MUI-BOGOR.ORG – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor menggelar rapat koordinasi (rakor) perdana kepengurusan masa khidmat 2025–2030 di Gedung MUI Kabupaten Bogor, Cibinong, Kamis (12/3/2026).
Dalam pertemuan tersebut, MUI Kabupaten Bogor membahas sejumlah isu yang berkembang di masyarakat, mulai dari maraknya penipuan investasi online hingga munculnya narasi anti agama di ruang digital yang memengaruhi generasi muda.
Rapat dipandu oleh Sekretaris Umum, H. Irfan Awaludin, M.Si. Ia menyampaikan pertemuan tersebut merupakan rapat koordinasi perdana bagi kepengurusan baru.
“Terima kasih atas kehadiran seluruh pengurus MUI Kabupaten Bogor masa khidmat 2025–2030. Ini merupakan pertemuan perdana bagi kepengurusan baru. Mudah-mudahan pertemuan ini menjadi awal yang baik untuk menjalankan program kerja ke depan,” ujar Gus Irfan.

Ia juga mengungkapkan terkait rencana renovasi pembangunan gedung MUI yang baru dapat segera terealisasi.
“Pihak kontraktor sudah beberapa kali datang melakukan pengukuran. Mudah-mudahan setelah DED selesai, pembangunan dapat segera terealisasi sehingga pemanfaatan gedung ini bisa lebih besar,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut juga, Gus Irfan menyampaikan kondisi keuangan yang sedang mengalami penyesuaian akibat pemotongan anggaran dari pemerintah pusat dan daerah. Kondisi tersebut berdampak pada berbagai program kegiatan MUI.
“Pemotongan anggaran cukup besar, sehingga banyak program harus disesuaikan. Kita berupaya tetap mempertahankan program utama seperti PKU, sementara beberapa program lain sementara tidak dapat dilaksanakan,” jelasnya.
Meski demikian, Gus Irfan menegaskan bahwa MUI Kabupaten Bogor tetap berupaya menjaga kegiatan dakwah dan komunikasi melalui media digital.

Rakor juga membahas sejumlah persoalan yang berkembang di masyarakat, di antaranya maraknya kasus penipuan investasi online yang menargetkan masyarakat dengan iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat. Karena itu, MUI mendorong adanya perhatian dan pengawasan lebih lanjut agar masyarakat tidak mudah tertipu.
Sementara itu, Ketua Umum, Prof. Dr. KH. Ahmad Mukri Aji, MA., MH, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kebersamaan dalam menjalankan amanah organisasi.
“Alhamdulillah, saya sangat bahagia dapat kembali bertemu. Mudah-mudahan suasana kebersamaan ini menjadi semangat bagi kita untuk terus maju bersama. InsyaAllah persatuan kita semakin kuat dan umat Islam semakin berkualitas dalam menghadapi berbagai tantangan,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan, Dr. KH. Adnan Anwar, menyampaikan pandangannya mengenai dinamika sosial dan pemikiran yang berkembang di Indonesia saat ini.

Kiai Adnan menjelaskan bahwa Indonesia memiliki posisi geopolitik yang sangat strategis, sehingga berbagai dinamika yang terjadi di pusat pemerintahan dapat berdampak hingga ke daerah.
Selain itu, Kiai Adnan juga menganalisis munculnya kecenderungan baru di kalangan sebagian kelompok masyarakat yang mulai bersikap kritis bahkan cenderung anti terhadap agama. Fenomena tersebut, menurutnya, semakin terlihat terutama di kalangan generasi muda.
“Saat ini kita melihat munculnya kelompok-kelompok yang memiliki pandangan bahwa agama dianggap sebagai penghambat kemajuan. Pemikiran seperti ini banyak dipengaruhi oleh berbagai teori dan tokoh tertentu yang kembali diperbincangkan di kalangan anak muda,” ujarnya.
Ia menambahkan, pandangan tersebut kerap berkembang di ruang digital dan media sosial, sehingga penyebarannya menjadi sangat cepat.

Dalam kondisi seperti ini, lanjutnya, kesalahan kecil yang terjadi di lingkungan pesantren atau tokoh agama sering kali diperbesar di media sosial dan berdampak pada citra lembaga keagamaan.
“Satu kasus saja bisa menyebar sangat luas di media sosial dan akhirnya menimbulkan persepsi negatif terhadap pesantren atau tokoh agama. Karena itu kita harus lebih berhati-hati dan terus menjaga kepercayaan masyarakat,” katanya.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi dan algoritma media sosial juga turut memengaruhi penyebaran narasi tertentu yang menargetkan generasi muda.
Karena itu, Kiai Adnan menekankan pentingnya memperkuat peran ulama dan lembaga keagamaan dalam memberikan bimbingan kepada masyarakat.
“Peran ulama harus semakin kuat dalam membimbing umat, agar masyarakat tetap memiliki pemahaman agama yang baik di tengah berbagai arus pemikiran yang berkembang,” pungkasnya.
Editor: Faisal Wibowo




