MUI-BOGOR.ORG – Sukaraja – Pendidikan Kader Ulama merupakan bagian dari estafet misi profetik kenabian yang harus dijaga dan diwariskan lintas generasi. PKU merupakan fondasi kaderisasi ulama untuk menjaga keberlangsungan risalah keumatan, dan ini bagian dari tanggung jawab sejarah.
Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Umum MUI Kabupaten Bogor, H. Irfan Awaludin, M.Si., pada perkuliahan perdana PKU angkatan ke-19, bertempat di Aula Balai Diklat Dharmais, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Sabtu (5/7/2025).
Gus Irfan sapaan akrabnya, membuka dengan menyampaikan kisah perjuangan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825–1830). Sejarah mencatat kaderisasi adalah kunci dalam setiap perubahan besar. Perlawanan Diponegoro yang berhasil mempersatukan ulama, bangsawan, pendekar, dan rakyat hingga menghimpun 100 ribu pasukan inti, bukanlah buah dari spontanitas. “Dua puluh tahun sebelum perang, beliau sudah melakukan kaderisasi keliling Nusantara,” ungkapnya.

Ia menuturkan bahwa perjuangan Diponegoro, seorang ulama Toriqoh Syatthoriyah dan anak Kesultanan Yogyakarta, menjadi teladan betapa pentingnya kekuatan intelektual, spiritual, dan organisasi dalam melawan kekuasaan kolonial. “Kerugian Belanda mencapai 20 juta Gulden. Bahkan, Hungaria bisa merdeka karena Belanda bangkrut akibat Perang Jawa,” jelasnya.
Namun, perjuangan itu berakhir dengan pengkhianatan ketika Diponegoro dijebak dan ditangkap oleh Jenderal De Kock saat Idul Fitri. “Di ujung perjuangannya, Pangeran Diponegoro memang kalah secara militer, tapi menang secara moral dan sejarah. Dari beliau lalu lahir jaringan pesantren di berbagai wilayah Indonesia, seperti di Tebuireng, ia memiliki murid bernama KH Abdus Salam, buyut KH Hasyim Asy’ari (Pendiri NU),” beber Gus Irfan.

Mengaitkan spirit sejarah dengan realitas kekinian, Gus Irfan menggarisbawahi bahwa MUI adalah organisasi strategis yang menjadi jembatan antara ulama dan umara. Ia menilai, sejak abad ke-17 hingga kini, ulama selalu memegang peran sentral dalam menjaga nilai keadilan dan mencegah dominasi oligarki.
“MUI berdiri atas dasar amanat konstitusi, Pancasila dan UUD 1945. Negara kita adalah negara beragama, bukan negara agama. Artinya, nilai-nilai agama menjadi bagian integral dalam sistem bernegara,” katanya.

Lebih lanjut, Gus Irfan menjelaskan lima peran penting kader ulama sebagaimana dikandung dalam QS Al-Ahzab ayat 45–46: sebagai saksi (syahid), pembawa kabar gembira (basyiron), pemberi peringatan (nadziiron), penyeru ke jalan Allah (da’iyan ilallah), dan cahaya penerang (siroojam muniiraa). “Kader ulama harus hadir, aktif, membawa harapan, memberi peringatan, mengajak, dan menerangi masyarakat,” tegasnya.
Tiga tujuan utama Pendidikan Kader Ulama juga disampaikan, yaitu: membentuk kader yang ‘alim (berpengetahuan luas), munazzim dan muharrik (organisatoris dan penggerak), serta mutsabbir (tangguh menghadapi tantangan). Ia juga menekankan bahwa kader PKU harus berpandangan luas, menjadi seorang generalis. “Kalau ingin menjadi tokoh umat, jangan seperti kolam yang sempit, tapi jadilah seperti samudera. Dan saya peringatkan jangan jadikan PKU sebagai batu loncatan untuk kepentingan pribadi,” pungkasnya. (fw)