Tuesday, 21 July 2026

Resmi Dikukuhkan, Ini Pesan Penting Untuk Pengurus MUI Desa se-Tajurhalang

Senin, 8 Juni 2026 | 07:42 WIB
admin
ADMIN Tim Redaksi

Tajurhalang, MUI Online – Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Desa se-Kecamatan Tajurhalang masa khidmat 2026–2031 resmi dikukuhkan oleh Sekretaris Umum MUI Kabupaten Bogor, H. Irfan Awaludin, M.Si., di Aula Kecamatan Tajurhalang, Sabtu (6/5/2026).

Dalam sambutan sekaligus arahannya, H. Irfan mengajak untuk melakukan kilas balik (flashback) ke sejarah Nusantara dalam memahami pentingnya sinergi antara umara (pemerintah) dan ulama.

Prosesi Pengukuhan MUI Desa se-Kecamatan Tajurhalang. (Foto: Ismail/MUI Online)
Prosesi Pengukuhan MUI Desa se-Kecamatan Tajurhalang. (Foto: Ismail/MUI Online)

Ia menjelaskan, dari era Sunan Ampel dan Raden Fatah, mabda (fondasi) strategi dakwah Wali Songo memang selalu berada di jantung kekuasaan. Estafet perjuangan para waliyullah ini terus berlanjut hingga abad ke-19 melalui Pangeran Diponegoro di Keraton Yogyakarta, hingga ke Kesultanan Banten.

Gus Irfan juga mengulas kisah Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdulkadir yang memiliki kebiasaan selama memimpin selalu berdiskusi dengan ulama Mekkah.

Sekretaris Umum MUI Kabupaten Bogor, H. Irfan Awaludin, M.Si. (Foto: Ismail/MUI Online)
Sekretaris Umum MUI Kabupaten Bogor, H. Irfan Awaludin, M.Si. (Foto: Ismail/MUI Online)

Sultan Abdul Mafakhir mengirim utusan membawa surat kepada ulama besar di Mekkah, Syeikh Muhammad bin ‘Ali bin ‘Allan, hanya untuk bertanya “Bagaimana saya mengelola pemerintahan yang berlandaskan syariat Islam?”

Jawaban dari Syaikh bin Allan tersebut kemudian melahirkan kitab Syarh dari karya Imam Al-Ghazali, yaitu Syarh Nashihah al-Muluk, yang memuat panduan komprehensif tata kelola kekuasaan.  

Ketua MUI Kecamatan Tajurhalang, KH. Ahmad Dimyatie, S.Ag. (Foto: Ismail/MUI Online)
Ketua MUI Kecamatan Tajurhalang, KH. Ahmad Dimyatie, S.Ag. (Foto: Ismail/MUI Online)

“Jadi, sinergi yang dilakukan oleh Camat dengan MUI adalah contoh nyata yang sudah dilakukan oleh para leluhur kita terdahulu. Sejak zaman sejarah, urusan kekuasaan dan spiritualitas memang selalu digabungkan dan tidak bisa dipisahkan,” jelasnya.

Sementara, Ketua MUI Kecamatan Tajurhalang, KH. Ahmad Dimiyati, S.Ag., mengingatkan para pengurus MUI Desa yang telah dilantik, bahwa amanah ini bukanlah sarana untuk mencari panggung, popularitas, atau keuntungan pribadi.

Camat Tajurhalang, Ivan Pramudya, S.Sos. (Foto: Ismail/MUI Online)

“Pengukuhan yang kita laksanakan hari ini bukan sekadar seremonial, tetapi lebih dari itu. Kita tidak sedang mendapatkan keuntungan dari jabatan kita, tetapi sedang memikul beban umat. Kita tidak sedang dimuliakan manusia, tetapi sedang diuji oleh Allah,” tegas Kiai Ahmad Dimiyati.

Memperjelas pernyataan tersebut, ia mengutip hadis Rasulullah SAW tentang hakikat tanggung jawab kepemimpinan: Kullukum ro’in wa kullukum mas’ulun ‘an ro’iyatih. Artinya, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya,” jelasnya.

Sekretaris MUI Kecamatan Tajurhalang, Ustadz Asmuni Marzuki, S.Th.I., saat membacakan SK Pengurus MUI Desa. (Foto: Ismail/MUI Online)

Kiai Ahmad Dimyati juga menjabarkan empat peran dan fungsi strategis MUI Desa bagi masyarakat, yaitu sebagai tempat bertanya, tempat mengadu, perekat umat, dan penyejuk suasana.

“Marilah kita luruskan niat. Seperti nasihat ulama: Jadilah seperti akar pohon, ia tidak terlihat tetapi darinya tumbuh buah dan manfaat besar,” pesannya.

Foto Bersama Pengukuhan MUI Desa se-Kecamatan Tajurhalang.

Di saat yang sama, Camat Tajurhalang, Ivan Pramudya, S.Sos., menyampaikan apresiasi yang mendalam atas terbentuknya kepengurusan MUI Desa yang baru.

“MUI Desa adalah ujung tombak dalam membimbing umat. Kami berharap kemitraan antara pemerintah desa dan para ulama semakin erat demi menjaga kondusifitas, dan menciptakan lingkungan yang harmonis, aman, dan religius,” pungkasnya.

Editor: Faisal Wibowo
Kontributor: Ismail Marjuki