Thursday, 10 September 2026

KH. Cucun Sunan Nasa’i: Tasawuf Kunci Membersihkan Hati dan Membentuk Akhlak

Senin, 17 Agustus 2026 | 18:48 WIB
Istikhoriyah Aulia Putri
ISTIKHORIYAH AULIA PUTRI Tim Redaksi

Sukaraja, MUI Online – Pendidikan Kader Ulama (PKU) Angkatan XX MUI Kabupaten Bogor memasuki pertemuan kedua dengan menghadirkan kembali KH. Cucun Sunan Nasa’i melalui mata kuliah Ilmu Tasawuf, yang diselenggarakan di Balai Diklat Dharmais, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Dalam paparannya, KH. Cucun Sunan Nasa’i menjelaskan bahwa ilmu tasawuf memiliki peran penting dalam membentuk kualitas diri seorang Muslim. Tasawuf tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual, tetapi juga mengajarkan bagaimana seseorang membersihkan hati, memperbaiki akhlak, serta mengendalikan diri dari berbagai sifat yang dapat menghambat kedekatan kepada Allah SWT.

Dia menjelaskan bahwa perjalanan seorang Muslim tidak cukup hanya dengan memperhatikan amal secara lahiriah, tetapi juga perlu menjaga kondisi batin. Sebab, kualitas amal juga dipengaruhi oleh niat dan kebersihan hati yang melandasinya.

KH. Sunan Cucun Nasa’i menyampaikan materi (Foto: Tim Media PKU 20)

“Tasawuf mengajarkan kita untuk membersihkan hati dari sifat-sifat tercela dan menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji. Karena hati adalah tempat yang harus dijaga agar amal yang kita lakukan memiliki nilai di hadapan Allah SWT,” ujarnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Darul Fikri Al Andalusy tersebut juga membahas berbagai sifat tercela (madzmumah) yang perlu dihindari oleh seorang Muslim, seperti kesombongan, iri hati, dengki, serta penyakit hati lainnya. Sifat-sifat tersebut dapat menjadi penghalang seseorang dalam memperbaiki hubungan spiritualnya kepada Allah SWT.

Sebaliknya, seorang Muslim perlu membangun sifat-sifat terpuji (mahmudah) seperti ikhlas, sabar, tawakal, rendah hati, dan syukur. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam proses penyucian jiwa dan pembentukan akhlak mulia.

Menurut Abi Cucun, ilmu tasawuf juga tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seorang Muslim. Pemahaman terhadap tasawuf menjadi sarana untuk membangun keseimbangan antara ilmu, amal, dan akhlak.

Peserta PKU Angkatan XX bersama narasumber. (Foto: Tim Media PKU 20)

Melalui paparan tersebut, Abi Cucun mengajak para peserta untuk memahami bahwa seorang kader ulama tidak hanya dituntut memiliki keluasan ilmu agama, tetapi juga harus memiliki kepribadian yang baik, hati yang bersih, dan akhlak yang mencerminkan nilai-nilai Islam.

“Ilmu yang dipelajari harus mampu membawa perubahan pada diri seseorang. Sebab hakikat ilmu bukan hanya untuk diketahui, tetapi juga diamalkan sehingga melahirkan akhlak yang baik dalam kehidupan,” tegasnya.

Editor: Istikhoriyah Aulia Putri
Kontributor: Ade Mutiah