MUI Kecamatan Cibinong Gelar Syahriahan, Perkuat Sinergi Ulama dan Umaro
CIBINONG, MUI Online – Majelis Ulama Indonesia Kecamatan Cibinong kembali menggelar kegiatan Syahriyahan sebagai wadah silaturahmi sekaligus memperkuat komunikasi dan sinergi antara ulama dan umaro di wilayah Kecamatan Cibinong. Kegiatan tersebut dihadiri oleh para Ketua RT, RW, ulama, ustadz dan ustadzah di lingkungan Kelurahan Tengah.
Sekretaris Umum MUI Kecamatan Cibinong, Deden, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Syahriahan merupakan salah satu bentuk nyata sinergi antara ulama dan umaro sekaligus menjadi ruang untuk mempererat tali silaturahmi di tengah masyarakat.
“Sinergi antara ulama dan umaro ini merupakan bagian dari program MUI Kecamatan Cibinong. Syahriahan MUI menjadi wadah silaturahmi sekaligus sarana untuk memperkuat komunikasi di tengah masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Cibinong Acep Sajidin memberikan apresiasi kepada MUI Kecamatan Cibinong yang dinilai istiqamah dalam menyelenggarakan kegiatan Syahriahan sejak tahun 2020 hingga saat ini.
Menurutnya, keberlangsungan kegiatan tersebut menjadi bukti terjalinnya sinergi yang baik antara ulama dan pemerintah di Kecamatan Cibinong.
“Saya mengapresiasi MUI Kecamatan Cibinong yang istiqamah melaksanakan Syahriahan sejak tahun 2020 sampai sekarang. Ini menjadi bukti adanya sinergi antara ulama dan umaro di Kecamatan Cibinong,” kata Acep.

Acep berharap kegiatan Syahriahan dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Selain sebagai sarana mempererat silaturahmi, kegiatan tersebut dinilai penting untuk menjaga komunikasi dan kondusivitas wilayah.
Ia menyebut Syahriahan dapat menjadi ruang untuk saling bertukar informasi sekaligus mendapatkan penguatan ilmu keagamaan melalui tausiyah yang disampaikan para guru agama.
“Harapannya kegiatan ini terus dilaksanakan karena menjadi sarana komunikasi untuk menjaga kondusivitas Cibinong. Di sini kita bisa bertukar informasi sekaligus mendapatkan ilmu melalui tausiyah agama,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Acep juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus memelihara persatuan, kebersamaan, dan semangat gotong royong yang menjadi salah satu ciri khas kehidupan masyarakat Indonesia.
“Persatuan dan gotong royong harus terus kita jaga. Ini merupakan kekuatan dan ciri khas masyarakat Indonesia yang perlu dipelihara bersama,” pesannya.

Kegiatan Syahriahan kemudian dilanjutkan dengan tausiyah keagamaan yang disampaikan oleh Kiai Moch. Syarifuddin, S.Pd.I. Dalam tausiyahnya, Kiai Moch. Syarifuddin mengangkat tema persoalan Kepemimpinan, Keadilan, bahaya Kemurtadan, serta pentingnya penguatan Akidah dalam kehidupan Masyarakat.

Kiai Moch. Syarifuddin menjelaskan bahwa sifat adil bukan hanya kewajiban pejabat atau pemimpin pemerintahan. Keadilan merupakan kewajiban setiap individu karena setiap manusia pada hakikatnya memiliki tanggung jawab kepemimpinan, baik terhadap dirinya sendiri, keluarga, maupun lingkungan sosialnya.
Hal tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah SAW bahwa setiap orang merupakan pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Karena itu, menurutnya, nilai keadilan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara seseorang bersikap, mengambil keputusan, hingga memberikan perhatian dan memperlakukan orang lain.
Selain persoalan kepemimpinan dan keadilan, Kiai Moch. Syarifuddin juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan dalam menjaga akidah di tengah perubahan zaman.
Ia menjelaskan bahwa tantangan terhadap keimanan tidak selalu muncul dalam bentuk perubahan identitas agama secara formal, tetapi juga dapat berkaitan dengan persoalan hati, lisan, dan perbuatan.
Dalam aspek hati, umat Islam diingatkan untuk menjaga keyakinan terhadap ajaran dan hukum Allah SWT. Sementara dalam aspek lisan, masyarakat perlu berhati-hati terhadap ucapan yang dapat merendahkan atau menyepelekan agama dan syariat.
Adapun dalam aspek perbuatan, umat Islam dituntut untuk menjaga tindakan agar tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar keimanan.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya umat Islam memiliki pemahaman akidah yang kuat dan benar agar mampu menghadapi berbagai tantangan keagamaan di tengah perkembangan zaman.
Sebagai bagian dari upaya membentengi masyarakat, Kiai Moch. Syarifuddin mendorong peningkatan kapasitas ilmu akidah, khususnya melalui pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja) secara benar dan terstruktur.
Penguatan akidah, menurutnya, tidak cukup hanya berhenti pada pemahaman teoritis. Nilai-nilai akidah juga harus diwujudkan dalam kehidupan sosial melalui sikap saling menghormati, menjaga toleransi secara proporsional, serta melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang santun dan bijaksana.
“Penguatan akidah harus berjalan bersama dengan pengamalan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan pemahaman yang baik dan pengamalan yang benar, masyarakat dapat membangun kehidupan yang aman, tenteram, dan harmonis,” demikian pesan yang disampaikan dalam tausiyah tersebut.
Melalui kegiatan Syahriahan, MUI Kecamatan Cibinong terus berupaya menjadikan silaturahmi antara ulama, umaro, dan masyarakat sebagai kekuatan bersama dalam menjaga kondusivitas wilayah sekaligus memperkuat kehidupan keagamaan masyarakat.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda rutin, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi, memperluas wawasan keagamaan, serta membangun kebersamaan dalam menjaga persatuan dan keharmonisan masyarakat Kecamatan Cibinong.
Editor : Anwar Siroz
Kontributor : MUI Kec. Cibinong








