MUI-BOGOR.ORG – Megamendung – Di bawah langit yang berkabut, Kamis (29/5/2025), suasana di Pondok Pesantren Al Mushthafawiyah terasa sejuk. Bukan hanya karena semilir udara pegunungan, tetapi juga karena canda tawa, sapa, dan kehangatan persaudaraan para alumni Pendidikan Kader Ulama (PKU) Korwil Bogor Selatan. Mereka datang dari Cigombong, Cijeruk, Tamansari, Caringin, Ciawi, Cisarua, dan Megamendung, bersilaturahmi sekaligus berdiskusi tentang nasib pesantren, lembaga pendidikan Islam yang selama ratusan tahun menjadi benteng moral dan peradaban bangsa.
Silaturahmi kali ini bukan hanya sekadar momen untuk ‘ngopi’ dan ‘ngudud’ serta temu kangen saja, namun ada satu kegelisahan bersama yang menyatukan, yakni fenomena menurunnya minat masyarakat menyekolahkan anaknya ke pesantren, terutama terlihat dari penurunan pendaftar santri baru hingga 15–45 persen dalam tiga hingga empat tahun terakhir. Apa yang terjadi? Mengapa pesantren yang dulu begitu dicari, kini seolah mulai dijauhi?
Suasana diskusi mulai menghangat, saat Kang Faisal, alumni PKU Angkatan XI dari Cigombong, selaku moderator, memulai dengan satu hipotesa. “Framing negatif media massa dan media online yang masif memberitakan kasus kekerasan, pelecehan seksual, bully yang muncul di sejumlah pesantren langsung menghebohkan, padahal itu hanya ulah segelintir oknum. Akibatnya, pesantren secara umum ikut kena stigma negatif,” ujarnya.

Tentu saja, para alumni PKU yang hadir sebagian besar para pimpinan pesantren dan juga pengasuh pesantren, tak tinggal diam mendengar itu. Ustadz Bay Amri Hakim, Pimpinan Pesantren Tahfizh Al Qur’an Darul Ulum Lido Cigombong yang juga alumni PKU angkatan XI, angkat bicara. Menurutnya, kesalahan berpikir masyarakat seringkali mengeneralisasi.
“Padahal sekolah umum juga banyak kok kasus serupa, bahkan mungkin lebih parah. Tapi kenapa yang ramai di media justru hanya pesantren?” katanya. Ia juga menyinggung contoh sederhana film Malaysia berjudul Walid yang viral. Meskipun mengandung sisi religius dan edukatif, namun film itu secara tak sadar memberikan persepsi negatif tentang lingkungan pesantren.
Pandangan lain datang dari Ustadz H. Cecep Gogom, alumni PKU angkatan I. Baginya, tantangan pesantren tak hanya soal stigma negatif, tapi juga kebutuhan zaman. Pesantren salafiyah memang sangat bergantung pada kharisma atau figur seorang kyai, tapi kini masyarakat juga menuntut kualitas fasilitas, kurikulum yang terintegrasi antara umum dan agama, penguasaan bahasa, dan standar pendidikan modern. “Kita tak bisa hanya mengandalkan tradisi. Harus ada modernisasi yang bijak, tanpa menghilangkan ruh pesantren,” ujarnya.

Diskusi semakin menarik ketika Ustadz Muhyi alumni PKU dari Caringin menyuarakan faktor eksternal lain yakni ekonomi. Meski pandemi Covid-19 sudah berlalu, dampaknya masih membekas hingga kini. Banyak kepala keluarga kehilangan pekerjaan atau usahanya bangkrut, sehingga biaya pesantren yang relatif mahal terutama untuk model pesantren modern terasa berat. Tak heran jika banyak orang tua akhirnya memilih sekolah negeri yang lebih murah, bahkan gratis.
“Tapi ini juga peluang untuk pesantren, kita harus kreatif berinovasi, mempromosikan diri, menampilkan keunggulan-keunggulan pesantren di media sosial, di mana arus informasi bergerak cepat. Alumni pesantren sebenarnya adalah brosur berjalan terbaik. Mereka bisa menjadi jembatan untuk membangun citra positif,” tambahnya.
Kesadaran, Ilmu, dan Tindakan: Tritangtu Kader Ulama
Diskusi semakin hangat, saat H. Irfan Awaludin, Sekretaris Umum MUI Kabupaten Bogor, menyampaikan pandangannya. Alumni PKU angkatan III dari Ciawi ini bicara dengan nada reflektif, menyuntikkan semangat di tengah kegelisahan.
Ia mengingatkan para alumni akan prinsip tritangtu PKU: kesadaran, ilmu, dan tindakan. Mengutip filsuf Spanyol, Jose Ortega Gasset, Gus Irfan berkata, “Dunia ini butuh the select man, segelintir orang tercerahkan yang tak hanya memikirkan dirinya sendiri, tapi juga berjuang untuk perubahan besar bagi peradaban,” katanya.

Ia mengajak para alumni PKU untuk tidak larut dalam posisi sebagai mass-man kelompok besar yang sibuk mengejar urusan pribadi. “Apa artinya kita sebagai orang terdidik di pesantren, di kampus, jika hanya diam? Kita perlu kader yang berkesadaran tinggi, yang rela berjuang tanpa pamrih untuk perubahan yang lebih besar dari dirinya sendiri,” tegasnya.
Menariknya, Gus Irfan kemudian juga menyinggung Map of Consciousness David R. Hawkins, peta kesadaran yang menunjukkan bahwa dunia di luar hanyalah proyeksi kesadaran diri. Dunia bisa terasa gelap atau terang, menakutkan atau menyenangkan, tergantung pada bagaimana kita memandangnya.
“Di titik inilah kesadaran para kader ulama yang menjadi pimpinan pesantren atau yang mengajar di pesantren harus ditingkatkan. Jika kyainya, ustadznya belum selesai dengan dirinya sendiri, masih berpikir untung-rugi dan hanya memikirkan kepentingan pribadi, jangan harap pesantren itu bisa berkembang,” ujarnya.
Para alumni PKU, lanjut Gus Irfan, adalah pewaris tugas profetik untuk menjadi syahidan (saksi), mubassyiran (pembawa kabar gembira), nadziran (pemberi peringatan), da’iyan ilallah (penyeru kepada Allah), dan sirojan muniran (pelita yang menerangi), sebagaimana disebut dalam Al-Ahzab 45–46.
Diskusi sore itu tak memberi jawaban pasti. Tak ada resep instan untuk menyembuhkan luka citra pesantren atau membangkitkan kembali minat masyarakat. Tapi satu hal menjadi jelas, bahwa pesantren berada di persimpangan. Di satu sisi harus tetap menjaga ruh, tradisi, mempertahankan warisan para ulama terdahulu. Di sisi lain, harus beradaptasi dengan kebutuhan zaman, mulai dari inovasi kurikulum hingga digitalisasi. Yang terpenting, para alumni harus menjadi motor penggerak perubahan yang lebih baik, bukan hanya menunggu keadaan membaik dengan sendirinya.
Tantangan ke depan memang tidak mudah, kekuatan pesantren kini sedang diuji. Selama masih ada segelintir kader ulama, para alumni PKU yang tercerahkan dan berkesadaran tinggi yang mau berjuang, harapan pesantren menjadi solusi bagi peradaban bangsa akan terus menyala. (ed.fw)