Sukaraja, MUI Online – Al-Qur’an dan sains merupakan dua hal yang saling melengkapi dan tidak bertentangan. Al-Qur’an bukanlah kitab sains yang menjelaskan teori fisika, biologi, atau astronomi secara teknis, tetapi memberikan pandangan hidup (worldview), dorongan mencari ilmu, dan orientasi nilai bagi manusia dalam melakukan riset sains.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Dr. Subur Wijaya, M.Pd., Ketua STKQ Al-Hikam Depok, pada perkuliahan pekan ke delapan Pendidikan Kader Ulama (PKU) Angkatan XX MUI Kabupaten Bogor, Sabtu, 19 September 2026 di Balai Diklat Dharmais, Sukaraja, Kabupaten Bogor
Dr. Subur mengingatkan para kader ulama agar tidak hanya bernostalgia dengan kejayaan peradaban Islam masa lalu, tetapi mampu mengambil peran dalam menghadapi tantangan zaman.

Menurutnya, perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), big data, deepfake, serta persoalan lingkungan menjadi tantangan nyata yang membutuhkan kontribusi ulama.
“Mengingat kejayaan lama merupakan obat bius yang dapat meredakan sakit untuk sementara, tetapi bukan untuk menyembuhkannya,” ungkapnya mengutip Prof. M. Quraish Shihab.
Lebih lanjut, Dr. Subur mendorong adanya dialog antara ulama dan ilmuwan agar umat Islam mampu memahami perkembangan alam dan teknologi secara menyeluruh. Ia menekankan bahwa ilmu pengetahuan harus berjalan bersama nilai spiritual.
“Science without religion is blind, and religion without science is lame. Ilmu tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh,” Ungkapnya mengutip Albert Einstein.
Editor: Istikhoriyah Aulia Putri
Kontributor: Sodikin Masykur








