Thursday, 20 August 2026

John Esposito Ubah Cara Pandang Barat terhadap Islam

Minggu, 19 Juli 2026 | 09:00 WIB
admin
ADMIN Tim Redaksi
Oleh:
Nader Hashemi, Direktur Prince Alwaleed bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding dan Profesor bidang Politik Timur Tengah di Universitas Georgetown, Amerika Serikat.

MUI Online – John Esposito adalah seorang akademisi awal yang berani melawan misrepresentasi orientalis terhadap Islam dan umat Muslim di era polarisasi yang mendalam. Pakar terkemuka di bidang agama dan hubungan internasional dari Universitas Georgetown ini wafat pada 15 Juli 2026 akibat komplikasi pascaoperasi jantung.

Sebagai intelektual besar, ia telah menerbitkan lebih dari 55 buku yang mayoritas diterbitkan oleh Oxford University Press dan diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa. Esposito secara unik membentuk studi modern tentang Islam dan masyarakat Muslim selama akhir abad ke-20 serta awal abad ke-21.

Kontribusi terbesarnya terletak pada bidang hubungan Islam-Barat, terutama saat terjadi gesekan global pasca-Revolusi Islam Iran 1979 dan peristiwa 9/11. John lahir dari keluarga kelas pekerja Italia-Amerika di Brooklyn, New York, pada tahun 1940.

Pandangan dunianya dibentuk oleh sang ibu yang merupakan seorang Katolik taat, serta komitmen ayahnya terhadap keadilan sosial. Ia sempat bercita-cita menjadi pastor Katolik dan bergabung dengan Ordo Fransiskan Kapusin yang ketat sebelum akhirnya memilih jalur pascasarjana.

Ia kemudian meraih gelar doktor dalam studi agama di Universitas Temple di bawah bimbingan Ismail al-Faruqi, mendiang pakar agama asal Palestina-Amerika. Pada awalnya, keluarga dan teman-teman John sempat mempertanyakan pilihan karier tersebut karena mengkhawatirkan prospek kerjanya.

Saat ia memasuki pasar kerja pada 1974, hanya ada satu lowongan pekerjaan yang diiklankan untuk bidang studi Islam. Kala itu, studi agama khususnya Islam masih absen di banyak lembaga perguruan tinggi, dan program hubungan internasional pun mengabaikan peran agama dalam urusan global.

Bercerita adalah salah satu dari sekian banyak minat Profesor Esposito. Ketika mengenang perjalanan kariernya, ia sering kali berseloroh bahwa mata pencariannya berutang kepada dua tokoh Muslim “radikal” terkenal, yaitu Ayatullah Khomeini dari kalangan Syiah dan Osama bin Laden dari kalangan Sunni.

Pasca-Revolusi Islam 1979 di Iran, minat Barat terhadap hubungan antara Islam dan politik langsung melonjak tajam. Hal yang sama kembali terjadi setelah peristiwa 9/11, yang membuat keahlian John mendadak sangat dibutuhkan oleh dunia.

Ia merespons momentum tersebut dengan menerbitkan beberapa buku pelopor mengenai hubungan Islam dan politik, nilai-nilai normatif Islam, serta struktur politik-sosial masyarakat Muslim. Namanya kerap dikutip oleh berbagai media massa, dan pandangannya mulai dicari oleh banyak pemerintah negara Barat.

Namun, perjalanan karier John ini juga memiliki sisi kelam yang cukup terjal. Minat Barat terhadap Islam dan Muslim muncul utamanya karena adanya ancaman terhadap keamanan nasional Amerika Serikat.

Hal tersebut membuat mayoritas masyarakat Barat kehilangan kemampuan untuk memahami topik ini secara bebas, objektif, dan mandiri. Narasi kebijakan serta debat publik seputar Islam akhirnya selalu diselimuti oleh tema revolusi politik, kekerasan massal, dan persepsi ancaman tatanan global.

Upaya edukasi yang dilakukan John selalu menjadi perjuangan yang berat di tengah dominasi akademisi mapan dalam debat kebijakan dan media. Salah satunya adalah Bernard Lewis yang menulis tentang tuduhan “Akar Kemarahan Muslim” terhadap modernitas untuk menjelaskan pergolakan di Timur Tengah.

