MUI-BOGOR.ORG – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar, menyampaikan ucapan selamat menyambut bulan suci Ramadhan kepada seluruh umat Islam di Indonesia.
Dia mengajak masyarakat menyambut hadirnya Ramadan dengan hati yang gembira, penuh syukur, dan kesungguhan dalam ibadah.
“Marhaban ya Ramadhan. Selamat datang bulan suci Ramadan. Mari kita sambut dengan hati yang gembira karena Allah membuka pintu rahmat, pintu maghfirah, dan pintu keberkahan seluas-luasnya,” ujar Kiai Anwar, kepada MUI Digital, di Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Menurutnya, kegembiraan menyambut Ramadhan bukan sekadar seremonial, melainkan wujud rasa syukur atas kesempatan berharga untuk kembali meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
“Ramadhan adalah kesempatan yang sangat mahal. Tidak semua orang diberi umur panjang untuk bertemu kembali dengan bulan yang penuh kemuliaan ini,” katanya.
Dia juga mengingatkan agar umat Islam mempersiapkan diri secara lahir dan batin dalam memasuki Ramadhan. Selain memperbanyak ibadah wajib dan sunnah, umat diminta menjaga kekhusyukan serta memperkuat kepedulian sosial.
“Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan lisan, menjaga tangan, dan seluruh anggota badan dari perbuatan yang tidak diridhai Allah,” tegasnya.
Dia pun berharap Ramadhan menjadi momentum perbaikan diri dan penguatan persaudaraan umat.
Dia mendoakan agar seluruh umat Islam mampu menjalani ibadah dengan lancar dan meraih predikat takwa sebagaimana tujuan utama disyariatkannya puasa.
“Semoga Allah memberikan kekuatan lahir dan batin kepada kita semua, sehingga Ramadan ini benar-benar membawa keberkahan dan menjadikan kita pribadi yang lebih bertakwa,” kata dia.
“Sidang Isbat menyepakati bahwa 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026,” ujar Menag dalam konferensi pers usai Sidang Isbat.
“Musyawarah mengacu pada hasil hisab dan rukyat yang dilakukan oleh Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama dan ormas-ormas Islam, serta dikonfirmasi oleh petugas pengamat di sedikitnya 96 titik pengamatan di seluruh Indonesia,” terangnya.
Menag menjelaskan, berdasarkan paparan, ketinggian hilal di seluruh wilayah NKRI masih berada di bawah ufuk, dengan rentang antara -2° 24‘ 43“ (-2,41°) hingga -0° 55‘ 41“ (-0,93°). Sementara itu, sudut elongasi berada pada kisaran 0° 56‘ 23“ (0,94°) hingga 1° 53‘ 36“ (1,89°).
Artinya, secara hisab, posisi hilal di seluruh wilayah NKRI belum memenuhi kriteria Visibilitas Hilal yang ditetapkan MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yaitu tinggi hilal minimum 3° dan sudut elongasi minimum 6,4°.
“Dengan demikian, bukan hanya belum memenuhi kriteria imkan rukyat, melainkan secara astronomis hilal belum mungkin terlihat, sehingga secara hisab data hilal hari ini tidak memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS,” jelas Menag.
Sumber : MUI Pusat

