Jakarta, MUI Online – Ketua Komisi Informasi, Komunikasi, dan Digitalisasi (Infokomdigi) MUI Pusat, Hari Usmayadi, M.Kom., M.M., menegaskan bahwa tantangan dakwah di era digital kini tidak lagi sebatas menyampaikan ajaran Islam melalui metode konvensional. Perkembangan media sosial dan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah ruang digital menjadi arena persaingan narasi yang dipengaruhi oleh algoritma.
“Saat ini kita menghadapi fenomena perang algoritma,” ujar Hari Usmayadi dalam Workshop “Amplifikasi Literasi Keislaman Digital Era AI,” di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta Pusat, Rabu (29/7/2026).
Pria yang akrab disapa Cak Usma itu menegaskan bahwa konten-konten keislaman yang menyejukkan, kredibel, dan berlandaskan keilmuan tidak boleh kalah bersaing dengan konten instan yang berpotensi merusak peradaban.
Cak Usma mencontohkan maraknya promosi pinjaman online ilegal, propaganda LGBTQ, hingga munculnya figur-figur populer yang menyampaikan pandangan keagamaan tanpa didukung landasan ilmu yang memadai.
Menurut Cak Usma, perkembangan AI membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Selain memunculkan tantangan seperti manipulasi konten melalui teknologi deepfake, penyebaran informasi yang tidak akurat, serta konten keagamaan yang tidak melalui proses verifikasi, AI juga membuka peluang besar untuk memperluas jangkauan dakwah sekaligus memperkuat literasi keislaman di ruang digital.

Atas dasar itu, lanjut Cak Usma, MUI sebagai Khadimul Ummah (pelayan umat) dan Shodiqul Hukumah (mitra pemerintah) mendorong lahirnya kelompok “Mujahid Digital”, yaitu kelompok anak-anak muda Islam yang tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi, tetapi juga menguasai produksi dan distribusi narasi Islam yang positif, moderat, dan mencerahkan.
“Kami ingin setiap peserta yang hadir benar-benar fokus. Output kegiatan ini adalah karya nyata, bukan sekadar sertifikat,” tegasnya.
Ia menjelaskan, setelah mengikuti workshop, setiap peserta diharapkan memiliki bekal berupa bank prompt AI, kalender publikasi, serta berbagai materi konten yang siap diproduksi dan disebarluaskan untuk memperkuat syiar Islam yang moderat di ruang digital.
Dalam kesempatan tersebut, Cak Usma juga menekankan pentingnya membangun sinergi antara generasi muda yang memiliki kemampuan menguasai teknologi dengan para ulama senior yang memiliki otoritas dan kedalaman ilmu agama.
“Banyak pengurus dan ulama kita yang sangat ahli di bidangnya, namun sudah sepuh. Peran generasi muda adalah mendampingi mereka. Kalian menguasai AI dan algoritmanya, sementara substansi, validasi dalil, dan etika syariat tetap bersumber dari arahan para ulama,” ujarnya.
Workshop yang diselenggarakan Komisi Infokomdigi MUI Pusat bekerja sama dengan Baznas RI tersebut merupakan implementasi salah satu rekomendasi Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang menetapkan transformasi digital sebagai agenda strategis dalam membangun peradaban bangsa yang damai, sejahtera, dan berakhlakul karimah.
Editor: Faisal Wibowo








