Wednesday, 19 August 2026

Memperingati Haul Ke-3 Mama KH. Ma’mur Jawawi Al-Asy’arie: Menelusuri Jejak Sanad Ilmu dalam Lensa Biografi

Senin, 20 Juli 2026 | 09:00 WIB
admin
ADMIN Tim Redaksi

“Kudu jadi jalma anu sieun ka Allah, jadi jalma khosyatillah. Lamun urang hirup di dunya kumaha ka Allah, maka di akhérat Allah kumaha ka urang.” Mama KH. Ma’mur Jawawi Al-Asy’arie.

Leuwisadeng, MUI Online – Dalam rangka memperingati Haul ke-3 Dr. (HC) Mama KH. Ma’mur Jawawi Al-Asy’arie yang akan digelar pada Ahad, 11 Safar 1448 H/26 Juli 2026 M, Redaksi MUI Online menghadirkan kembali jejak kehidupan, sanad keilmuan, serta keteladanan seorang ulama kharismatik yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk ilmu, dakwah, dan pengabdian kepada umat.

Melalui tulisan Dr. KH. Dede Fahruroji, M.Si., yang diterbitkan di Majalah Kalam Ulama Edisi ke-25 tahun 2023, MUI Online mengajak pembaca menelusuri kembali perjalanan hidup dan sanad ilmu KH. Ma’mur Jawawi Al-Asy’arie, sekaligus merefleksikan warisan intelektual, spiritual, dan keteladanan yang terus hidup di tengah keluarga, santri, alumni, dan masyarakat luas.

KH. Ma’mur Jawawi Al-Asy’arie, lahir pada 15 September 1955 di Kampung Leuwibatu, Desa Leuwibatu, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Beliau merupakan putra sulung dari sepuluh bersaudara, buah hati pasangan KH. Husen Al-Asy’arie dan Hj. Masyitoh.

Pada masa kanak-kanak, KH. Ma’mur Jawawi yang akrab disapa ‘Amung’, dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang religius. Pendidikan agama Islam telah ditanamkan sejak dini oleh kedua orang tuanya. Ayahnya merupakan seorang guru agama di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Babakan Sirna, sementara ibunya, Hj. Masyitoh, dikenal sebagai sosok perempuan yang shalehah. Beliau juga mewarisi keilmuan dari sang kakek yang juga seorang ulama dengan garis keturunan sampai ke Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten.

Memasuki usia remaja, setelah menyelesaikan pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada tahun 1967, Amung oleh sang ayah dikirim untuk menimba ilmu di Pondok Pesantren Nurul Hidayah, Desa Sadeng, Kecamatan Leuwisadeng, yang diasuh oleh Mama KH. Uqon Bulqoeni. Beliau menempuh pendidikan di pesantren tersebut hingga tahun 1975. Selama menjadi santri, Amung tidak hanya mendalami ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga melanjutkan pendidikan formalnya di MTsN Babakan Sirna. Berkat ketekunan dan prestasinya, Amung berhasil lulus menjadi siswa terbaik pada tahun 1970.

Setelah menguasai berbagai fan (disiplin) ilmu di Pondok Pesantren Nurul Hidayah, seperti tauhid, fikih, tajwid, nahwu, shorof, bayan, balaghah, ma’ani, tasawuf, mantiq, ‘arudh, dan qofyah di bawah bimbingan langsung Mama KH. Uqon Bulqoeni, Ma’mur Jawawi muda didorong untuk melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Pondok Pesantren Asy-Syudja’i Ciharashas, Desa Sinargalih, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur.

Di Pesantren tersebut beliau memperluas dan memperdalam ilmu agamanya di bawah asuhan Mama Ajengan KH. Ahmad Syudja’i dari tahun 1975 hingga 1977.  Setelah menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren Asy-Syudja’i Ciharashas, Ma’mur Jawawi muda tidak serta-merta berhenti menimba ilmu. Beliau kemudian menjalani Takhassus dengan berguru kepada Mama Aang Nuh Gentur Cianjur.

