Sukaraja, MUI Online – Pendidikan Kader Ulama (PKU) Angkatan XX MUI Kabupaten Bogor memasuki pertemuan kedua yang diselenggarakan pada Sabtu, 8 Agustus 2026 di Balai Diklat Dharmais, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor.
Pada pertemuan kedua ini diselenggarakan Stadium General yang menghadirkan seorang Filolog Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban yang membawakan tema “Sanad dan Jaringan Ulama Bogor Abad ke-17 hingga Abad ke-20”.
Dalam pemaparannya, Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban mengajak peserta PKU untuk melihat sejarah ulama Bogor bukan hanya dari sisi tokoh dan makam, tetapi juga melalui jaringan keilmuan, sanad, manuskrip, perjalanan, serta berbagai peninggalan sejarah yang dapat menjadi sumber untuk merekonstruksi perjalanan intelektual islam di nusantara.

Salah satu pembahasan menarik adalah keterkaitan Syekh Yusuf al-Makassari dengan wilayah Priangan. Perjalanan Syekh Yusuf dari Banten menuju Priangan Timur menunjukkan bahwa wilayah Bogor memiliki posisi dalam lintasan jaringan keilmuan dan sejarah Islam di Jawa Barat.
Menariknya, Dr. Ginanjar juga mengungkapkan bahwa para ulama terdahulu memiliki kedalaman intelektual yang tidak kalah dengan tradisi akademik modern.
“Berbagai persoalan yang mereka kaji bahkan membahas tema-tema filsafat, termasuk persoalan eksistensialisme. Hal tersebut menjadi pengingat bahwa tradisi intelektual ulama Nusantara memiliki kekayaan yang sangat besar dan tidak selayaknya dipandang sebelah mata,” ujarnya.
Dalam menelusuri sejarah ulama nusantara, Dr. Ginanjar melanjutkan, berbagai sumber dapat digunakan, mulai dari manuskrip, kitab-kitab terjemahan, makam, bentuk nisan, khat pada nisan, riwayat keluarga, hingga tradisi lisan.

“Namun, sumber-sumber tersebut tetap perlu diteliti dan dibandingkan secara kritis untuk memastikan validitas sejarah dan sanad yang ditemukan,” tuturnya.
Melalui materi ini, peserta PKU diajak untuk tidak hanya mengenal “siapa guru dan siapa murid”, tetapi juga memahami bagaimana ilmu, pemikiran, dan tradisi keilmuan islam diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kajian sanad dan jaringan keilmuan ulama nusantara penting bukan untuk membanggakan sejarah masa lalu, melainkan untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual para ulama nusantara dan menjadikannya pijakan bagi kader ulama dalam menghadapi tantangan keilmuan dan kehidupan masyarakat hari ini.
Editor: Faisal Wibowo
Kontributor: Agung Maulana Mansyur








