{"id":5102,"date":"2026-02-27T14:45:50","date_gmt":"2026-02-27T07:45:50","guid":{"rendered":"https:\/\/mui-bogor.org\/?p=5102"},"modified":"2026-02-27T14:45:51","modified_gmt":"2026-02-27T07:45:51","slug":"puasa-sebagai-simulasi-survival","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/kalam\/puasa-sebagai-simulasi-survival\/","title":{"rendered":"Puasa Sebagai Simulasi Survival"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><a href=\"http:\/\/mui-bogor.org\" type=\"link\" id=\"mui-bogor.org\">MUI-BOGOR.ORG<\/a><\/strong> &#8211; Menahan nafsu (lebih luas dari menahan lapar dan haus) dari fajar hingga senja sebagaimana definisi puasa seringkali dianggap sebagai ritual semata. Namun sesungguhnya terdapat banyak dimensi yang terkandung di dalam ibadah ini yang menunggu untuk diambil hikmahnya. Seperti bila diperhatikan sejak awal kehidupan manusia, akan kita dapati bahwa puasa adalah latihan bertahan hidup (survival) paling purba yang dimiliki manusia (Mattson. 2019). Puasa sesungguhnya melatih menghadapi kelangkaan dan menunda kepuasan.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika pada level individu puasa melatih manusia menghadapi kelangkaan, maka pada level masyarakat prinsip yang sama dikenal dalam ilmu ekonomi modern dikenal sebagai \u201cekonomi puasa\u201d atau kebijakan ikat pinggang. Ia secara prinsip memiliki banyak kemiripan dengan ekonomi perang. Pasalnya, keduanya bekerja pada cara mengalihkan sumber daya demi satu tujuan berupa bertahan hidup.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagaimana kesamaannya? Di masa perang, industri sipil dialihkan untuk produksi militer. Istilahnya, terigu dikurangi agar pesawat bertambah. Sama halnya di masa damai namun dalam mode krisis fiskal, belanja publik dipangkas selain subsidi dikurangi agar negara tidak bangkrut. Logika alih daya ini sederhana bahwa ketika sumber daya langka, kita tidak bisa mempertahankan semua hal sekaligus. Kita harus memilih mana yang harus dikonsumsi sekarang dan mana yang bisa ditunda kemudian untuk bisa bertahan. Di sinilah puasa menjadi analogi terkait.<\/p>\n\n\n\n<p>Bahkan dalam situasi krisis, pengalihan prioritas lebih condong ke penentu hidup mati lebih dibanding sekadar pilihan tata kelola. Kelangkaan pangan bisa berubah menjadi kerusuhan misalnya. Sebagaimana halnya krisis moneter bisa menjelma menjadi kolaps berjamaah. Ini bukanlah sekadar teori. Sejarah menunjukkan bagaimana bangsa-bangsa dipaksa menjalani \u201cpuasa kolektif\u201d dalam konteks ekonomi.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita dapat melihat contoh terdekat pada krisis utang Yunani di tahun 2009-2018. Saat hampir gagal bayar pada 2015, Yunani memilih keputusan sulit berupa pemangkasan belanja publik, reformasi pajak dan pengurangan dana pensiun (McBride.et.al. 2022). \u201cPuasa nasional\u201d atau pengencangan ikat pinggang ini tentu saja memicu protes. Namun pada akhirnya berhasil menyelamatkan mereka dari kebangkrutan massal.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebaliknya, Sri Lanka pada 2022 menjadi pelajaran tentang kegagalan &#8220;berpuasa&#8221; tepat waktu. Pemotongan pajak drastis menggerus pendapatan negara, larangan pupuk kimia secara tiba-tiba menghancurkan produksi pangan (Koop. 2022). Tidak ada pengalihan prioritas yang rasional (Central Bank of Srilanka. 2022) Hasilnya dapat diprediksi terjadinya kelangkaan bahan bakar, pangan hingga runtuhnya pemerintahan. Sebuah bangsa yang berpuasa tidak tepat waktu akhirnya masuk pada kondisi yang menyakitkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Apa yang dialami bangsa-bangsa yang telah disebutkan itu sebenarnya merupakan gambaran besar dari proses yang setiap individu jalani dalam ibadah puasa. Karena saat seseorang menahan lapar, ia sedang mempraktikkan pengendalian (diri) konsumsi. Saat ia menunda makan, ia sedang belajar bahwa tidak semua dorongan harus selalu dipenuhi. Saat ia memilih berbuka secukupnya, ia belajar efisien dalam kelangkaan. Dalam berpuasa, seseorang menerapkan satu prinsip dasar survival yaitu fokus pada hal yang benar-benar penting.<\/p>\n\n\n\n<p>Hasil penelitian menemukan bahwa tubuh manusia mampu bertahan tanpa asupan berjam-jam, bahkan berhari-hari dalam kondisi tertentu (Kottusch.et.al. 2019). Ini dapat diterjemahkan betapa banyak kebutuhan yang kita anggap \u201cmendesak\u201d sebenarnya hanyalah kebiasaan. Puasa memberikan kesadaran bahwa bertahan hidup bukan soal mencari kelimpahan, melainkan soal mangelola keterbatasan.