Menata Ulang Gairah Kepesantrenan: Catatan Kritis Kader PKU Korwil Tengah

Menata Ulang Gairah Kepesantrenan: Catatan Kritis Kader PKU Korwil Tengah Silaturahmi Alumni PKU Korwil Bogor Tengah

MUI-BOGOR.ORG – Puluhan Kader Ulama MUI Kabupaten Bogor dari Korwil Bogor Tengah (Cibinong, Sukaraja, Babakan Madang, Bojonggede, dan Citeureup) berkumpul di Pondok Pesantren Budi Guna, Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, Sabtu (21/6/2025). Mereka datang bukan hanya untuk bersilaturahmi, tapi juga untuk berdiskusi dan berbagi pandangan tentang berbagai persoalan yang dihadapi saat ini.

Forum ini diawali dengan renungan reflektif dari Ketua LPKPU MUI Kabupaten Bogor, Ahmad Zulfiqor, S.Hum. Dengan hangat dan santai, ia memaparkan materi bertajuk “PAX MUI-NA: Dua Dekade Kepemimpinan Prof. Dr. KH. Ahmad Mukri Aji, M.A., M.H.” Sebuah perjalanan panjang sejak 2005 yang menandai era keemasan MUI Kabupaten Bogor.

Ketua LPKPU MUI Kabupaten Bogor, Ahmad Zulfiqor, S.Hum. Foto: Aida

“Pak Kiai Mukri adalah tokoh yang tak hanya menyusun gagasan, tapi mewujudkannya dalam gerakan,” ujar Kang Fiqor sapaan akrabnya. Ia menunjuk pada konsistensi penyelenggaraan program Pendidikan Kader Ulama (PKU) yang telah berlangsung selama 19 angkatan sebagai bukti nyata.

Suasana semakin menghangat saat Sekretaris Umum MUI Kabupaten Bogor, H. Irfan Awaludin, M.Si., naik bicara. Ia mengajak hadirin menelusuri Sejarah Islam di Citeureup, salah satunya Masjid As-Shoheh dan peran Pangeran Eyang Sake yang menjadi simbol jejak peradaban Islam yang perlu diwarisi. “Citeureup ini garis istimewa, garis lintangnya bernuansa perjuangan,” ujarnya, sambil mengajak kader PKU setempat meneladani tokoh ulama lokal seperti Mama Utsman Ismail dari Desa Tajur.

Sekretaris Umum MUI Kabupaten Bogor, H. Irfan Awaludin, M.Si. Foto: Aida

Selain itu, dihadapan para kader ulama Gus Irfan juga mengingatkan kembali filosofi Tritangtu Kader Ulama, yaitu Kesadaran – Ilmu pengetahuan – Tindakan, sebagai kerangka etik kader PKU. “Kalau hanya banyak, tapi tak bergerak, itu bukan kekuatan, itu hanya kerumunan,” tegasnya. Filosofi ini ia padankan dengan konsep tasawuf: takhalli, tahalli, tajalli. Kesadaran sebagai wadah, ilmu sebagai isi, dan tindakan sebagai manifestasi.

Usai pemaparan tersebut, suasana forum berubah menjadi diskusi terbuka. Pengurus LPKPU, Faisal Wibowo, memimpin jalannya dialog interaktif, dan satu per satu peserta menyampaikan pandangan. Seorang kader ulama dari zona tengah menyentil persoalan ekonomi sebagai faktor utama mengapa pesantren makin kurang diminati. Biaya pendidikan yang tak sedikit, ditambah pergaulan anak yang asing dari dunia pesantren, menjadi penyebab utama.

Suasana Silaturahmi Kader PKU MUI Kabupaten Bogor. Foto: Aida

Sementara kader ulama dari Bojonggede menambahkan bahwa pesantren harus mampu melakukan inovasi. Jika kurikulum stagnan dan sistem terlalu tradisional, masyarakat akan memilih alternatif lain. “Pesantren harus punya ‘ciri khas’ yang relevan,” ucapnya.

Namun pandangan berbeda datang dari Kang Ilham, Kader Ulama dari Cibinong, yang kini menjabat sebagai Ketua DMI Kecamatan Cibinong. Ia tidak menyalahkan sistem, tapi lebih pada para alumninya sendiri. “Kita ini yang sudah merasakan pesantren, seharusnya menjadi teladan sosial. Kalau santri hanya berkutat di dunia pendidikan dan tidak menjangkau lini strategis lain, bagaimana masyarakat bisa percaya?” katanya. Bagi Kang Ilham, stigma baik tentang pesantren bisa tumbuh dari kualitas lulusannya yang berkontribusi di ruang-ruang sosial yang nyata.

Ketua MUI Kecamatan Sukaraja, KH. Abdullah Jamaluddin (Alumni PKU Angkatan Pertama). Foto: Aida

Tak lama berselang, Sekretaris Umum MUI Kecamatan Citeureup, Ust. Fitri Almarogi, ikut menambah dimensi refleksi. Menurutnya, orientasi orang tua sekarang telah berubah. Jika dulu anak dikirim ke pesantren untuk jadi ulama, kini hanya agar lepas dari gawai dan pergaulan buruk. Ditambah lagi, angka kelahiran yang menurun, sementara pesantren bertambah banyak. “Permintaan dan penawaran tak seimbang. Orang tua sekarang juga lebih rasional, terutama soal biaya,” jelasnya.

Diskusi terus berlanjut, dan menjelang sore, Ketua MUI Kecamatan Sukaraja, KH. Abdullah Jamaluddin, memberi penutup yang menyentuh. Ia menegaskan bahwa kualitas dan potensi santri adalah kunci utama. Pesantren harus punya magnet, apakah lewat program tahfidz, beasiswa penuh, atau sistem pendidikan yang progresif. “Pesantren harus makin kreatif jika ingin tetap dipilih oleh masyarakat,” ujarnya.

Silaturahmi Kader Ulama Korwil Bogor Tengah ini mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Tapi percakapan yang terbangun, narasi yang disusun, dan komitmen yang ditegaskan, menjadi jejak penting dalam upaya menata ulang narasi ke-pesantren-an. Para kader ulama ini berharap bisa menyalakan kembali pelita pesantren yang mulai meredup di mata masyarakat. Dan dari mereka pula, masyarakat harus kembali percaya bahwa pesantren adalah ruang terbaik menanam nilai, bukan sekadar tempat menampung keresahan. (ed.fw)