Wednesday, 7 October 2026

Ayah Non-Muslim, Siapa yang Berhak Menjadi Wali Nikah? MTM MUI Kabupaten Bogor Bahas Hukumnya

Rabu, 9 September 2026 | 17:08 WIB
Istikhoriyah Aulia Putri
ISTIKHORIYAH AULIA PUTRI Tim Redaksi

Megamendung, MUI Online – Majma’ Tashwir al-Masail (MTM) MUI Kabupaten Bogor Kembali dalam Kajian keduanya Membahas persoalan keagamaan aktual yang berkembang di tengah masyarakat. Pada putaran ke-17, salah satu pembahasan yang menjadi perhatian adalah hukum wali nikah bagi calon pengantin perempuan Muslimah yang ayah biologisnya beragama non-Muslim. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Selasa, 25 Agustus 2026, pukul 13.00 WIB hingga selesai, bertempat di Pondok Pesantren Terpadu Al Musthafawiyah, Megamendung, Kabupaten Bogor.

Dalam kajiannya, MTM MUI Kabupaten Bogor membahas persoalan yang muncul ketika seorang perempuan beragama Islam hendak melangsungkan pernikahan dengan laki-laki Muslim, sementara ayah biologisnya berstatus non-Muslim. Persoalan tersebut mencakup dua kondisi, yaitu ayah yang sejak awal beragama non-Muslim ketika anak dilahirkan, serta ayah yang semula beragama Islam kemudian keluar dari agama Islam sebelum anaknya menikah.

MTM MUI Kabupaten Bogor.  (Foto: Tim Media Ponpes Al Musthafiyah )

Berdasarkan hasil kajian, MTM MUI Kabupaten Bogor menjelaskan bahwa ayah biologis yang beragama non-Muslim tidak sah menjadi wali nikah bagi perempuan Muslimah. Hal tersebut karena salah satu syarat wali nikah adalah memiliki kesamaan agama dengan perempuan yang dinikahkan.

“Perbedaan agama menjadi penghalang dalam kewalian. Seorang wali harus memenuhi syarat yang telah ditentukan dalam fikih, di antaranya beragama Islam apabila yang dinikahkan adalah perempuan Muslimah,” demikian hasil kajian MTM MUI Kabupaten Bogor.

Dalam pembahasan tersebut dijelaskan bahwa tidak terdapat perbedaan hukum antara ayah yang sejak awal non-Muslim maupun ayah yang kemudian murtad. Keduanya sama-sama tidak memiliki hak kewalian terhadap anak perempuan Muslimah. Namun, terdapat perbedaan dalam proses perpindahan kewalian. Apabila masih terdapat wali nasab laki-laki lain yang beragama Islam, maka kewalian berpindah kepada wali tersebut sesuai urutan yang telah ditetapkan dalam fikih.

Urutan wali nasab tersebut antara lain ayah, kakek dari jalur ayah, saudara laki-laki kandung, saudara laki-laki seayah, keponakan laki-laki dari jalur ayah, paman dari jalur ayah, hingga kerabat laki-laki lainnya sesuai ketentuan kewalian. Apabila tidak terdapat wali nasab yang memenuhi syarat, maka kewalian berpindah kepada wali hakim.

Melalui kajian ini, MTM MUI Kabupaten Bogor menegaskan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap ketentuan fikih munakahat agar pelaksanaan akad nikah tidak hanya memenuhi aspek administratif, tetapi juga sesuai dengan ketentuan syariat Islam.

