi tarbiyah ilahiyah, untuk membersihkan kesombongan manusia dan mengembalikannya pada ketergantungan penuh kepada Allah SWT. Dalam konteks sosial, Islam tidak membenarkan sikap fatalistik yang pasrah tanpa ikhtiar. Nabi SAW mengajarkan keseimbangan antara iman dan usaha. Ketika seorang sahabat bertanya apakah untanya ditambatkan atau bertawakal saja, Rasulullah SAW menjawab: “Ikatlah ia, lalu bertawakallah.” (HR. at-Tirmizi).

Prinsip ini relevan dalam melihat sebuah bencana, iman harus mendorong mitigasi, edukasi, dan kepedulian terhadap lingkungan, bukan sekadar pasrah tanpa perbaikan sistem. Lebih jauh, bencana juga menguji kepekaan sosial. Al-Qur’an mengecam keras sikap abai terhadap penderitaan (QS. al-Ma’un [107]: 1-3). Maka, kepedulian terhadap korban bencana bukan hanya aksi kemanusiaan, tetapi menjadi nilai ibadah yang bernilai tinggi.

Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Uluum ad-Din menegaskan bahwa empati dan tolong-menolong adalah bukti hidupnya iman dalam hati seorang muslim. Dalam pandangan Islam, bencana memiliki pesan multidimensi, yakni ujian keimanan, peringatan moral, dan panggilan untuk bertanggung jawab sebagai khalifah di bumi ia tidak boleh disikapi dengan keputusasaan, apalagi pengingkaran.

Sebaliknya, musibah harus melahirkan kesabaran, solidaritas, dan perubahan nyata dalam cara manusia memperlakukan alam dan sesama. Di situlah letak kedewasaan spiritual umat mampu membaca bencana bukan hanya dengan mata, tetapi dengan iman dan akal sehat. Wallahu a’lam bi ash-showab.

Referensi:

  • Al-Qur’an al-Karim
  • HR. al-Bukhari dan Muslim
  • Kitab Zad al-Ma’ad
  • HR. at-Tirmizi
  • Kitab Ihya Uluum ad-Din
  • Kitab Al-Qurṭubi, al-Jami’ li Aḥkam al-Qur’an
Penulis: Arman Nadziri, M.Pd. (Dosen STEMBI Bandung/Mahasiswa PKU MUI Kabupaten Bogor Angkatan XIX)
Penulis: Arman Nadziri, M.Pd. (Kader PKU Angkatan XIX)