Komunikasi Profetik di Tahun Politik

Komunikasi Profetik di Tahun Politik
Dede Fahruroji, Msi., M. Sos

Oleh: Dede Fahruroji, M.Sos., M.Si (Alumni PKU angkatan I/Ketua MUI Kab. Bogor Bidang Infokom)

Tahun politik adalah periode yang mengguncang dinamika sebuah negara, tidak hanya membangkitkan antusiasme tetapi juga menghadirkan kekhawatiran. Dalam atmosfer demokrasi, komunikasi menjadi senjata utama untuk membentuk persepsi, merancang visi, dan menggerakkan partisipasi masyarakat. Namun, komunikasi dalam konteks politik tak lagi sekadar pertukaran informasi, ia harus mampu memimpin, meramalkan, dan membawa masyarakat menuju pemahaman yang lebih dalam tentang arah kebijakan yang akan membentuk nasib bangsa.

Dalam era informasi saat ini, komunikasi profetik harus beradaptasi dengan kecepatan arus informasi, yang melibatkan penggunaan media digital, podcast, dan platform interaktif untuk menyebarkan pesan yang mendalam dan relevan. Komunikasi profetik tidak hanya berbicara tentang langkah-langkah konkrit saat ini, tetapi juga harus mampu merinci konsekuensi jangka panjang yang transendensi dalam dimensi keimanan menuju masa depan yang bersifat ukhrowi.

Salah satu karakteristik dari komunikasi profetik adalah kemampuannya untuk memotivasi dan memberdayakan masyarakat melalui pesan-pesan yang inspiratif sehingga mampu mengajak masyarakat aktif terlibat dalam proses politik. Para pemimpin yang mampu membimbing dengan visi jangka panjang dapat menciptakan kesadaran politik yang lebih tinggi di kalangan masyarakat, membentuk pemilih yang cerdas, dan membangun kesatuan dalam perbedaan.

Karakter Komunikasi Profetik

Komunikasi profetik merupakan komunikasi yang mengacu kepada pola komunikasi kenabian Muhammad Saw. sarat dengan nilai egaliter, toleransi, kelembutan, kemurahan, dan nilai spiritualitas. Hal ini pula bisa menjadi sebuah solusi dalam membentengi  diri dalam menjalani kegaduhan dan hiruk pikuk politik yang berpotensi menjerumuskan manusia ke arah dehumanisasi. Setidaknya ada tiga karakter komunikasi pofetik dalam politik.

Pertama, Visi Jangka Panjang. Komunikasi profetik tidak hanya fokus pada isu-isu sesaat atau janji-janji sementara. Sebaliknya, pendekatan ini mencakup visi jangka panjang yang memberikan gambaran mendalam tentang arah kebijakan dan dampaknya pada masyarakat di masa depan. Pemimpin yang menerapkan komunikasi profetik akan menggambarkan visinya dengan cara yang menginspirasi, menciptakan harapan, dan meramalkan kemungkinan perkembangan di masa yang akan datang.

Kedua, Inspiratif dan Mencerahkan. Komunikasi profetik memerlukan pesan-pesan yang tidak hanya informatif, tetapi juga inspiratif. Melalui kata-kata yang mencerahkan, para pemimpin dapat memotivasi masyarakat untuk melibatkan diri secara aktif dalam proses politik. Pesan inspiratif ini membangun semangat positif, memecah kebuntuan, dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama menciptakan perubahan.

Ketiga, Memberdayakan Masyarakat. Salah satu tujuan utama komunikasi profetik adalah memberdayakan masyarakat. Ini melibatkan pendekatan yang inklusif, di mana para pemimpin menciptakan ruang untuk berpartisipasi dan mendengarkan suara masyarakat. Dengan demikian, masyarakat menjadi bagian dari perjalanan politik, merasa memiliki peran dalam membentuk kebijakan dan merekayasa masa depan.

