Saturday, 13 June 2026

Pelajaran Transformasi Digital dari Perang Khandaq

Jumat, 22 Mei 2026 | 10:48 WIB
admin
ADMIN Tim Redaksi
Oleh:
Dr. M. Taufik Hidayatullah, M.Si
(Wakil Sekretaris MUI Kabupaten Bogor)

MUIONLINE – Di era otomatisasi hari ini, banyak lembaga berlomba melakukan transformasi digital. Banyak sekolah membeli layar interaktif, sementara kantor-kantor setali tiga uang, menerapkan sistem otomatisasi, demi mengejar apa yang hari ini disebut sebagai digital transformation. Semua tampak bergerak menuju masa depan indah. Namun, di balik harapan itu, ada pertanyaan mendasar, apakah kita benar-benar sedang mengarah pada digitalisasi atau hanya sekadar mengganti alat lama dengan perangkat baru yang lebih canggih?

Persoalan ini mengingatkan masa transisi kapal layar di era awal penemuan mesin uap. Ketika itu, teknologi mesin uap mulai berkembang di Eropa, namun sebagian kapal tidak langsung begitu saja meninggalkan layar tradisionalnya (Conner. 2021). Banyak kapal justru hanya menambahkan mesin di atas sistem lama tanpa mengubah pola navigasi maupun manajemen pelayarannya (Mendonca. 2013). Hal ini menandakan cara berpikir para pelaut masih bertumpu pada paradigma lama.

Bila ditarik ke masa kekinian, fenomena serupa tampaknya sedang terjadi dalam dunia pengembangan SDM hari ini. Banyak institusi tampak modern secara visual, namun sesungguhnya mereka masih menerapkan pola pikir lama. Misalnya, guru tetap berbicara satu arah, sementara siswa hanya mendengar. Di sisi lain, teknologi sekadar menjadi pelengkap bagi sistem lama.

Padahal, hakikat transformasi digital bukan terletak pada alat, melainkan pada perubahan mentalitas. Paul Leonardi dan Tsedal Neeley (2022) menekankan bahwa inti transformasi digital adalah kemampuan manusia mengubah struktur berpikir dalam menyelesaikan masalah. Di sinilah mulai terlihat peran besar pola berpikir, bukan sekadar alat semata dalam transformasi digital.

Dalam konteks ini, kisah terkait Salman Al Farisi sebelum Perang Khandaq telah memberikan pelajaran penting tentang digitalisasi cara berpikir jauh sebelum istilah itu dikenal hari ini. Saat itu, Madinah dikepung sekitar 10.000 pasukan Ahzab, masyarakat Arab ketika itu memiliki tradisi perang terbuka yang mengandalkan duel dan kecepatan kavaleri (Al Hasan and Hill. 1986). Namun Salman justru mematahkan pola perang Arab saat itu dengan menawarkan strategi yang belum dikenal tradisi Arab sebelumnya, yaitu menggali parit pertahanan sebagaimana praktik militer Persia.

Sekilas, ide inovasi itu tampak sederhana, namun sesungguhnya jauh lebih kompleks dari yang dibayangkan karena tingkat ketidakpastian penerapan, maupun perbedaan nilai dan budayanya. Sebagai ilustrasi, ada kesulitan tersendiri ketika menggali parit raksasa yang membentang beberapa kilometer di tengah gurun pasir. Waktu pengerjaannya juga bertepatan dengan kondisi memasuki musim dingin yang menusuk tulang dan krisis kelaparan parah.

Tentu beberapa variabel itu bukan perkara mudah. Meskipun demikian, Salman mengusulkan strategi dari luar budaya Arab untuk menyelesaikan masalah lokal secara lebih efektif untuk membendung ancaman. Dalam teori inovasi modern, tindakan ini disebut sebagai technology transfer (Kokh and Shubin. 2025) dan crosscultural innovation (Stephan. 2022).

Di sinilah letak pentingnya digital mindset. Istilah ini tidak diartikan sebagai harus selalu menciptakan teknologi baru dari nol. Bisa saja dengan mengadaptasi ide lama dari luar untuk diterapkan secara kreatif pada persoalan baru yang dihadapi. Hasilnya, Salman Al Farisi berhasil memindahkan teknologi pertahanan Persia ke Madinah dengan beberapa kesulitan yang dapat diatasi. Dampak penerapan strategi tersebut telah menimbulkan kegemparan bukan saja pada musuh secara langsung, tetapi lebih jauh telah menghasilkan disrupsi besar terhadap pola perang Arab saat itu (Haikal. 2015).

Menariknya, Rasulullah SAW tidak menolak ide tersebut hanya karena berasal dari luar tradisi Arab. Beliau demikian terbuka terhadap ide baru yang menandakan memiliki cara berpikir istimewa. Dalam konteks modern, inilah bentuk “manajemen perubahan” yang paling penting dalam transformasi digital. Sebab hambatan terbesar perubahan sering kali bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada manusia yang merasa nyaman dengan sistem sebelumnya.

Pelajaran ini sebenarnya juga telah lama diisyaratkan Al Qur’an. Wahyu pertama, Iqra’, bukan hanya perintah membaca teks, tetapi dorongan membangun literasi sehingga secara intelektual siap menghadapi perubahan. Dalam konteks hari ini, semangat itu dapat dimaknai sebagai kewajiban membangun literasi digital hingga kemampuan memahami perkembangan teknologi.

Karena itu, tantangan terbesar pengembangan SDM hari ini bukan sekadar menyediakan perangkat digitalnya. Tantangan utamanya adalah membangun cara berpikir baru. Sebab teknologi secanggih apa pun akan kehilangan makna jika dijalankan oleh cara berpikir lama yang anti-perubahan.

Pada akhirnya, kisah Salman Al Farisi memberi pelajaran penting bahwa kemenangan peradaban tidak selalu dimulai dari alat paling canggih, melainkan dari cara berpikir yang adaptif. Sebagaimana parit sederhana mampu menghentikan pasukan besar Ahzab, demikian pula perubahan pola pikir dapat menjadi kekuatan besar dalam menghadapi disrupsi AI hari ini.

Wallahu a’lam bi as-shawab

Dr. M. Taufik Hidayatullah, M.Si. (Wakil Sekretaris MUI Kabupaten Bogor)
Dr. M. Taufik Hidayatullah, M.Si. (Wakil Sekretaris MUI Kabupaten Bogor)