Thursday, 20 August 2026

Haul ke-25 KH. Ahmad Dimyati dan Milad ke-30 Ponpes Modern Daarul ‘Uluum Lido: Berkhidmat untuk Umat, Berkarya untuk Bangsa

Selasa, 21 Juli 2026 | 09:00 WIB
admin
ADMIN Tim Redaksi

Cigombong, MUI Online – Suasana khidmat dan penuh kebahagiaan menyelimuti peringatan Haul ke-25 Drs. KH. Ahmad Dimyati sekaligus Milad ke-30 Pondok Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, yang diselenggarakan pada Ahad, 19 Juli 2026 M bertepatan dengan 4 Safar 1448 H.

Bagi keluarga besar Daarul ‘Uluum Lido, haul dan milad merupakan ikhtiar untuk merawat mata rantai perjuangan, meneladani nilai-nilai luhur kehidupan, serta melanjutkan visi pendidikan yang diwariskan oleh sang pendiri, Drs. KH. Ahmad Dimyati. Selama tiga dasawarsa, pesantren ini terus berkembang menjadi pusat pembinaan ilmu, akhlak, dan kepemimpinan generasi muda muslim, yang sejalan dengan semangat yang ditanamkan oleh pendiri.

Khodimul Ma’had, Kiai Moh. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc., dan Ketua Harian Yayasan Salsabila Lido, Ust. Moh. Affan Afifi saat mendampingi Wakil Bupati Bogor, Ade Ruhandi, SE., pada peringatan Haul ke-25 Drs. KH. Ahmad Dimyati dan Milad ke-30 Ponpes Daarul ‘Uluum Lido. (Foto: Prokopim/Setda.bogorkab.go.id)

Redaksi MUI Online kali ini akan menghadirkan kisah perjalanan hidup Drs. KH. Ahmad Dimyati, sekaligus menelusuri perjalanan tiga dasawarsa Pondok Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido yang dibangun dengan penuh perjuangan, kesabaran, dan pengorbanan.

Kisah perjalanan hidup Drs. KH. Ahmad Dimyati ini disusun berdasarkan dokumen yang diperoleh Tim Redaksi MUI Online dari Dr. KH. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., Pengasuh Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido sekaligus menantu KH. Ahmad Dimyati. Dr. Bay Amri juga merupakan alumni Pendidikan Kader Ulama (PKU) Angkatan XI.

Khodimul Ma’had KH. Moh. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc., saat mendampingi Wakil Bupati Bogor, Ade Ruhandi, SE., dalam peresmian Gedung DU Lido Store. (Foto: Prokopim Kab. Bogor/Setda.bogorkab.go.id)

Lahir dari Keluarga Sederhana

KH. Ahmad Dimyati lahir pada 12 Februari 1955 di Kampung Bauwan, Serang, Banten. Beliau merupakan putra pasangan Nurhalim bin Ilyas dan Siti Mardiyah binti Nawiyah. Terlahir dari keluarga sederhana, ayahandanya bekerja sebagai pedagang daging sapi dan kerbau, sedangkan ibundanya adalah ibu rumah tangga. Beliau merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara, yaitu (Almh.) Atiyah, H. Damanhuri, A. Sanusi, (Almh.) Halimah, Hj. Juwairiyah, Hj. Qibtiyah, dan (Alm.) KH. Ahmad Dimyati.

Pada tahun 1966, saat masih duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar, beliau kehilangan ayahanda tercinta. Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuat ibundanya menitipkan pengasuhan beliau kepada kakaknya, Hj. Juwairiyah. Tidak lama kemudian, atas bimbingan Drs. KH. Ahmad Rifa’i Arief, beliau masuk ke Pondok Pesantren Daar El-Qolam.

Para Santriwan dan Santriwati saat mengikuti peringatan Haul dan Milad Ponpes Modern Daarul ‘Uluum Lido. (Foto: Prokopim Kab. Bogor/Setda.bogorkab.go.id)

Di pesantren inilah beliau mulai mendalami ilmu agama kepada Ustadz Sukarta. Sejak awal menempuh pendidikan, kecerdasannya telah terlihat. Selama enam tahun belajar, beliau selalu menjadi juara kelas. Kemampuan beliau dalam bidang ilmu nahwu dan bahasa Arab menjadikannya salah seorang santri kesayangan Drs. KH. Ahmad Rifa’i Arief, guru yang kelak sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup dan perjuangannya.