Tantangan Implementasi Komunikasi Profetik

Namun demikian, implementasi komunkasi profetik ini menghadapi tantangan, diantaranya: Polarisasi Opini di masyarakat, karena itu komunikasi profetik harus mampu mengatasi perpecahan ini dengan menyajikan pesan yang mencakup nilai-nilai bersama. Tantangan ini memerlukan strategi komunikasi yang bijak agar pesan tidak terperangkap dalam kubu politik tertentu sehingga menjadi bias dan menyebabkan kegaduhan bahkan menjurus pada konflik dan perpecahan di tengah umat.

Tantangan lainnya adalah tekanan informasi cepat di era digital. Tokoh agama, da’i dan para pemimpin harus beradaptasi dengan kecepatan alur informasi dan memastikan bahwa pesan-pesan mereka tetap relevan di tengah arus informasi yang terus berubah. Kesalahan atau ketidakjelasan dalam komunikasi dapat dengan cepat merusak reputasi dan kepercayaan masyarakat. Sehingga kredibilitas Tokoh Agama dan para pemimpin masyarakat dipetaruhkan.

Selanjutnya, tantangan yang nyata didepan mata adalah menghadapi tahapan kompanye yang akan dimulai pada 28 November 2023 – 10 Februari 2024, tahapan ini merupakan paling krusial karena di dalamnya terdapat “perang terbuka” ide dan gagasan diantara berbagai kepentingan sehingga potensi untuk menggunakan cara-cara kotor bisa saja terjadi seperti menyebar fitnah, berita bohong serta ujaran kebencian yang berpotensi menciptakan kegaduhan di tengah masyarakat.

Kampanye Berbasis Nilai

Salah satu solusi yang ditawarkan dalam menghadapi tahapan ini adalah Implementasi komunikasi profetik yang mendalam melalui kampanye berbasis nilai. Para pemimpin dan tokoh masyarakat bisa mengadopsi pendekatan ini dengan tidak hanya sekadar menciptakan narasi politik, tetapi secara konsisten mengintegrasikan nilai-nilai moral yang mendasar, seperti keadilan, kejujuran, dan persatuan, ke dalam seluruh strategi kampanye.

Dalam konteks ini, kampanye bukan hanya menjadi sarana untuk “menjual diri”, tetapi juga sebuah panggung untuk merenungkan dan merayakan nilai-nilai yang membentuk inti keberadaan masyarakat. Lebih jauh lagi, kampanye berbasis nilai menciptakan pesan yang lebih mendalam dan emosional. Pemilih tidak hanya melihat calon sebagai seorang pemimpin, tetapi juga sebagai perwujudan dari nilai-nilai yang mereka anut.

Dalam hal ini, kampanye bukan hanya tentang memperoleh suara, melainkan menciptakan ikatan yang kuat antara pemimpin dan pemilih berdasarkan visi bersama untuk membangun masyarakat yang lebih baik. Kampanye berbasis nilai bukan hanya strategi pemenangan, tetapi juga panggilan moral untuk mengembangkan dan mempertahankan esensi kemanusiaan dalam dunia politik. Pada akhirnya, komunikasi profetik menjadi sumber daya yang tak terelakan di tahun politik.

Konklusi

Dengan memahami karakteristiknya yang inspiratif, visi jangka panjang, semua pihak  dapat menggunakan komunikasi profetik untuk membentuk pemahaman politik yang lebih baik dan mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam membentuk masa depan negara. Meskipun dihadapkan pada tantangan polarisasi opini, penyebaran berita bohong, ujaran kebencian serta tekanan informasi cepat, implementasi komunikasi profetik akan mampu menciptakan dampak positif pada masyarakat.

Dengan demikian, komunikasi profetik tidak hanya menjadi alat komunikasi politik, tetapi juga fondasi dalam membangun tanggung jawab umat untuk selalu  mengedepankan etika, moral dan akhlak serta nilai spiritualitas yang mengacu kepada profetik atau pesan kenabian Muhammad SAW sehinggga tahun politik bisa dilalui dengan sejuk, aman dan damai.