Thursday, 10 September 2026

Dari Peristiwa Menjadi Berita, Dr. Dede Fahrurozi Bekali PKU 20 Teknik Jurnalistik Dakwah

Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:54 WIB
Istikhoriyah Aulia Putri
ISTIKHORIYAH AULIA PUTRI Tim Redaksi

Sukaraja, MUI Online – Pendidikan Kader Ulama (PKU) Angkatan XX MUI Kabupaten Bogor kembali menghadirkan pembelajaran Jurnalistik Dakwah bersama Dr. H. Dede Fahrurozi, M.Si. dengan tema “Teknik Menulis Berita Jurnalistik Dakwah: Dari Peristiwa Menjadi Berita” yang diselenggarakan di Balai Diklat Dharmais, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Minggu, 16 Agustus 2026.

Dede Fahrurozi menjelaskan bahwa sebuah peristiwa tidak serta-merta dapat menjadi berita. Dibutuhkan proses jurnalistik yang dimulai dari menemukan fakta, melakukan verifikasi, mengolah informasi, hingga menyajikannya kepada publik secara akurat dan bertanggung jawab.

Dr. H. Dede Fahrurozi, M.Si. menyampaikan materi  (Foto: Tim Media PKU 20)

Dia menegaskan bahwa seorang jurnalis dakwah harus memiliki ketelitian dalam menerima informasi. Berita yang baik bukan berasal dari dugaan atau sekadar opini, melainkan dibangun berdasarkan data dan fakta yang telah diperiksa kebenarannya.

“Jangan menulis sebelum membaca. Jangan membuat berita kalau belum lihat data. Jangan menulis sebelum menemukan fakta,” ujar pria yang akrab disapa Kang Defah tersebut.

Menurut Kang Defah, dalam menulis berita terdapat sejumlah unsur yang perlu diperhatikan agar sebuah peristiwa memiliki nilai berita, seperti aktualitas, kedekatan, tokoh, dampak, konflik, keunikan, human interest, ketokohan, serta magnitude.

Alumni PKU angkatan pertama tersebut juga menjelaskan bahwa kemampuan memilih sudut pandang atau angle juga menjadi bagian penting dalam proses penulisan berita. Seorang jurnalis perlu menentukan fokus utama dari sebuah peristiwa agar informasi yang disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh pembaca.

Suasana Perkuliahan PKU Angkatan XX. (Foto: Tim Media PKU 20)

“Menulis itu menyampaikan persepsi atau analisa kita pada tulisan, tetapi persepsi tersebut harus dibangun dari bacaan, data, dan fakta yang kuat,” jelasnya.

Dalam konteks jurnalistik dakwah, lanjutnya, seorang penulis tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan pesan yang memberikan nilai edukasi dan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, jurnalis dakwah perlu mengedepankan sikap objektif, beretika, dan bertanggung jawab dalam menyampaikan berita.

Editor: Istikhoriyah Aulia Putri
Kontributor: Ade Mutiah