Mengabdi kepada Guru dan Lulus Sarjana Muda

Pada tahun 1976, KH. Ahmad Dimyati lulus sebagai alumni angkatan ke-3 Pondok Pesantren Daar El-Qolam. Melihat kapasitas dan dedikasinya, Drs. KH. Ahmad Rifa’i Arief meminta beliau untuk mengabdi di pesantren tersebut. Di sela-sela pengabdian, beliau melanjutkan pendidikan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Serang, Banten.

KH. Ahmad Dimyati saat menimba ilmu di Pesantren Dar El-Qolam. (Foto: Istimewa)

Seluruh biaya kuliahnya ditanggung oleh pesantren sebagai bentuk perhatian guru terhadap murid yang memiliki semangat belajar tinggi, meskipun berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Empat tahun kemudian, tepatnya pada 1980, beliau berhasil menyelesaikan pendidikan sebagai Sarjana Muda di IAIN Serang Banten.

Membangun Pesantren Modern

Pada tahun 1982, beliau menikah dengan (Almh.) Nyai Hj. Sa’diyah, BA., putri KH. Elon Syuja’i, pendiri Pesantren Asy-Syuja’iyyah Bantar Kemang, Kota Bogor. Keduanya sama-sama pernah menempuh pendidikan di IAIN Serang. Sejak 1982 hingga 1985, beliau menjalani masa pengabdian yang luar biasa. Hampir setiap hari beliau menempuh perjalanan Bogor–Serang. Pada pagi hari mengajar di Pesantren Asy-Syuja’iyyah Bantar Kemang, kemudian melanjutkan perjalanan ke Serang untuk mengajar di Daar El-Qolam atas permintaan guru tercintanya.

Drs. KH. Ahmad Dimyati. (Foto: Istimewa)

Setelah memperoleh restu dari Drs. KH. Ahmad Rifa’i Arief pada tahun 1985, beliau menetap di Bantar Kemang dan mulai melakukan pembaruan sistem pendidikan. Dari sinilah lahir Pesantren Modern Daarul ‘Uluum yang mengadopsi sistem pendidikan modern dengan jenjang pendidikan formal serta penggunaan bahasa Arab dan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Perubahan tersebut disambut antusias masyarakat. Jumlah santri terus bertambah hingga mencapai sekitar 800 orang. Keberhasilan itu tidak hanya ditopang oleh nama besar KH. Elon Syuja’i, tetapi juga kepemimpinan KH. Ahmad Dimyati yang sangat memperhatikan kesejahteraan dan pendidikan para santri. Beliau selalu mengingatkan, “Santri adalah amanat dari para wali santri yang menitipkan anaknya ke pesantren. Jagalah amanat itu dengan sebaik-baiknya.”

(Almh.) Nyai Hj. Sa’diyah, BA bersama para staff pengajar pesantren. (Foto: www.daarululuumlido.com)

Mencari Lahan Baru

Memasuki awal dekade 1990-an, perkembangan pesantren semakin pesat sehingga lahan yang tersedia tidak lagi mencukupi. KH. Ahmad Dimyati mulai mencari lokasi baru agar cita-citanya menghadirkan Daarul ‘Uluum di berbagai tempat dapat terwujud.

Beliau sempat menemukan lahan di Gelam, Serang, tetapi rencana tersebut dibatalkan karena persoalan ketersediaan air. Pada tahun 1994, beliau kembali memperoleh lahan di daerah Tapos yang dinilai sangat ideal. Namun pembangunan tidak mendapatkan izin pemerintah karena kawasan tersebut ditetapkan sebagai daerah resapan air.

Meski berkali-kali menghadapi kegagalan, beliau tidak pernah kehilangan harapan. Prinsip hidup yang selalu dipegangnya tetap sama, “Faidzaa ‘azzamta fatawakkal ‘ala Allah.”

Masjid Daarul ‘Uluum Lido tempo dulu. (Foto: Istimewa)

Lahirnya Daarul Uluum Lido

Pada Maret 1995, ketika mendapat amanah sebagai pembimbing jamaah haji Pemerintah Kota Bogor, beliau bermunajat di Multazam agar Allah memberikan jalan memperoleh lahan untuk pembangunan pesantren. Doa tersebut dikabulkan. Hanya sepekan setelah kembali dari Tanah Suci, beliau menemukan sebidang lahan di kawasan Desa Ciburuy, Kecamatan Cigombong, yang berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi.

Pada 24 Juni 1996, lahan yang dibeli dari hasil jerih payahnya—bahkan dengan menjual rumah pribadi—resmi menjadi Pondok Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido. Nama ‘Lido’ bukan diambil karena dekat dengan lokasi Danau Lido Cigombong, melainkan singkatan dari ‘Limpahan Doa,’ sebagai ungkapan syukur atas terkabulnya doa beliau di Multazam.

