Saturday, 13 June 2026

Jelang Idul Adha, Pakar IPB Ingatkan Pentingnya Penyembelihan Qurban yang Higienis dan Ramah Hewan

Jumat, 15 Mei 2026 | 15:15 WIB
admin
ADMIN Tim Redaksi

MUIOnline – Menjelang pelaksanaan penyembelihan hewan qurban pada Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriyah dan hari Tasyrik, umat Islam diimbau memperhatikan aspek kebersihan, keamanan pangan, serta kesejahteraan hewan dalam proses penyembelihan hingga penanganan hasil qurban.

Pakar peternakan dari IPB University, Dr. Ir. Henny Nuraini, M.Si., mengatakan proses penyembelihan hewan qurban harus dilakukan sesuai prinsip ihsan atau animal welfare guna menjaga kualitas daging dan mencegah kontaminasi.

“Untuk melakukan pemotongan hewan yang sesuai dengan prinsip ihsan atau kesejahteraan hewan ada beberapa hal penting yang perlu dipersiapkan,” kata Henny seperti dilansir MUI Digital di Jakarta, Jumat (15/5/2026).

Dr. Ir. Henny Nuraini, M.Si. (Foto: www.researchgate.net)

Ia menjelaskan, lokasi penyembelihan harus memenuhi sejumlah persyaratan, seperti berada di tempat yang aman, tidak mengganggu ketertiban umum, memiliki area cukup untuk menampung ternak hidup, tersedia akses air bersih, serta fasilitas pemotongan yang memadai.

Selain itu, alur kerja penyembelihan juga perlu diatur dengan baik agar tidak terjadi kontaminasi silang antara area kotor dan area bersih.

“Siapkan alur kerja sehingga tidak mengontaminasi dari area kotor ke area bersih,” ujarnya.

Henny menambahkan, hewan qurban perlu diistirahatkan dan dipuasakan dari pakan sebelum disembelih. Menurutnya, ternak cukup diberi minum selama masa puasa pakan tersebut.

“Selama 8–12 jam menjelang pemotongan, ternak dipuasakan dari pakan dan cukup diberi minum. Pemuasaan bertujuan mengurangi isi saluran pencernaan sehingga tidak mengontaminasi karkas,” jelasnya.

Periset dan pelatih di Pusat Kajian Halal IPB University itu juga menyarankan agar proses penyembelihan dilakukan di area terbatas untuk mengurangi stres pada hewan.

“Area penyembelihan dibuat tertutup, hanya petugas dan pequrban saja yang masuk, untuk mengurangi stres pada ternak,” katanya.

Dalam penanganan daging qurban, Henny menekankan pentingnya penerapan prosedur higienis dan sistematis. Ia menyarankan penggunaan metode FIFO (first in first out) agar karkas yang pertama diproses segera dipisahkan antara daging dan tulangnya.

“Siapkan area penanganan daging, lantai diberi alas, dibuat alur kerja dengan metode FIFO, karkas yang pertama diproses segera ditangani untuk dipisah daging dan tulangnya,” ujarnya.

Auditor halal LPPOM MUI itu juga mengingatkan agar petugas menggunakan alat pelindung diri (APD) serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan selama proses berlangsung.

“Petugas dapat menggunakan APD minimal masker, tutup kepala, dan apron, serta menjaga kebersihan diri dan area sekitar,” ucapnya.

Terkait penanganan jeroan, Henny menegaskan perlunya area khusus agar tidak terjadi kontaminasi silang dengan daging.

“Disiapkan area terpisah untuk menangani jeroan. Jeroan dibersihkan, dipisah sesuai jenisnya, lalu dikemas terpisah dengan daging dan tulang,” katanya.

Selain itu, limbah hasil penyembelihan juga harus dikelola dengan baik agar tidak mencemari lingkungan. Menurut Henny, limbah terdiri dari limbah padat seperti feses dan isi saluran pencernaan, serta limbah cair berupa darah dan air cucian.

“Disiapkan alur penanganan limbah sehingga tidak mencemari lingkungan,” ujarnya.

Ia menambahkan, limbah padat yang jumlahnya cukup banyak masih dapat dimanfaatkan menjadi pupuk untuk digunakan di lingkungan sekitar.

“Jika limbah padat cukup banyak, dapat diproses menjadi pupuk untuk digunakan di lingkungan sekitar,” tuturnya.

Editor: Sadam Al Ghifari-Faisal Wibowo