Wednesday, 7 October 2026

AI dan Masa Depan Dakwah, Kader PKU 20 Diminta Bijak Manfaatkan Teknologi

Kamis, 17 September 2026 | 14:30 WIB
Istikhoriyah Aulia Putri
ISTIKHORIYAH AULIA PUTRI Tim Redaksi

Sukaraja, MUI Online – Pendidikan Kader Ulama (PKU) Angkatan XX Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor memasuki pekan ketujuh yang berlangsung pada Sabtu, 12 September 2026 di Wisma Dharmais, Sukaraja, Kabupaten Bogor.

Pertemuan tersebut menghadirkan Faisal Wibowo, M.I.Kom., Dosen Sekolah Vokasi IPB University sekaligus alumni PKU Angkatan XI MUI Kabupaten Bogor, yang menyampaikan materi bertajuk “AI dan Masa Depan Dakwah: Dari AGI, ASI, hingga Singularity.”

Faisal Wibowo menjelaskan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi salah satu perubahan besar yang harus disikapi secara kritis oleh para kader ulama.

Faisal Wibowo, M.I.Kom., menyampaikan materi ( Foto: Tim Media PKU 20)

Menurut dia, teknologi AI tidak dapat dihindari, namun harus diarahkan agar tetap berjalan sesuai nilai-nilai Islam dan tidak menggeser peran manusia.

“Dalam konteks dakwah, apakah teknologi AI ini menjadi mitra kita, ataukah justru malah menggantikan peran dakwah kita? AI ini adalah sebuah lompatan besar, sebuah perubahan besar yang harus kita pahami, kita sikapi dengan ilmu, dan juga kita arahkan dengan nilai-nilai Islam,” ujar Kang Faisal.

Kang Faisal juga menjelaskan bahwa perkembangan AI berlangsung melalui beberapa tahapan, mulai dari Narrow AI, yaitu kecerdasan buatan yang dirancang untuk tugas tertentu, kemudian Artificial General Intelligence (AGI), Artificial Superintelligence (ASI), hingga Singularity.

Kang Faisal melanjutkan, bahwa saat ini, sebagaimana mengutip Demis Hassabis, ex-CEO Google-DeepMind, kita berada di era kecerdasan yang bergerigi (jagged intelligence), yaitu kondisi ketika AI memiliki kemampuan yang sangat jenius atau superior dalam bidang tertentu, tetapi masih memiliki keterbatasan dalam memahami konteks keislaman, budaya lokal, serta pertimbangan nilai dan etika.

Suasana Perkuliahan PKU Angkatan XX. (Foto: Tim Media PKU 20)

Kang Faisal juga mengingatkan, dalam konteks dakwah di era AI muncul sejumlah tantangan, seperti kesalahan informasi berupa halusinasi dalil dan fatwa, penggunaan teknologi deepfake yang mengatasnamakan tokoh agama, serta perubahan pola masyarakat yang mulai bergantung kepada AI dalam mencari jawaban soal keagamaan.

“AI hari ini bisa sangat hebat dalam memproduksi konten apapun, tetapi soal urusan kebenaran, konteks sosial, tanggung jawab, dan sanad keilmuan tidak bisa, manusia yang hanya bisa melakukan itu. Kita harus hidup berdampingan dengan AI tanpa tergantung padanya,” tegas dia.

Lebih lanjut, Kang Faisal juga menjelaskan para kader ulama perlu menjadi penjaga keabsahan syariat, pembangun ekosistem digital Islam, pengarah etika pemanfaatan teknologi, serta pemberdaya literasi masyarakat.

Dia mendorong para kader PKU XX agar tidak menjauh dari teknologi digital, tetapi mampu memanfaatkannya sebagai sarana memperluas dakwah Islam melalui berbagai platform seperti YouTube dan TikTok dengan tetap mengedepankan ilmu, adab, dan tanggung jawab.

“Teknologi boleh melampaui kita dalam kecepatan. Ia tidak akan pernah menggantikan niat, keikhlasan, dan tanggung jawab seorang ulama. Manusia tetap khalifah, ulama tetap penjaga, dan AI adalah amanah yang harus kita arahkan,” pungkas dia.

Editor: Istikhoriyah Aulia Putri
Kontributor: Sodikin Masykur