Belajar Ekonomi Perang dari Tahun Gajah hingga Era Drone

Belajar Ekonomi Perang dari Tahun Gajah hingga Era Drone lustrasi Belajar Ekonomi Perang dari Tahun Gajah hingga Era-Drone

MUI-BOGOR.ORG – Sejarah peperangan sering kali dibaca sebagai kisah tentang siapa yang memiliki senjata paling canggih dan tersedia dalam jumlah besar atau setidaknya memiliki jumlah pasukan paling banyak. Namun, jika dicermati dari sejarah awal mula peperangan di muka bumi, perang justru seringkali dimenangkan oleh mereka yang mampu memanfaatkan ekonomi perang. Apa itu ekonomi perang? Pakar militer asal Mesir, Saber Hatem sebagaimana dikutip dari sputnikglobe.com (19 Januari 2026) menyebutkan ekonomi perang adalah sejauh mana penggunaan alat yang memadukan biaya rendah, dampak tinggi namun memiliki efek psikologis yang menghancurkan. Dalam perspektif ini, peperangan modern seperti konflik Rusia dengan Ukraina secara mengejutkan mirip dengan palagan di Tahun Gajah.

Di medan perang Ukraina, drone seperti Lancet telah mengubah wajah perang abad ke-21. Dengan biaya hanya ribuan dolar, drone ini mampu menghancurkan tank Leopard buatan Jerman atau sistem artileri M777 buatan Amerika Serikat yang bernilai puluhan juta dolar. Ia beroperasi sebagai alat pantau yang berpatroli, menunggu, lalu menyerang musuh pada momen terlemahnya. Keunggulannya bukan semata aspek teknologi, melainkan aspek keekonomian. Inilah esensi ekonomi perang modern di mana sumber daya terbatas dapat menghasilkan efek dahsyat.

Fakta ini mengingatkan kita pada peristiwa Tahun Gajah, ketika Abrahah menyerbu Mekkah dengan arsenal paling canggih di zamannya. Bagaimana tidak? Saat itu, gajah-gajah perang berfungsi layaknya tank modern sebagai alat penghancur fisik sekaligus senjata psikologis yang menebar rasa takut ke hadapan musuh.

Dalam perspektif geopolitik, Abrahah tidak berperang serampangan. Ia dengan analisis tajamnya mampu memprediksi potensi kemajuan Mekkah sebagai pusat jazirah di kemudian hari. Ia pun akhirnya memutuskan untuk menyerang pusat gravitasi masyarakat Quraisy (di mana ada Ka’bah di dalamnya) yang menjadi pusat ekonomi, budaya sekaligus religius Arab kala itu. Strategi ini pada intinya bermaksud menghancurkan simpul utama yang menopang kehidupan sosial dan ekonomi yang menjadi lawannya.

Namun, seperti halnya artileri dan senjata berat di era drone, keunggulan konvensional pasukan Abrahah justru runtuh oleh senjata “di luar kebiasaan”. Al Qur’an dengan jelas menggambarkan kehancuran pasukan gajahnya Abrahah bukan melalui pertempuran frontal, melainkan melalui burung-burung _Ababil._ Ini bukan nama sejenis burung, melainkan istilah yang merujuk pada kedatangan burung kelompok demi kelompok, membawa batu kecil dari _sijjil._ Batu-batu itu menembus pelindung besi pasukan, menghancurkan mereka hingga “seperti daun yang dimakan ulat”. Apakah ini senjata biologis, kimiawi atau fisika ?

Beberapa mufasir seperti Al Maraghi (1946), Abduh (1967) ataupun Hamka (2018) menyebutkan sejenis penyakit mematikan saat itu karena belum ada obat penangkalnya (cacar atau campak) yang terkandung dalam batu tersebut. Terlepas dari penafsiran ilmiah dan perdebatan yang muncul kemudian, pesan strategisnya jelas bahwa senjata murah namun tepat guna dapat melumpuhkan kekuatan yang terlihat tak terkalahkan.

Di sinilah letak kesamaan mendasar antara perang di Tahun Gajah dan perang di abad modern. Baik burung Ababil maupun drone sama-sama mewakili disrupsi militer. Keduanya mengubah kalkulasi ekonomi perang. Ketika satu drone atau satu batu kecil mampu menjatuhkan aset berharga mahal, maka paradigma “semakin mahal senjata, semakin unggul” runtuh dengan sendirinya.

Inspirasi bagi negara dikemudian hari sangatlah jelas. Kekuatan militer tidak lagi semata ditentukan oleh anggaran besar dan alutsista mahal, melainkan oleh efisiensi biaya dan kemampuan adaptif. Negara yang bertahan di masa depan adalah negara yang mampu memahami bahwa pusat gravitasi lawan tidak selalu dihancurkan dengan kekuatan besar, melainkan dengan pukulan kecil yang tepat (berbiaya murah, sarat inovasi namun presisi).

Tahun Gajah mengajarkan bahwa dominasi kekuatan material bisa runtuh dalam sekejap ketika berhadapan dengan strategi yang tidak terduga. Perang drone hari ini menegaskan ulang pelajaran itu dalam bahasa sains dan teknologi. Dari Mekkah abad ke-6 hingga Ukraina abad ke-21, selama 15 abad, ekonomi perang tetap berisi pesan yang sama, bahwa kemenangan bukan milik mereka yang terkuat secara fisik, melainkan yang paling cerdas mengkalkulasi ekonomi perang.

Wallahu a‘lam bi as shawab

Dr. M. Taufik Hidayatulloh, M.Si
Penulis: Dr. M. Taufik Hidayatullah, M.Si (Wakil Sekretaris MUI Kabupaten Bogor/Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)