Pada saat yang sama, Samuel Huntington juga mengajukan tesis populer mengenai “Benturan Peradaban” atau Clash of Civilizations. Pandangan-pandangan diskriminatif ini memiliki banyak pengikut karena memperkuat prasangka Barat yang sudah ada sebelumnya terhadap Islam.

Sentimen negatif tersebut diperparah oleh narasi keamanan nasional AS dan Israel mengenai dugaan adanya ancaman Islam setelah era Perang Dingin berakhir. Di tengah polarisasi tersebut, John hadir sebagai akademisi awal yang berani menantang distorsi orientalis atas Islam dan Muslim.

Karya-karya ilmiahnya berhasil membuka ruang bagi pemahaman objektif guna mengikis prasangka buruk. Wawasan intelektualnya juga membuka jalan bagi generasi akademisi yang lebih muda untuk membangun dan memperluas penelitian kepeloporannya.

Profesor Esposito memajukan pemahaman baru tentang agama dengan mengkritik teori ilmu sosial yang dominan mengenai pembangunan politik. Ia dengan jeli menyoroti adanya “bias sekuler” yang memengaruhi perdebatan intelektual arus utama di Barat terkait hubungan agama dan politik.

Teori-teori modernisasi tersebut diklaim berlaku universal berdasarkan asumsi bahwa agama hanyalah peninggalan masa lalu yang tidak lagi penting di dunia modern. Padahal secara faktual, klaim tersebut bias ideologis dan hanya bersandar pada rangkaian pengalaman domestik Barat semata.

Sebaliknya, John menafsirkan politik dunia Muslim bukan dari kerangka normatif Barat, melainkan dari sudut pandang pengalaman dunia Muslim itu sendiri. Dengan kata lain, ia melihatnya dari bawah ke atas melalui perspektif massa yang memegang teguh identitas keagamaan mereka.

Melalui pendekatan ini, ia berhasil mengajukan analisis politik keagamaan yang kuat secara sosiologis dan memiliki dasar sejarah di dunia Islam. Kritik terhadap warisan kolonialisme, otoritarianisme, dan kebijakan luar negeri AS menjadi tema sentral dari seluruh kerja intelektualnya.

Karya Profesor Esposito dalam membedah Islam politik terhitung sangat visioner. Ia menulis tentang kondisi sosial dan aspirasi kolektif yang membuat Islam politik menjadi sangat memikat bagi berbagai konstituen di Timur Tengah dan dunia Muslim yang lebih luas.

Ketika mayoritas akademisi Barat dan intelektual liberal berfokus pada keinginan kelompok Islamis untuk menerapkan syariat, Esposito memilih fokus pada inti aspirasinya. Ia melihat adanya perjuangan martabat, keadilan, menentukan nasib sendiri, serta perlawanan terhadap dominasi asing.

Aspirasi mendasar inilah yang pada akhirnya membuat Islam politik menjadi sebuah kekuatan yang tangguh dan bertahan lama. Saat merefleksikan warisan John Esposito, penulis teringat akan sebuah pengamatan penting dari Edmund Burke III.

Saat mengomentari karya mendiang Marshall G.S. Hodgson yang berjudul The Venture of Islam, Burke mencatat bahwa Hodgson memiliki prinsip yang sama dengan Esposito. Keduanya menolak untuk melihat Islam sebagai “liyan” atau pihak luar yang asing.

Sebaliknya, mereka memahami tradisi Islam sebagai sebuah usaha bersama yang menandai upaya manusia dalam mewujudkan dunia yang adil dan bermoral. Kita kemungkinan tidak akan melihat lagi akademisi dengan kaliber moral dan intelektual setinggi John Esposito di masa hidup kita.

Dampaknya terhadap edukasi kolektif kita serta pemahaman hubungan Islam-Barat sangat unik dan tidak terukur. Mereka yang peduli pada nilai-nilai universal yang berakar pada hukum internasional, HAM, demokrasi, dan pemahaman lintas budaya sangat berutang budi kepadanya.

John Esposito meninggalkan seorang istri yang telah menemaninya selama 61 tahun, Jean Esposito. Sang istri merupakan mitra sekaligus pendukung utama dalam seluruh ikhtiar dan cinta abadi dalam hidup John.

Sumber: Al Jazeera