Pada tahun 1977, Ma’mur Jawawi muda memutuskan untuk memulai babak baru dalam kehidupannya dengan menikahi Siti Robi’atul Adawiyyah, gadis pujaan hatinya yang berasal dari Kampung Seuseupan, Desa Gobang, Kecamatan Rumpin. Di kampung inilah beliau bersama keluarga kemudian merintis dan mendirikan Pondok Pesantren Hidayatul Wildan.

Pada tahun 1981, atas arahan dan bimbingan gurunya, Mama KH. Uqon Bulqoeni, beliau bersama keluarga berpindah ke Kampung Cimaya, Kecamatan Leuwisadeng untuk mengembangkan Pondok Pesantren Hidayatul Wildan yang telah dirintisnya sejak tahun 1977. Di tempat inilah pengabdiannya sebagai ulama semakin berkembang. Beliau mengajarkan puluhan kitab turats (kitab kuning) kepada ratusan santri yang datang dari berbagai daerah. Di antara kitab-kitab yang menjadi materi kajiannya adalah sebagai berikut: Awamil, Jurumiyah, Yaqulu, Imriti, Alfiyah Ibn Malik, Fathul Mu’in, Fathul Qorib, Riyadlus Sholihin, Tafsir Jalalain, Syarah al-Waraqat, Sullamul Munauraq, Ghoyatul Wushul, Nashoihul Ibad, Syarh al-Hikam, Ihya ‘Ulumuddin, dan lain-lain.

Berkat kegigihan, ketekunan, serta keluasan ilmu yang dimilikinya, KH. Ma’mur Jawawi berhasil mengembangkan Pondok Pesantren Hidayatul Wildan menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya melahirkan banyak santri, tetapi juga menjadi rujukan bagi para kiai, ulama, dan masyarakat Kabupaten Bogor. Kemampuannya membangun hubungan yang baik dengan berbagai kalangan, dipadukan dengan wawasan keilmuan kontemporer yang dipelajarinya secara otodidak, mengantarkan beliau tumbuh sebagai ulama kharismatik yang disegani.

Kiprah dan pengaruh KH. Ma’mur Jawawi di tengah masyarakat tercermin dari kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk mengemban berbagai amanah strategis di sejumlah organisasi keislaman. Di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor, beliau mengabdi selama dua periode. Pada periode pertama, beliau dipercaya sebagai Ketua Komisi Fatwa, kemudian pada periode kedua menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan. Di lingkungan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah (Orda) Bogor, beliau juga mengemban amanah sebagai Dewan Pakar.

Selain aktif di organisasi, KH. Ma’mur juga mendedikasikan dirinya dalam dunia pendidikan dan kaderisasi ulama. Beliau menjadi dosen pengampu mata kuliah Fikih pada Program Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI Kabupaten Bogor, serta tercatat sebagai dewan guru di Ulil Albab dan Badan Kerja Sama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI), sebuah forum kajian dan silaturahmi para ulama serta pengasuh pesantren di wilayah Bogor dan sekitarnya.

Keluasan ilmu yang dimiliki KH. Ma’mur Jawawi membuatnya kerap dijuluki sebagai “perpustakaan berjalan”. Berbagai kalangan menjadikan beliau sebagai tempat bertanya dan meminta nasihat dalam beragam persoalan keagamaan maupun kemasyarakatan. Pengakuan tersebut datang tidak hanya dari para ulama dan tokoh masyarakat, tetapi juga dari para mahasiswa Program Pendidikan Kader Ulama (PKU).

Dalam berbagai forum diskusi maupun pengajian, beliau dikenal memiliki daya ingat yang luar biasa. KH. Ma’mur Jawawi mampu mengutip isi berbagai kitab turats secara spontan, bahkan sering kali masih mengingat letak halaman dan barisnya. Kemampuan tersebut menjadi bukti kuat dari tradisi literasi yang telah beliau bangun dan pelihara sejak lama.