Tonggak awal pembangunan pesantren ditandai dengan peletakan batu pertama Gedung Hasanah pada September 1995. Disinilah menjadi tonggak awal berdirinya Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido. Kemudian Tahun Ajaran 1996-1997 pendaftaran santri baru mulai dibuka di tengah kondisi kesehatan KH. Ahmad Dimyati yang terus menurun.

Potret Pesantren Daarul ‘Uluum Lido tahun 2005. (Foto: www.daarululuumlido.com)

Ujian Sakit dan Semangat yang Tak Pernah Padam

Tidak lama setelah pesantren berdiri, tepatnya pada 26 Desember 1996, beliau terserang penyakit lever yang cukup berat. Selama tahun 1997, aktivitas beliau banyak berkurang sehingga kepemimpinan operasional pesantren dipercayakan kepada Ustadz H. Ahmad Yani, M.Pd.I. sebagai Mudir Al-Ma’had dan Ustadz Asep Sugandi, S.Pd. sebagai Koordinator Pembangunan bersama rekan-rekan lainnya.

Pada masa inilah Gedung Hasanah lantai pertama mulai dibangun dengan fasilitas yang masih sangat sederhana. Sebagian santri dari Bantar Kemang pun mulai dipindahkan ke Daarul ‘Uluum Lido. Ketika beliau sakit, guru tercintanya, Drs. KH. Ahmad Rifa’i Arief datang menjenguk dan memberikan doa yang terus beliau amalkan sebagai dzikir. Menjelang akhir tahun 1997, sang guru berpulang ke rahmatullah, meninggalkan duka mendalam bagi beliau.

Gedung Asrama Putra Ponpes Modern Daarul ‘Uluum Lido Kampus 1. (Foto: www.daarululuumlido.com)

Bangkit dan Membangun

Memasuki tahun 1998, kondisi kesehatan beliau berangsur pulih. Beliau kembali aktif mengembangkan pesantren hingga akhirnya menetap sepenuhnya di Daarul ‘Uluum Lido. Pada tahun yang sama didirikan juga Yayasan Salsabila sebagai badan hukum pesantren. Nama tersebut diambil dari salah satu mata air di surga dengan harapan Daarul ‘Uluum Lido menjadi sumber kesejukan dan keberkahan bagi umat. Di tahun yang sama, beliau juga merintis Pesantren Modern Kulni di Cikande, Serang, Banten, dan pada tahun 2000 Pesantren tersebut mulai dibangun sebagai kampus II.

Di Pesantren Daarul ‘Uluum Lido, KH. Ahmad Dimyati juga bercita-cita membangun aula sebagai pusat aktivitas santri. Demi mewujudkan cita-cita tersebut, beliau mengajukan pinjaman pembiayaan kepada Bank Muamalat sebesar Rp 1 Miliar.

Masjid Al Hadi Putra. (Foto: www.daarululuumlido.com)

Wafat Meninggalkan Warisan Perjuangan

Menjelang akhir tahun 2000, kondisi kesehatan beliau kembali menurun. Pada Maret 2001, pengajuan pinjaman kepada Bank Muamalat disetujui sebesar Rp. 600 juta. Namun, pada saat yang sama kondisi fisiknya semakin memburuk. Beliau sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Al-Qodar Tangerang, kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Karya Bakti Bogor. Meski dokter belum mengizinkan pulang, pada Ahad, 22 April 2001, beliau memilih kembali ke pesantren yang sangat dicintainya.

Kurang dari sepekan kemudian, pada Kamis pagi sekitar pukul 08.00 WIB, beliau tidak sadarkan diri dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Azra Bogor. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa fungsi hati beliau hanya tersisa sekitar lima persen sehingga harus menjalani perawatan intensif di ruang ICU.  Pada hari yang sama, sekitar pukul 18.00 WIB, Drs. KH. Ahmad Dimyati berpulang ke rahmatullah. Beliau meninggalkan istri tercinta, (Almh.) Nyai Hj. Sa’diyah, BA., serta tujuh orang putra-putri yang kemudian melanjutkan perjuangan dan cita-cita besarnya.

