Oleh: Dr. Taufik Hidayatullah, M.Si (Wakil Sekretaris MUI Kabupaten Bogor)
MUI-BOGOR.ORG – Belakangan ini, analisis Jiang Xueqin dari Guandong, Cina yang kini berkewarganegaraan Kanada demikian mencuri perhatian dunia. Ia dikenal luas melalui kanal YouTube “Predictive History”. Betapa tidak, ia dikenal karena dua prediksinya yang dianggap cukup tepat, yaitu ; naiknya Donald Trump ke kursi presiden Amerika Serikat dan meningkatnya konflik Amerika dengan Iran. Terakhir, ia mengajukan ramalan berani dengan mengatakan bahwa Amerika Serikat suatu saat bisa kalah dalam konflik melawan Iran.
Sontak saja, ia disebut-sebut sebagai Nostradamus baru, tentu dengan cara berpikir khasnya. Singkat cerita, Jiang melihat konflik sebagai permainan strategi jangka panjang, di mana kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang memiliki senjata paling canggih, namun kepada mereka yang siap untuk peperangan jangka panjang (perang atrisi). Dalam kerangka game theory, perang sering kali dimenangkan oleh pihak yang mampu bertahan paling lama, bukan yang menyerang paling hebat.
Di titik inilah muncul kejanggalan. Sistem militer Amerika Serikat dirancang untuk perang teknologi tinggi yang mahal. Sebagai misal, satu rudal pencegat dapat bernilai jutaan dolar, sementara ancaman yang datang hanya berupa drone murah yang biayanya puluhan ribu dolar. Secara hitungan kasar, ini seperti mencoba memukul nyamuk dengan bazoka.
Analisis Jiang menunjukkan bahwa Iran tidak hanya memikirkan aspek militer, tetapi juga dimensi lebih luas. Konflik bukan sekadar tentang menghancurkan pangkalan lawan atau melumpuhkan arsenal mematikan, melainkan apakah logistik perang musuh (baca: sistem ekonominya) dapat ditaklukkan. Jika jalur energi Teluk terganggu atau jika stabilitas pasar global terguncang, maka dampaknya diperkirakan tidak hanya akan terasa di medan perang, tetapi juga di jantung ekonomi Amerika Serikat.
Namun sebenarnya gagasan bahwa perang ditentukan oleh logistik bukanlah hal baru. Sejarah Nusantara menyimpan pelajaran menarik tentang hal ini. Berkaitan dengan armada Portugis di bawah Afonso de Albuquerque yang merebut Malaka pada tahun 1511, banyak orang menganggap kemenangan itu sebagai tanda superioritas teknologi Eropa.
Namun penguasa Demak membaca situasi dengan cara yang berbeda. Di bawah kepemimpinan Raden Patah, jatuhnya Malaka justru dipandang sebagai peluang strategis. Malaka memang pelabuhan dagang paling ramai di Asia Tenggara saat itu, tetapi ia memiliki kelemahan fatal. Pasalnya kota itu tidak mampu memproduksi pangan sendiri (Thomaz. 1991; Vann. 2014). Ia hidup dari pasokan bahan makanan dari luar yang diperoleh melalui jaringan pelabuhan Nusantara.
Selain melancarkan serangan frontal untuk merebut kembali kota itu, Demak melakukan manuver yang lebih luas. Pelabuhan seperti Jepara, Tuban, Gresik dan Surabaya dipromosikan untuk menjadi jalur perdagangan alternatif bagi para pedagang Asia yang tidak ingin tunduk pada monopoli Portugis saat itu (Maulana, et, al., 2024)
Hasilnya terlihat mematikan. Malaka yang sebelumnya menjadi magnet utama perdagangan Asia perlahan memudar, menjadi benteng yang terisolasi. Dalam situasi ini, meriam canggih Portugis tidak banyak membantu. Benteng A Famosa boleh saja berdiri kokoh, tetapi ketika pasokan pangan terhambat, kota itu segera menjadi beban logistik yang mahal bagi Portugal.
Serangan Adipati Unus pada 1513, yang dikenal sebagai Pangeran Sabrang Lor, memang tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka. Tetapi secara psikologis menunjukkan kekuatan maritim Jawa. Catatan Tome Pires dalam karya Suma Oriental bahkan menggambarkan bagaimana kapal jung Jawa yang raksasa membuat kapal Eropa tampak kecil di lautan (Aveoroes. 2022).
Namun kekuatan sesungguhnya bukan pada kekuatan militer itu sendiri. Senjata paling efektif justru berada pada senjata asimetris, salah satunya dengan pelemahan urat nadi logistik lawan, khususnya beras. Dengan memutus aliran pangan ke Malaka, Demak menciptakan situasi di mana Portugis memegang kendali wilayah, tetapi tidak memiliki makanan yang melemahkannya secara perlahan.
Sejarah kemudian mencatat Portugal tetap menguasai Malaka selama lebih dari satu abad, tetapi mereka tidak dapat mendominasi militer di Jawa. Biaya yang harus dikeluarkan untuk membuka “blokade ekonomi” dengan cara menghadapi jaringan pelabuhan Nusantara terlalu besar. Akhirnya perhatian mereka bergeser ke wilayah lain seperti Kepulauan Maluku yang secara geografis lebih mudah dikontrol.
Dari perspektif ini, ramalan Jiang dapat kita pahami lebih mudah. Ia bukan sekadar memprediksi hasil perang masa depan, melainkan membaca pola lama dalam sejarah. Negara jarang runtuh karena musuhnya tiba-tiba menjadi lebih kuat, namun lebih karena tiang utama penopangnya yang mulai rapuh.
Pelajaran dari konflik Demak dengan Portugis di abad ke-16 mengingatkan kita bahwa dalam percaturan geopolitik, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh kemampuan militer unggul, namun kepada mereka yang dapat mendikte atau memotong logistik ataupun sumber daya penting lawan. Pesan penting hari ini bukan pada apakah ramalan Jiang akan terbukti benar atau tidak, melainkan pada apakah para penguasa dunia hari ini masih memahami pelajaran lama tersebut?
Wallahu a‘lam bi as shawab