Referensi

روضة الطالبين للنووي: 7/ 66
الْمَانِعُ الرَّابِعُ : اخْتِلافُ الدِّينِ ، فَلا يُزَوِّجُ الْمُسْلِمَةَ قَرِيبُهَا الْكَافِرُ ، بَلْ يُزَوِّجُهَا الأَبْعَدُ مِنْ أَوْلِيَاءِ النَّسَبِ أَوِ الْوَلاءِ، وَإِلا، فَالسُّلْطَانُ . وَلا يُزَوِّجُ الْكَافِرَةَ قَرِيبُهَا الْمُسْلِمُ، بَلْ يُزَوِّجُهَا الأَبْعَدُ الْكَافِرُ. فَإِنْ لَمْ يَكُنْ ، زَوَّجَهَا قَاضِي الْمُسْلِمِينَ بِالْوِلايَةِ الْعَامَّةِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ قَاضٍ لِلْمُسْلِمِينَ، فَحَكَى الإِمَامُ عَنْ إِشَارَةِ صَاحِبِ ” التَّقْرِيبِ ” : أَنَّهُ يَجُوزُ لِلْمُسْلِمِ قَبُولُ نِكَاحِهَا مِنْ قَاضِيهِمْ. وَالْمَذْهَبُ الْمَنْعُ . -إلى أن قال- فَرْعٌ: الْمُرْتَدُّ لا وَلايَةَ لَهُ عَلَى مُسْلِمَةٍ وَلا مُرْتَدَّةٍ وَلا غَيْرِهَا مِنَ الْكَافِرَاتِ . قُلْتُ : لا يُزَوِّجُ مُسْلِمٌ كَافِرَةً إِلا السُّلْطَانُ وَالسَّيِّدُ عَلَى الأَصَحِّ وَإِذَا زَوَّجَ أَمَةَ مُوَلِّيَتِهِ وَلا يُزَوِّجُ كَافِرٌ مُسْلِمَةً إِلا ( أَمَتَهُ وَ ) أُمَّ وَلَدِهِ عَلَى وَجْهٍ ، قَالَهُ الْفُورَانِيُّ . – وَاللَّهُ أَعْلَمُ – .

الموسوعة الفقهية الكويتية
أَمَّا الْمُرْتَدُّ فَلا يَلِي مُطْلَقًا لا عَلَى مُسْلِمَةٍ وَلا مُرْتَدَّةٍ وَلا غَيْرِهِمَا لانْقِطَاعِ الْمُوَالاةِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ غَيْرِهِ

مغني المحتاج شرح منهاج الطالبين 3/ 156
تَنْبِيهٌ : ظَاهِرُ كَلامِهِ: أَنَّهُ لا فَرْقَ بَيْنَ أَنْ يَكُونَ زَوْجُ الْكَافِرَةِ كَافِرًا أَوْ مُسْلِمًا، وَهُوَ كَذَلِكَ لَكِنْ لا يُزَوِّجُ الْمُسْلِمَ قَاضِيهِمْ، بِخِلافِ الزَّوْجِ الْكَافِرِ لأَنَّ نِكَاحَ الْكُفَّارِ صَحِيحٌ وَإِنْ صَدَرَ مِنْ قَاضِيهِمْ أَمَّا الْمُرْتَدُّ فَلا يَلِي مُطْلَقًا لا عَلَى مُسْلِمَةٍ وَلا مُرْتَدَّةٍ وَلا غَيْرِهِمَا لانْقِطَاعِ الْمُوَالاةِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ غَيْرِهِ، وَلا يُزَوِّجُ أَمَتَهُ بِمِلْكٍ كَمَا لا يَتَزَوَّجُ، وَأَفْهَمَ كَلامُ الْمُصَنِّفِ أَنَّ الْكَافِرَ لا يَلِي مُسْلِمَةً وَلَوْ كَانَتْ عَتِيقَةَ كَافِرٍ، وَلا مُسْلِمٌ كَافِرَةً، وَهُوَ كَذَلِكَ لِعَدَمِ الْمُوَالاةِ بَيْنَهُمَا.

الفقه الاسلامي وأدلته: الجزء 7 /صـ 149
(قوله) لاحرمة لماء الزنا : بدليل انه لايثبت به النسب. للحديث السابق الولد للفراس وللعاهد الحجر. واذا لم بكون للزنا حرمة فلايكون مانعا من جواز النكاح. اهـ

إعانة الطالبين (الجزء 3 /صـ 353)
واعلم: أن اسباب الولاية أربعة: الأبوة، وهي اقوى الأسباب، والعصوبة والاعتاق، والسلطنة. اهـ
فان خرج الاقرب عن أن يكون وليا باختلاف الدين أو الفسق أو الجنون أو الصغر انتقلت الولاية إلى الولى الا بعد، لان النبي ﷺ تزوج أم حبيبة من ابن عمها مع وجود أبيها لكون أبيها كافرا.

Editor : Istikhoriyah Aulia Putri