Tuesday, 21 July 2026

Keimanan Sejati Harus Melahirkan Akhlak, Bukan Sekadar Syahadat

Senin, 6 Juli 2026 | 10:31 WIB
admin
ADMIN Tim Redaksi

Jakarta, MUI Online – Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. KH. Said Aqil Siroj, menilai maraknya korupsi dan berbagai bentuk kezaliman di Indonesia menunjukkan bahwa keimanan banyak umat Islam belum benar-benar tertanam dalam hati.

Hal itu disampaikannya dalam tausiah pada acara Cahaya Hati Cahaya Indonesia bertema “Merawat Iman, Menjaga Umat, Membangun Bangsa” di Masjid Istiqlal, Jakarta, seperti dikutip MUI Digital, Sabtu (4/7/2026).

Menurut Kiai Said, perkembangan syiar Islam di Indonesia sangat pesat. Namun, banyaknya pengajian dan ceramah agama belum sepenuhnya diikuti dengan perbaikan akhlak masyarakat.

“Mengapa di Indonesia syiar Islam semakin banyak, tetapi kemungkaran seperti korupsi dan kezaliman masih terus terjadi? Karena iman kita kebanyakan masih sebatas di lisan, belum benar-benar masuk ke dalam hati,” ujarnya.

Ia menegaskan, iman sejati tidak cukup hanya diucapkan melalui dua kalimat syahadat atau dipahami secara intelektual, melainkan harus bersemayam di dalam hati sehingga mampu membimbing setiap perilaku manusia.

Kiai Said menjelaskan, hati manusia memiliki tiga unsur penting, yaitu bashirah (penglihatan batin) yang membedakan benar dan salah, dhamir (hati nurani) yang mendorong seseorang berbuat baik, serta fuad yang menjadi hakim bagi setiap perbuatan.

“Fuad tidak pernah berbohong. Mulut bisa berdusta, tetapi hati akan selalu mengetahui apakah seseorang benar atau salah,” katanya.

Ia menambahkan, suara hati akan terus mengingatkan manusia saat berbuat salah. Namun, jika dosa terus diulang tanpa disertai tobat, suara hati akan semakin lemah hingga sulit lagi dirasakan.

Menurutnya, banyak orang baru mengingat Allah ketika ditimpa musibah, tetapi kembali mengulangi kesalahan setelah keadaan membaik.Karena itu, Kiai Said mengajak umat Islam menjadikan agama sebagai pedoman hidup dan ukuran moral dalam setiap keadaan, bukan sekadar simbol atau kepentingan sesaat.

“Keimanan yang hakiki akan melahirkan akhlak yang baik di mana pun kita berada. Agama harus menjadi pedoman hidup, bukan sekadar simbol atau slogan,” tuturnya.

Sumber: MUI Digital