<\/p>\n\n\n\n<p>Masih merujuk pada amatan survival berbagai negara, sebuah bangsa hanya akan sekuat karakter warganya. Dampaknya sudah dapat ditebak, jika individu terbiasa hidup konsumtif atau alergi pada pengetatan, maka kebijakan \u201cpuasa\u201d (bila terjadi krisis) di tingkat negara akan selalu ditolak. Tetapi jika masyarakat telah terbiasa dengan puasa, maka mobilisasi nasional menghadapi krisis akan menjadi semakin besar peluang berhasilnya. Namun satu syarat mau tidak mau harus diterapkan, yaitu prinsip keadilan bagi seluruh warga negara.<\/p>\n\n\n\n<p>Puasa yang diajarkan agama sebagaimana kita ketahui bersifat kolektif dan setara. Inilah mengapa puasa tidak hanya mewajibkan kepada satu golongan saja, mereka yang kaya dan yang miskin sama-sama menahan lapar. Jika dalam konteks negara hanya rakyat kecil yang diminta mengencangkan ikat pinggang sementara elit tetap berpesta, maka itu bukan latihan survival namanya, melainkan pengkhianatan terhadap kontrak sosial. Dampaknya bisa memperparah krisis sebagaimana ketidakadilan dalam penerapan pajak di Srilanka (Hrw.org. 2025).<\/p>\n\n\n\n<p>Survival of the fittest sebagaimana dikemukakan seorang sosiolog Inggris, Herbert Spencer pada tahun 1864, dalam konteks bangsa ini bukan berarti yang lemah dibiarkan gugur. Tetapi ia yang paling disiplin dan paling mampu mengalihkan prioritaslah yang bertahan. Bukan yang paling kaya atau paling kuat, tetapi yang paling siap menunda kesenangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Puasa, pada akhirnya, adalah kawah candradimuka ketahanan hidup. Ia mengajarkan bahwa badai (dalam bentuk krisis ekonomi, konflik, pandemi dan seterusnya) pasti akan datang. Bangsa yang telah terbiasa berpuasa akan lebih siap menghadapi badai itu. Sebaliknya, bangsa yang tidak terbiasa akan terkejut dan gagap tanggap. Karena itu, puasa bukan sekadar ibadah tahunan. Ia adalah simulasi survival atau latihan agar manusia dan bangsa tidak panik ketika masa sulit benar-benar datang.<\/p>\n\n\n\n<p>Wallahu a\u2018lam bi as shawab<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1000\" height=\"563\" src=\"https:\/\/mui-bogor.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/WhatsApp-Image-2023-08-11-at-09.39.58-1000x563.jpg\" alt=\"Dr. M. Taufik Hidayatulloh, M.Si\" class=\"wp-image-930\" srcset=\"https:\/\/mui-bogor.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/WhatsApp-Image-2023-08-11-at-09.39.58-1000x563.jpg 1000w, https:\/\/mui-bogor.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/WhatsApp-Image-2023-08-11-at-09.39.58-700x394.jpg 700w, https:\/\/mui-bogor.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/WhatsApp-Image-2023-08-11-at-09.39.58-400x225.jpg 400w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Penulis: Dr. M. Taufik Hidayatullah, M.Si (Wakil Sekretaris  MUI Kabupaten Bogor\/Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MUI-BOGOR.ORG &#8211; Menahan nafsu (lebih luas dari menahan lapar dan haus) dari fajar hingga senja<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5107,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[112,50],"class_list":["post-5102","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kalam","tag-kalam-ulama","tag-mui-kabupaten-bogor"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Puasa Sebagai Simulasi Survival &#187; mui-bogor.org<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/kalam\/puasa-sebagai-simulasi-survival\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Puasa Sebagai Simulasi Survival &#187; mui-bogor.org\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"MUI-BOGOR.ORG &#8211; Menahan nafsu (lebih luas dari menahan lapar dan haus) dari fajar hingga senja\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/kalam\/puasa-sebagai-simulasi-survival\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"mui-bogor.org\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-02-27T07:45:50+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-02-27T07:45:51+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/mui-bogor.org\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/WhatsApp-Image-2026-02-27-at-2.43.28-PM.