MUI-BOGOR.ORG – Cibinong – Masjid bukan sekadar bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah pusat peradaban, tempat tumbuhnya semangat gotong royong, pendidikan, hingga pemberdayaan umat. Di era digital seperti sekarang, pengelolaan masjid juga dituntut untuk bergerak lebih adaptif, lebih modern, tanpa kehilangan ruh keikhlasannya. Inilah yang tengah dipersiapkan oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Bogor melalui program bertajuk Transformasi Digital Kemasjidan.
Program ini bukan sekadar jargon. DMI Kabupaten Bogor menyadari pentingnya membangun sistem yang mampu memperkuat koordinasi antara DMI dan seluruh masjid di 40 kecamatan se-Kabupaten Bogor. Selama ini, banyak potensi kebaikan yang berserakan namun belum terhubung dengan optimal. Ada masjid yang aktif dalam kegiatan sosial, ada yang giat mengembangkan pendidikan, bahkan ada pula yang sudah memanfaatkan teknologi untuk dakwah digital namun belum saling terintegrasi.

Lewat program ini, DMI Kabupaten Bogor akan melakukan pendataan menyeluruh terhadap seluruh masjid, mushola, dan elemen pengurusnya. Data ini akan menjadi pondasi untuk membangun ekosistem kemasjidan yang lebih terstruktur dan responsif. Bukan hanya mencatat jumlah masjid, tapi juga mengidentifikasi aktivitasnya, potensi jamaahnya, hingga kesiapan digital masing-masing masjid.
Lebih dari itu, program ini juga akan memperkenalkan platform digital yang dapat dimanfaatkan oleh para pengurus masjid sebagai sarana koordinasi, edukasi, hingga publikasi kegiatan. Tujuannya sederhana: agar setiap masjid di Bogor tidak berjalan sendiri-sendiri, tapi saling terhubung dalam satu gerakan bersama.
Dalam Islam, kekuatan umat sangat ditentukan oleh kekompakan dan keterhubungan antar elemen. Rasulullah Saw bersabda: “Perumpamaan orangorang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi ibarat satu tubuh; jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan sakit dengan berjaga dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Semangat inilah yang ingin dihidupkan kembali melalui transformasi digital ini: bahwa setiap masjid adalah bagian dari tubuh besar umat Islam di Bogor yang harus saling menopang, saling menguatkan, dan saling mendukung dalam dakwah dan pelayanan sosial.
“Digitalisasi bukan soal mengganti nilai-nilai, tapi soal mempercepat dan memperluas manfaatnya,” ujar Ketua DMI Kabupaten Bogor. “Kita ingin masjid-masjid di Bogor ini saling menyapa, saling belajar, dan saling menguatkan. Dan untuk itu, kita butuh sistem yang rapi, cepat, dan akurat.”
Transformasi Digital Kemasjidan ini rencananya akan diluncurkan secara resmi dalam waktu dekat, dengan menggandeng berbagai pihak termasuk MUI, pemerintah daerah, akademisi, dan para tokoh masyarakat. Launching ini bukan akhir dari sebuah inisiatif, melainkan awal dari sebuah gerakan panjang untuk menyiapkan masjid-masjid di Kabupaten Bogor sebagai pilar peradaban digital yang tetap berlandaskan nilai-nilai Islam.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, DMI Kabupaten Bogor mengajak seluruh pengurus masjid, takmir, dan jamaah untuk bersama-sama menyukseskan program ini. Karena masa depan masjid bukan hanya tentang bangunan yang megah, tapi juga tentang keterhubungan, kecepatan layanan, dan kepekaan terhadap zaman. (Deden)
Berita ini sudah tayang di Majalah Kalam Ulama Edisi ke-28