Kecintaan beliau terhadap ilmu pengetahuan tidak terbatas pada khazanah kitab-kitab turats semata. Untuk memperluas wawasan, beliau juga gemar membaca berbagai media cetak, seperti majalah, tabloid, dan surat kabar. Salah satu media yang secara rutin beliau langgani adalah harian Republika, yang menjadi jendela bagi beliau untuk mengikuti perkembangan isu-isu sosial, kebangsaan, dan keislaman kontemporer. Perpaduan antara penguasaan literatur klasik dan perhatian terhadap dinamika zaman inilah yang menjadikan pandangan serta fatwa-fatwa beliau selalu kontekstual dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Kesederhanaan merupakan salah satu sifat yang paling menonjol dalam pribadi KH. Ma’mur Jawawi. Ada satu kisah yang kerap dikenang adalah ketika beliau hendak mengajar di Program Pendidikan Kader Ulama (PKU). Dalam perjalanan menuju lokasi perkuliahan di Wisma Dharmais Kecamatan Sukaraja, kendaraan yang ditumpanginya terjebak kemacetan. Demi memastikan para muridnya memperoleh materi, beliau memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan ojek. Beliau tidak ingin mengecewakan para mahasiswa PKU yang telah menunggu. Peristiwa sederhana ini mencerminkan dedikasi, tanggung jawab, serta ketulusan beliau yang menempatkan amanah di atas kepentingan pribadi.

Sepanjang perjalanan hidupnya, Mama KH. Ma’mur Jawawi dikenal sebagai sosok yang memiliki kecintaan luar biasa terhadap ilmu pengetahuan. Semangatnya untuk terus belajar, mengajar, dan berdakwah tidak pernah surut, bahkan dalam keadaan sakit sekalipun beliau tetap berusaha hadir untuk mengaji, mengajar, dan membimbing para santri. Hingga akhirnya, pada hari Senin, 28 Agustus 2023 pukul 21.15 WIB, KH. Ma’mur Jawawi berpulang ke rahmatullah pada usia 68 tahun.

Selama kurang lebih 42 tahun memimpin dan mengembangkan Pondok Pesantren Hidayatul Wildan, tidak pernah sekalipun beliau meninggalkan aktivitas mengaji dan mengajar. Konsistensi tersebut menjadi bukti nyata keikhlasan, keteguhan, dan komitmen beliau dalam mendidik santri, berdakwah, serta berkhidmat kepada agama dan masyarakat.

Wafatnya Mama KH. Ma’mur Jawawi Al-Asy’arie tidak menghentikan jejak perjuangan dan pengabdiannya. Beliau meninggalkan warisan yang tidak ternilai harganya yang harus terus dijaga keberlanjutannya, yaitu Pondok Pesantren Hidayatul Wildan. Pesantren yang kini membina sekitar 200 santri tersebut tetap melanjutkan estafet perjuangan almarhum di bawah kepemimpinan putra sulungnya, Dr. KH. Asep Nuhdi, S.Th.I., M.Pd., bersama saudara-saudaranya. Dalam menjalankan proses pendidikan, dibentuk dewan pengajar. Pembinaan santri putra diamanahkan kepada Kiai Syihab dan Kiai Iip, sedangkan pembinaan santri putri dipimpin oleh Ustazah Hj. Eneng Robiatul Ummah bersama Kiai Ade Wahyudin.

Selain mewariskan lembaga pendidikan, Mama KH. Ma’mur Jawawi Al-Asy’arie juga meninggalkan warisan spiritual yang terus hidup dalam ingatan keluarga, para santri, dan alumninya. Berbagai nasihat, petuah, serta keteladanan beliau menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan. Di antara pesan yang paling membekas adalah nasihat yang beliau sampaikan ketika tengah menjalani masa-masa sakit menjelang akhir hayatnya. Beliau berpesan:

“Kudu jadi jalma anu sieun ka Allah, jadi jalma khosyatillah. Lamun urang hirup di dunya kumaha ka Allah, maka di akhérat Allah kumaha ka urang.” Yang berarti, “Jadilah manusia yang memiliki rasa takut (khasyyah) kepada Allah. Sebab, bagaimana sikap kita kepada Allah selama hidup di dunia, demikian pula perlakuan Allah kepada kita di akhirat kelak.”

Editor: Faisal Wibowo