Makna Puasa Ramadhan di Tengah Kekacauan Dunia

Makna Puasa Ramadhan di Tengah Kekacauan Dunia Gemini_Generated_Image
Penulis: Dr. M. Taufik Hidayatullah, M.Si (Wasekjen MUI Kabupaten Bogor)

MUI-BOGOR.ORG – Dunia hari-hari ini terasa semakin sulit dipahami. Konflik geopolitik meluas menyebabkan ekonomi dunia semakin gonjang ganjing. Beberapa analis menyebut dunia tempat kita saat ini sedang memasuki fase baru sejarah global yang penuh ketidakpastian.

Menariknya, dua pemikir dari latar belakang disiplin berbeda, Emmanuel Todd dan Ray Dalio, mereka berkesimpulan bahwa tatanan dunia yang dipimpin adidaya tunggal, Amerika Serikat sedang mengalami keruntuhannya. Pertanyaannya tidak saja mengapa dunia kacau, tetapi bagaimana manusia harus bersikap di tengah perubahan besar ini.

Lebih dari dua dekade lalu, Emmanuel Todd dalam buku aslinya berjudul l’Empire: Essai sur la décomposition du système américain (2002) yang diterjemahkan menjadi “Menjelang Keruntuhan Amerika,” diterbitkan oleh Penerbit Menara tahun 2006 telah mengajukan tesis yang saat itu dianggap provokatif bahwa Amerika Serikat bukanlah kekaisaran kuat, melainkan “pseudo empire” alias kekaisaran rapuh yang tampak dominan tetapi sebenarnya mengalami keretakan dari dalam.

Todd ini bukan ilmuwan politik biasa, ia juga seorang antropolog. Menjadikan ia membaca sejarah melalui berbagai perspektif, mulai dari struktur keluarga, dinamika populasi, ekonomi hingga budaya.

Menurut Todd, setelah Perang Dingin berakhir, Amerika Serikat tidak lagi menjadi problem solver dunia, melainkan bagian dari masalah global itu sendiri (yang kemudian disindir dalam banyak pemberitaan dunia dengan menyebutkannya sebagai polisi dunia).

Intervensi militer ke berbagai kawasan bukan tanda kekuatan (terakhir ke Iran setelah sebelumnya ke Venezuela, Afghanistan dan seterusnya), tetapi Theatrical Micromilitarism (menyembunyikan penurunan kekuasaan riil).

Di bidang ekonomi, Amerika Serikat dinilai mengalami “ekonomi bulimia” yaitu ekonomi yang bergantung pada dunia luar (modal asing). Istilah ini merujuk pada penderita bulimia yang mengonsumsi makanan dalam jumlah besar lalu memuntahkannya akibat ketidakmampuan internal.

Lebih jauh lagi, Amerika Serikat telah kehilangan legitimasi moral dengan munculnya eksklusivisme dan rasa unggul nasional (kebijakan Make America Great Again 2.0 yang digagas Trump).

Jika Todd berbicara dari awal abad ke-21, Ray Dalio berbicara dari titik realitas hari ini. Dalam analisis sebagaimana dapat kita saksikan pada facebook pribadinya (2026), Dalio menyatakan bahwa tatanan dunia pasca tahun 1945 secara efektif telah runtuh.

Saat ini dunia memasuki Tahap 6 dalam siklus sejarah. Inilah fase keruntuhan tatanan global. Ciri utamanya adalah hukum internasional melemah dan kekuatan fisik (baca: militer) serta ekonomi menjadi penentu utama. Dunia bergerak menuju hukum rimba di mana yang kuat akan memangsa yang lemah.

Dalio mengidentifikasi lima kekuatan krisis yang saling terkait seperti utang raksasa Amerika, polarisasi politik internal, rivalitas kekuatan blok besar, disrupsi teknologi Artificial Intelligence (AI) serta tekanan alam seperti perubahan iklim (bahkan pandemi).

Diplomasi global kehilangan wibawa yang dicirikan dengan lembaga internasional tidak lagi mampu menahan “nafsu” negara besar (dibuktikan dengan pendirian Board of Peace bentukan Trump yang dirancang sebagai alternatif strategis yang menantang dominasi PBB).

Menariknya, analisis Dalio secara tidak langsung menguatkan tesis Todd. Jika Todd melihat gejala kemunduran kepemimpinan Amerika Serikat sejak awal, Dalio menyaksikan fase manifestasinya. Keduanya bertemu pada satu kesimpulan bahwa krisis dunia bukan sekadar konflik politik, tetapi krisis struktur dunia dan nilai-nilai universal.

Todd menunjukkan bagaimana kekaisaran runtuh karena kehilangan fondasi sosial dan moral, sementara Dalio menunjukkan bagaimana keruntuhan itu menghasilkan sistem global tanpa aturan yang dihormati.

Tahun 2026 dunia menyaksikan krisis geopolitik global melalui serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang bertepatan dengan momentum Ramadhan. Peristiwa ini dipandang banyak pihak sebagai keruntuhan sistem hegemoni.

Di sinilah perspektif Islam menawarkan sesuatu bagi tatanan dunia. Jika tatanan dunia runtuh karena manusia kehilangan aturan bersama, maka puasa justru mengembalikan manusia pada aturan yang tidak berubah, yaitu aturan Tuhan.

Puasa Ramadhan bukan sekadar ritual semata. Ia adalah latihan hidup dalam sistem moral yang stabil ketika sistem dunia menjadi tidak stabil. Dalam situasi “hukum rimba”, manusia cenderung mengikuti logika kekuatan, bahwa yang terkuatlah yang menjadi pemenangnya.

Puasa membalik logika itu. Manusia justru diminta menahan diri ketika mampu. Turunannya, puasa melatih tiga hal yang hilang dari tatanan global modern yaitu; tidak melakukan ekspansi tanpa batas (pengendalian diri), tidak mendominasi kekuasaan (keadilan) dan tidak menurutkan keserakahan imperialisme (kesadaran batas).

Analisis Todd dan Dalio menunjukkan bahwa dunia sedang bergerak menuju fase transisi menentukan dari unipolar menuju multipolar, dari tatanan hukum menuju kompetisi kekuatan. Namun sejarah menunjukkan bahwa kekacauan global selalu dimulai dari krisis moral sebelum menjadi krisis politik.

Puasa dalam kaitan ini menghadirkan stabilitas pada level individu manusia. Memberikan pelajaran untuk hidup sederhana ketika ekonomi goyah, pengendalian diri ketika politik penuh intrik dan aturan ilahiah yang adil ketika dunia kehilangan aturannya.

Pelajaran penting di penghujung zaman ini bahwa dunia boleh memasuki fase “hukum rimba”, tetapi manusia tidak boleh ikut menjadi liar. Ketika tatanan global runtuh, Islam menawarkan jalan keluar kembali pada aturan spiritual.

Jika Emmanuel Todd membaca tanda-tanda keruntuhan kekaisaran dan Ray Dalio membaca siklus kehancuran tatanan dunia, maka Ramadhan mengajarkan bagaimana manusia tetap tegak di tengah runtuhnya keduanya. Sebab pada akhirnya, sejarah bukan hanya ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh siapa yang paling mampu mengendalikan dirinya.

Wallahu a‘lam bi as shawab

Dr. M. Taufik Hidayatulloh, M.Si
Dr. M. Taufik Hidayatullah, M.Si