Gerbang Pesantren DU Tahfizh Kampus 3. (Foto: www.tahfizhdulido.com)

Era Majelis Pimpinan dan Kepemimpinan Kolektif

Sepeninggal Drs. KH. Ahmad Dimyati pada tahun 2001, Pondok Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido memasuki babak baru dalam tata kelola kelembagaan. Dalam rentang tahun 2001 hingga 2010, pesantren menerapkan sistem kepemimpinan kolektif melalui Majelis Pimpinan sebagai ikhtiar menjaga kesinambungan cita-cita dan nilai-nilai perjuangan yang telah diwariskan oleh pendirinya.

Pada periode tersebut, kepemimpinan pesantren diemban secara bersama-sama oleh para tokoh yang telah lama mengabdi. Ibu Hj. Siti Sa’diyah bertindak sebagai Ketua Dewan Pembina, Ust. Asep Sugandi mengemban amanah sebagai Ketua Pengurus Harian Yayasan Salsabila, sedangkan Ust. Ahmad Yani dipercaya sebagai Mudir Ma’had dengan didampingi para masyayikh atau guru-guru senior.

Gerbang Asrama Putra Daarul ‘Uluum Tahfizh Kampus 3. (Foto: www.tahfizhdulido.com

Model kepemimpinan kolektif ini menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas, mempertahankan mutu pendidikan, sekaligus melanjutkan proses pembangunan pesantren di masa transisi setelah wafatnya sang pendiri.

Generasi Penerus dan Ekspansi Era Keemasan

Setelah melewati masa kepemimpinan kolektif, estafet perjuangan dilanjutkan oleh generasi penerus keluarga KH. Ahmad Dimyati. Putra sulung beliau, Kiai Moh. Yazid Syagof Dimyati, S.Th.I., Lc., dipercaya mengemban amanah sebagai Khadimul Ma’had, sementara putra keduanya, Ust. Moh. Affan Afifi, menjabat sebagai Ketua Harian Yayasan Salsabila. Kepemimpinan generasi kedua ini menjadi titik awal lahirnya berbagai inovasi dan pengembangan kelembagaan yang semakin memperkuat eksistensi Daarul ‘Uluum Lido.

Khodimul Ma’had Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido sekaligus Pimpinan Harian/Ketua MUI Kabupaten Bogor. (Foto: AI Modified)

Di bawah kepemimpinan Kiai Yazid Dimyati, Pondok Pesantren Modern Darul ‘Ulum Lido mencatat tonggak sejarah baru dengan mendirikan Ma’had Tahfizh Al-Qur’an pada tahun 2015 sebagai Kampus III. Kehadiran lembaga tahfizh ini menjadi bukti komitmen pesantren dalam memperluas layanan pendidikan Islam sekaligus memperkuat tradisi penghafal Al-Qur’an di lingkungan Daarul ‘Uluum Lido.

Perkembangan pesantren dan Yayasan Salsabila semakin terlihat melalui berbagai langkah ekspansi dan penguatan aset wakaf. Pada tahun 2017, pesantren menerima wakaf sebidang tanah dari Hj. Rosmawar sebagai bentuk kepercayaan masyarakat terhadap perjuangan Daarul ‘Uluum Lido. Meskipun pada tahun 2020 lahan wakaf tersebut dibeli oleh PT. Mayora, proses tersebut tidak mengurangi semangat pengembangan pesantren.

Khodimul Ma’had DU Lido yang juga Pengurus Harian/Ketua MUI Kabupaten Bogor, Kiai Moh. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc., dan Ketua MUI Kecamatan Cigombong, KH. Zaenal Muhtadin, S.Ag., bersama Wakil Bupati Bogor Ade Ruhandi, SE., saat perayaan Haul dan Milad Ponpes Daarul ‘Uluum Lido. (Foto: Istimewa)

Sebagai bentuk kompensasi, pada tahun 2023 diperoleh lahan pengganti seluas 1,4 hektare di kawasan Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Lahan tersebut kemudian dikembangkan menjadi Kampus IV, sekaligus menandai berlanjutnya ekspansi dan penguatan Daarul ‘Uluum Lido sebagai lembaga pendidikan Islam yang terus bertumbuh dan memberi manfaat bagi umat.

Dua puluh lima tahun setelah kepergiannya, semangat perjuangan KH. Ahmad Dimyati tetap hidup melalui para santri, dan ribuan alumni Pondok Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido yang tersebar ke seluruh penjuru negeri hingga berdiaspora ke belahan benua Asia, Afrika, Eropa, hingga Amerika. Pondok Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido kini memasuki usia tiga dasawarsa semakin maju dan berkembang sebagai lembaga pendidikan Islam yang terus melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan berkhidmat kepada umat.

Editor: Faisal Wibowo