Thursday, 10 September 2026

KH. Cucun Sanan Nasa’i: Jangan Hanya Kejar Banyak Amal, Kader Ulama Harus Menjaga Kebersihan Hati

Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:00 WIB
admin
ADMIN Tim Redaksi

Sukaraja, MUI Online – Ilmu tasawuf tidak hanya berkaitan dengan persoalan batin, tetapi juga bagaimana kondisi hati tercermin dalam amal dan perilaku seseorang. Tasawuf menjadi bagian penting dalam membentuk pribadi yang mampu menjaga hati sekaligus memperbaiki akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan Ketua MUI Kabupaten Bogor, KH. Cucun Sanan Nasa’i dalam perkuliahan Pendidikan Kader Ulama (PKU) Angkatan XX MUI Kabupaten Bogor yang diselenggarakan di Balai Diklat Dharmais, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Pimpinan Pondok Pesantren Darul Fikri Al-Andalusy tersebut menambahkan, pemahaman terhadap fikih dan tasawuf perlu berjalan secara seimbang. Fikih memberikan pedoman mengenai amal lahir, sementara tasawuf mengarahkan seseorang untuk memperhatikan kondisi batin, niat, serta kebersihan hati ketika menjalankan amal.

Suasana Perkuliahan PKU Angkatan XX. (Foto: Amin-MUI Online)

“Fikih itu membenarkan amal lahir, sedangkan tasawuf membenarkan dan membersihkan batin. Karena itu, keduanya harus berjalan bersama. Jangan sampai kita hanya memperhatikan amal secara lahir, tetapi tidak memperhatikan hati dan niat,” tambahnya.

Menurut Abi Cucun, panggilan akrab para santrinya, seseorang tidak cukup hanya memperbanyak amal tanpa memperhatikan bagaimana amal tersebut dilakukan. Kebenaran amal dan ketulusan niat menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam menjalankan ajaran agama.

“Amal itu tidak cukup hanya banyak, tetapi harus benar. Allah tidak menerima amal kecuali amal tersebut benar. Karena itu, ilmu yang kita pelajari harus melahirkan amal dan memperbaiki keadaan hati,” tuturnya.

Dalam kajian tasawuf, lanjut Abi Cucun, pembinaan hati menjadi hal penting karena hati memiliki pengaruh terhadap perilaku seseorang. Ketika hati dibina dengan baik, nilai-nilai keislaman diharapkan tidak hanya dipahami secara teori, tetapi juga tercermin dalam sikap dan perbuatan.

Pemahaman tersebut menjadi semakin penting bagi kader ulama yang nantinya akan berhadapan langsung dengan berbagai persoalan masyarakat. Keluasan ilmu perlu diiringi dengan akhlak, ketulusan, dan kemampuan menjaga diri agar ilmu yang dimiliki dapat memberikan manfaat.

Editor: Faisal Wibowo
Kontributor: Istikhoriyah Aulia Putri