MUI Online – Di tengah ramainya perbincangan soal krisis keteladanan dalam dunia pendidikan, jawaban atas pertanyaan “seperti apa sosok guru yang ideal?” sebenarnya sudah dirumuskan jauh sebelum era sekolah modern lahir. Adalah Syekh Husein bin Manshur bin Muhammad bin Ali Al-Yamani, seorang ulama yang wafat pada 1050 Hijriah, yang menuangkan gagasannya secara rinci dalam kitab klasik berjudul Adabul Ulama wal Muta’allimin.
Dalam karya tersebut, ia memetakan setidaknya empat belas adab dan kualitas yang semestinya melekat pada diri seorang pendidik — sebuah rumusan berabad-abad silam yang, anehnya, masih terasa relevan untuk menjawab persoalan pendidikan hari ini.
Niat Ikhlas, Fondasi yang Tak Bisa Ditawar
Menurut Syekh Husein Al-Yamani, hal pertama dan paling mendasar yang wajib dimiliki seorang guru bukanlah metode mengajar yang canggih, melainkan niat. Aktivitas mendidik, tegasnya, harus diteguhkan semata-mata untuk meraih rida Allah, bukan demi mengejar popularitas, jabatan, atau keuntungan duniawi semata. Lebih jauh, mengajar juga memiliki misi yang jauh lebih besar: menyebarkan ilmu, menghidupkan syariat, merawat tradisi keilmuan, sekaligus menjaga keberlangsungan kebaikan umat lewat lahirnya generasi ulama dan ahli di berbagai bidang.
Dengan niat yang lurus, seorang guru sesungguhnya sedang menempatkan dirinya dalam mata rantai keilmuan panjang yang diwariskan langsung dari Nabi Muhammad SAW — sebuah kedudukan yang menurut Syekh Husein tidak boleh dipandang remeh.
Jang an Menyerah pada Murid yang Belum Sepenuh Hati
Poin menarik lain yang digarisbawahi adalah sikap guru terhadap murid yang niatnya belum sepenuhnya ikhlas dalam menuntut ilmu. Syekh Husein Al-Yamani menegaskan, seorang guru tidak sepatutnya menolak mengajar hanya karena melihat muridnya belum menunjukkan ketulusan penuh. Sebab, menurutnya, ketulusan niat itu sesuatu yang bisa tumbuh dan matang seiring berjalannya proses belajar itu sendiri.
Ia juga mengingatkan pentingnya keseimbangan dalam proses belajar-mengajar. Memaksakan diri secara berlebihan tanpa memperhatikan batas kemampuan, baik fisik maupun mental, justru berisiko membuat proses belajar itu berhenti di tengah jalan — bukannya makin dekat pada tujuan, energi murid maupun sarana belajarnya bisa habis sia-sia. Karena itulah, guru dituntut punya kepekaan: mendorong semangat murid secara bertahap, sembari tetap menjaga keberlangsungan proses belajar dalam jangka panjang.
Mengajar dari Akar, Bukan Sekadar Hafalan.
Adab lain yang tak kalah penting menurut kitab ini adalah kemampuan guru menjelaskan kaidah-kaidah dasar dari setiap tema yang tengah dipelajari. Pemahaman yang kokoh terhadap prinsip dasar suatu ilmu, menurut Syekh Husein, akan membantu murid menguasai materi secara sistematis dan runtut — bukan sekadar menghafal potongan-potongan informasi tanpa memahami keterkaitannya. Pendekatan semacam ini menempatkan guru bukan hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga arsitek cara berpikir muridnya.
Ketiga adab di atas hanyalah sebagian kecil dari empat belas poin yang dirumuskan Syekh Husein Al-Yamani dalam Adabul Ulama wal Muta’allimin. Namun benang merahnya sudah cukup jelas: kualitas seorang guru tidak berhenti pada penguasaan materi, melainkan mencakup kelurusan niat, kesabaran menghadapi karakter murid yang beragam, hingga strategi pengajaran yang sistematis dan berkesinambungan.
Rumusan semacam ini menegaskan bahwa dalam tradisi keilmuan Islam, profesi mengajar tidak pernah diposisikan sebagai pekerjaan biasa. Ia adalah amanah keilmuan yang menyambungkan generasi ke generasi, dengan guru sebagai simpul penghubungnya.
Relevansi bagi Wajah Pendidikan Hari Ini
Di tengah keluhan tentang menurunnya rasa hormat murid kepada guru, tekanan administratif yang membebani tenaga pendidik, hingga sorotan publik atas berbagai kasus kekerasan di lingkungan sekolah, gagasan Syekh Husein Al-Yamani hadir sebagai cermin sekaligus pengingat. Bahwa sebelum berbicara soal kurikulum, teknologi, atau metode pengajaran paling mutakhir sekalipun, pertanyaan paling mendasar justru terletak pada niat: untuk apa sebenarnya seseorang memilih menjadi guru?
Warisan pemikiran ulama klasik ini membuktikan bahwa persoalan kualitas pendidik bukan semata isu modern. Ia adalah pergumulan panjang yang terus relevan diperbincangkan lintas zaman, dan kembali ke akar niat serta adab bisa jadi merupakan langkah awal paling sederhana untuk membenahi wajah pendidikan yang lebih manusiawi.
Sumber : NU Online



