MUI-BOGOR.ORG – Banyak orang menganggap puasa hanyalah soal memindahkan jam makan atau sekadar ritual melatih kesabaran. Namun, riset kesehatan terbaru mengungkapkan fakta yang jauh lebih mendalam. Di balik rasa lapar yang dirasakan, sebenarnya sedang terjadi transformasi biologis besar-besaran di dalam tubuh manusia.
Ibarat sebuah rumah, tubuh yang terus-menerus diisi makanan tanpa henti lama-kelamaan akan menjadi kotor dan penuh sampah. Puasa hadir sebagai momen krusial bagi tubuh untuk berhenti sejenak, melakukan pembersihan total, hingga tahap renovasi seluler.
Secara biologis, saat seseorang berhenti makan selama beberapa jam, energi tubuh tidak lagi tersita untuk proses pencernaan yang melelahkan. Di sinilah keajaiban dimulai.
Merujuk pada riset dalam jurnal Nature Reviews Molecular Cell Biology (2025), puasa memicu mekanisme pembersihan seluler yang disebut sebagai sistem penghancuran mandiri yang cerdas. Sel-sel tubuh akan mendaur ulang protein-protein rusak serta komponen sel yang sudah tua.
Tak hanya membersihkan sampah, puasa juga berfungsi sebagai agen peremajaan bagi mitokondria atau pabrik energi sel. Berdasarkan ulasan dalam jurnal Cell Metabolism, puasa merangsang pembentukan mitokondria baru yang jauh lebih sehat. Hal ini tidak hanya membuat tubuh terasa lebih bertenaga, tetapi juga membantu sel dalam melawan stres oksidatif yang menjadi penyebab utama penuaan dini.
Manfaat puasa juga merambah pada kesehatan metabolisme, khususnya dalam menjaga stabilitas gula darah. Artikel dalam The New England Journal of Medicine mengungkapkan bahwa puasa membantu sel-sel tubuh menjadi jauh lebih sensitif terhadap insulin.
Dengan meningkatnya sensitivitas ini:
- Efisiensi Glukosa: Sel tubuh dapat menyerap gula secara lebih efisien.
- Beban Pankreas Berkurang: Mengurangi risiko kelelahan organ penghasil insulin.
- Proteksi Diabetes: Meminimalisasi risiko penyakit diabetes tipe 2 secara signifikan.
Sementara itu, bagi kesehatan otak, puasa terbukti memberikan “nutrisi premium”. Jurnal Nature Reviews Neuroscience membeberkan bahwa saat berpuasa, tubuh menghasilkan zat bernama BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor). Zat ini berperan layaknya pupuk alami bagi otak yang mendukung pertumbuhan sel saraf baru, memperkuat daya ingat, serta meningkatkan ketahanan otak terhadap tekanan mental maupun stres.
Benang merah dari berbagai temuan ini menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar demi mengejar pahala. Puasa adalah bentuk nyata rasa syukur kepada Sang Pencipta dengan cara menjaga “rumah” pemberian-Nya agar tetap kuat dan bugar.
Dengan memberikan waktu bagi sel untuk berbenah dan beregenerasi secara berkala, fisik manusia akan menjadi lebih siap dan konsisten dalam menjalankan pengabdian serta aktivitas sehari-hari.
Sumber : NU Online

