Kunci Public Speaking: Sanad yang Jelas dan Hati yang Ikhlas

Kunci Public Speaking: Sanad yang Jelas dan Hati yang Ikhlas H. Tohirudin, M.Pd., Bendahara Umum MUI Kabupaten Bogor saat mengisi materi Public Speaking pada PKU angkatan XIX. Foto: Tim Digital MUI Kab. Bogor

MUI-BOGOR.ORG – Kader ulama tidak cukup hanya mahir berpidato atau berceramah, namun harus mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Amanah menyampaikan ajaran Islam tidak boleh hanya berhenti diatas panggung atau mimbar, namun, harus bisa turun tangan memberikan jalan keluar di tengah ketimpangan ekonomi dan permasalahan-permasalahan lainnya.

Pesan tersebut disampaikan oleh Bendahara Umum MUI Kabupaten Bogor, H. Thohirudin, M.Pd., saat memberikan materi kedua dalam Pendidikan Kader Ulama (PKU) angkatan XIX MUI Kabupaten Bogor, yang digelar di Balai Diklat Dharmais, Sukaraja, pada Sabtu (2/8/2025).

Salah satu peserta PKU angkatan XIX praktik Public Speaking. Foto: Tim Digital MUI Kab. Bogor

Dalam paparannya, H. Thohir menambahkan, “Seringkali para penceramah mampu memberi contoh, namun lupa menjadi contoh. Karena itu, berdakwah harus dilandasi dengan niat yang ikhlas, sanad yang jelas, dan bimbingan para guru atau ulama,” ujarnya.

Ia mengingatkan pentingnya menjaga sanad keilmuan agar setiap ajakan dakwah memiliki dasar yang kuat dan tidak menyimpang dari ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. H. Thohir juga menekankan bahwa niat berkhidmat kepada umat harus sejalan dengan arah perjuangan para ulama terdahulu.

Pada kesempatan tersebut, H. Thohir memaparkan data bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan wilayah dengan jumlah umat Islam terbesar di Indonesia, yakni 41.763.341 jiwa atau 96,74 persen dari total populasi. Sementara itu, Kabupaten Bogor menjadi kabupaten dengan jumlah penduduk Muslim terbanyak di Jawa Barat, yakni 98,3 persen dari total 5,8 juta penduduk.

Salah satu peserta PKU angkatan XIX praktik Public Speaking. Foto: Tim Digital MUI Kab. Bogor

“Data ini penting untuk membuka wawasan kita bahwa potensi dan permasalahan umat Islam sangat besar, dan itu harus dihadapi dengan kesiapan lahir dan batin,” tegasnya. Ia juga mendorong para kader PKU untuk bersinergi dengan pemerintah dan tokoh masyarakat setempat, baik di tingkat kelurahan maupun kecamatan, agar pengabdian kepada umat dapat lebih optimal.

Tidak hanya menyampaikan materi secara teoritis, sesi Public Speaking ini justru lebih banyak diisi dengan praktik langsung. Para peserta PKU XIX diberi kesempatan untuk maju ke depan, berbicara di hadapan peserta lainnya, dan menyampaikan materi yang ditentukan secara spontan oleh narasumber.

“Tujuannya adalah melatih keberanian, kefasihan, serta kesiapan mental para kader ulama dalam menghadapi berbagai forum di tengah masyarakat. Melalui metode ini, saya ingin membangun kepercayaan diri para kader PKU sekaligus menilai kemampuan komunikasi mereka dalam situasi nyata,” pungkasnya. (helmi/ed.fw)