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1536\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Editor\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Editor\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/index.php\\\/kalam\\\/puasa-sebagai-simulasi-survival\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/index.php\\\/kalam\\\/puasa-sebagai-simulasi-survival\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Editor\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d83179d76100f26cb9b5360d1c1ad44e\"},\"headline\":\"Puasa Sebagai Simulasi Survival\",\"datePublished\":\"2026-02-27T07:45:50+00:00\",\"dateModified\":\"2026-02-27T07:45:51+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/index.php\\\/kalam\\\/puasa-sebagai-simulasi-survival\\\/\"},\"wordCount\":765,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/index.php\\\/kalam\\\/puasa-sebagai-simulasi-survival\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/02\\\/WhatsApp-Image-2026-02-27-at-2.43.28-PM.jpeg\",\"keywords\":[\"Kalam Ulama\",\"MUI Kabupaten Bogor\"],\"articleSection\":[\"Kalam\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/index.php\\\/kalam\\\/puasa-sebagai-simulasi-survival\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/index.php\\\/kalam\\\/puasa-sebagai-simulasi-survival\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/index.php\\\/kalam\\\/puasa-sebagai-simulasi-survival\\\/\",\"name\":\"Puasa Sebagai Simulasi Survival &#187; mui-bogor.org\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/index.php\\\/kalam\\\/puasa-sebagai-simulasi-survival\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/index.php\\\/kalam\\\/puasa-sebagai-simulasi-survival\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/02\\\/WhatsApp-Image-2026-02-27-at-2.43.28-PM.jpeg\",\"datePublished\":\"2026-02-27T07:45:50+00:00\",\"dateModified\":\"2026-02-27T07:45:51+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/index.php\\\/kalam\\\/puasa-sebagai-simulasi-survival\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/index.php\\\/kalam\\\/puasa-sebagai-simulasi-survival\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/index.php\\\/kalam\\\/puasa-sebagai-simulasi-survival\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/02\\\/WhatsApp-Image-2026-02-27-at-2.43.28-PM.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/02\\\/WhatsApp-Image-2026-02-27-at-2.43.28-PM.jpeg\",\"width\":1536,\"height\":1024,\"caption\":\"Ilustrasi Puasa Sebagai Simulasi Survival.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/index.php\\\/kalam\\\/puasa-sebagai-simulasi-survival\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Puasa Sebagai Simulasi Survival\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/\",\"name\":\"mui-bogor.org\",\"description\":\"Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bogor\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/#organization\",\"name\":\"MUI Kabupaten Bogor\",\"url\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/12\\\/berita-mui.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/12\\\/berita-mui.jpg\",\"width\":1000,\"height\":563,\"caption\":\"MUI Kabupaten Bogor\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d83179d76100f26cb9b5360d1c1ad44e\",\"name\":\"Editor\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/7b9318c392e92066d58e9c4df9dd7a86b4e735260915f920d0fc5396a3381835?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/7b9318c392e92066d58e9c4df9dd7a86b4e735260915f920d0fc5396a3381835?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/7b9318c392e92066d58e9c4df9dd7a86b4e735260915f920d0fc5396a3381835?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Editor\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/mui-bogor.org\\\/index.php\\\/author\\\/editor\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Puasa Sebagai Simulasi Survival &#187; mui-bogor.org","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/kalam\/puasa-sebagai-simulasi-survival\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Puasa Sebagai Simulasi Survival &#187; mui-bogor.org","og_description":"MUI-BOGOR.ORG &#8211; Menahan nafsu (lebih luas dari menahan lapar dan haus) dari fajar hingga senja","og_url":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/kalam\/puasa-sebagai-simulasi-survival\/","og_site_name":"mui-bogor.org","article_published_time":"2026-02-27T07:45:50+00:00","article_modified_time":"2026-02-27T07:45:51+00:00","og_image":[{"width":1536,"height":1024,"url":"https:\/\/mui-bogor.org\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/WhatsApp-Image-2026-02-27-at-2.43.28-PM.