MUI-BOGOR.ORG – Kisah Nabi Daud AS melawan Jalut sering dipahami sebagai cerita biasa. Namun jika dianalisis lebih jauh, dibalik kisah ini tersimpan potret kecerdasan strategis dan inovasi teknologi militer yang menginspirasi hingga kini. Nabi Daud AS bukanlah figur “kebetulan” dalam sejarah. Ia adalah sosok yang tumbuh dari kerasnya kehidupan.
Betapa tidak? Sejak kecil, beliau ditempa oleh kerasnya alam dan konflik yang mengitari lingkungannya. Besar di Yerusalem bersama ayah dan saudara-saudaranya, Nabi Daud AS kecil menjalani kehidupan sebagai penggembala, yang kemudian menjadi salah satu sebab kecerdasan militernya di masa depan (Stanley. 2023). Pengalaman inilah yang kelak membentuk cara berpikir strategis Nabi Daud AS, bukan hanya sebagai prajurit, tetapi sebagai pelopor inovasi militer.
Al Qur’an mengabadikan sosok Nabi Daud AS sebagai pemimpin yang bijaksana (hukman) (QS. Shad: 20), berpengetahuan luas (‘ilman) (QS. An Naml: 15) dan inovatif dalam teknologi perang (QS. Al Anbiya : 80). Sebagaimana QS. Al Anbiya ayat 80, Allah SWT menyebutkan secara eksplisit bahwa Nabi Daud AS diajarkan membuat baju zirah dari besi dengan metode baru. Ini jelas isyarat tentang revolusi teknologi militer pada zamannya.
Kata ‘allama dalam Al Qur’an menurut Shihab (2011) terkait dengan mengaktifkan akal (proses berpikir) dan berkomunikasi dengan bahasa (berpotensi untuk melakukan transfer pengetahuan) dalam konteks pengajaran nama-nama benda kepada Nabi Adam (QS. Al Baqarah: 31) atau kemampuan yang bisa direplikasi oleh manusia lain dalam konteks Allah SWT mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (QS. Al Alaq : 5).
Ini merupakan indikasi kuat bahwa kemampuan “melunakkan” besi tanpa api dan palu sebagaimana QS. Saba: 10 (lihat tafsir Ibnu Katsir), bukanlah mukjizat sesaat yang berhenti pada diri Nabi Daud AS, melainkan sebuah pengetahuan teknologis yang diajarkan dan berpotensi dikembangkan.
Mengapa kita katakan bukan sekadar mukjizat sesaat? Pasalnya, dalam ayat tersebut terdapat frase “lituhṣinakum min ba’sikum” menunjukkan manfaat yang bersifat kolektif (bertujuan untuk perlindungan umat). Ini adalah salah satu karakter teknologi, bukan semata mukjizat individual.
Diperkuat dengan perintah “wa qaddir fis sardi” (ukurlah dengan tepat kaitan-kaitannya) dalam lanjutan ayat pada QS. Saba: 11, yang mengisyaratkan adanya “standar teknis” dalam pembuatan baju zirah besi. Hal ini menunjukkan penguasaan teknologi material yang memungkinkan pengolahan besi secara tepat guna.
Istimewanya, elemen teknologi seperti: technoware, humanware, infoware dan organware (United Nation. 1989), semua terkandung dalam dua ayat tersebut (QS. Saba: 10-11). Selain itu, tujuan ayat ini bersifat sosial, bukan personal. Mukjizat personal umumnya terbatas pada nabi karena berfungsi sebagai pembuktian kenabian, sementara teknologi diturunkan untuk diwariskan kemudian dimanfaatkan oleh umat.
Baju zirah rantai di mana orang Barat menyebutnya sebagai chainmail, pada dasarnya menggunakan teknik sard (menganyam cincin besi dengan teknik kuncian yang saling terkait). Teknik ini mencerminkan lompatan teknologi, dari berbentuk lempengan (perlindungan kaku), menuju anyaman besi (perlindungan fleksibel) yang menyebarkan energi hantaman lawan ke seluruh tubuh.
Meskipun demikian, bukti arkeologis menunjukkan chainmail berkembang luas beberapa abad kemudian, sekitar abad ke-4 hingga ke-3 SM, terutama di wilayah Eropa Tengah yang terkena pengaruh Celtic (Pahl. 2024), Al Qur’an telah menghadirkan Nabi Daud AS sebagai pelopor teknologi perlindungan yang kuat namun ringan sekaligus sebagai visioner yang melampaui zamannya, karena konsep baju zirah fleksibel tersebut baru terwujud secara luas berabad-abad kemudian sebagaimana catatan arkeologi.
Nabi Daud AS diperkirakan hidup dan berperan pada masa transisi dari Zaman Perunggu ke Zaman Besi pada abad ke-10 SM (Knox. 2017), sebuah periode yang kemudian mengubah wajah peperangan (Radley. 2021). Perkiraan ini diperkuat sebuah temuan penelitian dari Levante di sekitar Timur Tengah bahwa periode transisi tersebut dimulai dari akhir abad ke-10 SM sampai abad ke-9 SM (Harrison. 2021). Dalam kaitan ini, wahyu ilahi yang diberikan kepada Nabi Daud AS menjadi bukti keunggulan pengetahuan wahyu di atas penemuan manusia yang datang terlambat.
Transisi ini ditandai dengan adopsi bertahap teknologi besi, menggantikan perunggu karena ketersediaan serta daya tahannya yang lebih tinggi. Inilah bentuk awal revolusi industri militer kuno, perubahan material yang mengubah keseimbangan kekuatan hingga struktur sosial (Colwell. 2025). Dengan demikian, kisah Nabi Daud AS tidak lagi sekadar narasi religius, melainkan potret awal ketika wahyu ilahi beririsan dengan rasionalitas telah melahirkan teknologi yang mengubah peradaban. Wallahu a‘lam bi as shawab