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Editor","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Editor","Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/kalam\/puasa-sebagai-simulasi-survival\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/kalam\/puasa-sebagai-simulasi-survival\/"},"author":{"name":"Editor","@id":"https:\/\/mui-bogor.org\/#\/schema\/person\/d83179d76100f26cb9b5360d1c1ad44e"},"headline":"Puasa Sebagai Simulasi Survival","datePublished":"2026-02-27T07:45:50+00:00","dateModified":"2026-02-27T07:45:51+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/kalam\/puasa-sebagai-simulasi-survival\/"},"wordCount":765,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/mui-bogor.org\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/kalam\/puasa-sebagai-simulasi-survival\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/mui-bogor.org\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/WhatsApp-Image-2026-02-27-at-2.43.28-PM.jpeg","keywords":["Kalam Ulama","MUI Kabupaten Bogor"],"articleSection":["Kalam"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/kalam\/puasa-sebagai-simulasi-survival\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/kalam\/puasa-sebagai-simulasi-survival\/","url":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/kalam\/puasa-sebagai-simulasi-survival\/","name":"Puasa Sebagai Simulasi Survival &#187; mui-bogor.org","isPartOf":{"@id":"https:\/\/mui-bogor.org\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/kalam\/puasa-sebagai-simulasi-survival\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/kalam\/puasa-sebagai-simulasi-survival\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/mui-bogor.org\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/WhatsApp-Image-2026-02-27-at-2.43.28-PM.jpeg","datePublished":"2026-02-27T07:45:50+00:00","dateModified":"2026-02-27T07:45:51+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/kalam\/puasa-sebagai-simulasi-survival\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/kalam\/puasa-sebagai-simulasi-survival\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/kalam\/puasa-sebagai-simulasi-survival\/#primaryimage","url":"https:\/\/mui-bogor.org\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/WhatsApp-Image-2026-02-27-at-2.43.28-PM.jpeg","contentUrl":"https:\/\/mui-bogor.org\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/WhatsApp-Image-2026-02-27-at-2.43.28-PM.jpeg","width":1536,"height":1024,"caption":"Ilustrasi Puasa Sebagai Simulasi Survival."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/kalam\/puasa-sebagai-simulasi-survival\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/mui-bogor.org\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Puasa Sebagai Simulasi Survival"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/mui-bogor.org\/#website","url":"https:\/\/mui-bogor.org\/","name":"mui-bogor.org","description":"Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bogor","publisher":{"@id":"https:\/\/mui-bogor.org\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/mui-bogor.org\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/mui-bogor.org\/#organization","name":"MUI Kabupaten Bogor","url":"https:\/\/mui-bogor.org\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/mui-bogor.org\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/mui-bogor.org\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/berita-mui.jpg","contentUrl":"https:\/\/mui-bogor.org\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/berita-mui.jpg","width":1000,"height":563,"caption":"MUI Kabupaten Bogor"},"image":{"@id":"https:\/\/mui-bogor.org\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/mui-bogor.org\/#\/schema\/person\/d83179d76100f26cb9b5360d1c1ad44e","name":"Editor","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/7b9318c392e92066d58e9c4df9dd7a86b4e735260915f920d0fc5396a3381835?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/7b9318c392e92066d58e9c4df9dd7a86b4e735260915f920d0fc5396a3381835?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/7b9318c392e92066d58e9c4df9dd7a86b4e735260915f920d0fc5396a3381835?s=96&d=mm&r=g","caption":"Editor"},"url":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/author\/editor\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5102","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5102"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5102\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5106,"href":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5102\/revisions\/5106"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5107"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5102"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5102"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mui-bogor.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5102"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}