MUI-BOGOR.ORG – Hidup manusia hakikatnya merupakan perjalanan panjang. Kita berangkat, melewati berbagai persinggahan, menghadapi godaan, mengalami kelelahan, menuju pada satu tujuan akhir kembali kepada Allah SWT.
Dalam perjalanan besar ini, puasa Ramadhan hadir untuk mensimulasikan perjalanan hidup manusia itu sendiri. Puasa mengajarkan kita untuk seberapa tepat menjaga arah bukannya tentang seberapa cepat kita merengkuh dunia.
Rasulullah SAW bersabda, “Tiada seorang hamba yang berpuasa sehari di jalan Allah, melainkan Allah akan menjauhkan dirinya dari neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun.” (HR. Muttafaq ‘alaih).
Hadits tersebut bila direnungkan lebih dalam, ia menghadirkan gambaran kosmik tentang perjalanan manusia. Jarak “tujuh puluh tahun perjalanan” bukan sekadar angka, melainkan menggambarkan jarak keselamatan spiritual yang luar biasa jauh.
Untuk memahami betapa besar makna “jarak” dalam hadits tersebut, kita bisa membayangkannya melalui skala alam semesta sebagaimana kita pelajari di bangku sekolah.
Bayangkan saja alam semesta, diameter Galaksi Bima Sakti saja mencapai sekitar 100.000 (Bochanski et. al. 2014), 200.000 (Newberg et. al. 2015) tahun cahaya, sementara galaksi tetangga terdekat, Andromeda, berjarak sekitar 2,5 juta tahun cahaya (McConnachie et. al. 2005).
Bagaimana kita akan menjelajahinya? Dari fakta ini kita mengetahui bahwa alam raya betapa sulit dibayangkan akal manusia. Namun melalui satu hari puasa saja namun ikhlas, kita memiliki “jarak keselamatan” yang secara maknawi melampaui ukuran duniawi.
Puasa Ramadhan juga sebagai miniatur kehidupan manusia yang ideal karena menyajikan sebuah simulasi bagaimana seharusnya (pola) menjalani hidup sepanjang tahun. Melalui puasa, manusia harus mampu menahan diri, merasakan kesulitan sesama dan menjaga keseimbangan hidup. Ini adalah simulasi kehidupan sehari-hari, tentang bagaimana manusia seharusnya berjalan di dunia pada arah yang benar.
Lebih jauh, puasa Ramadhan juga merupakan sebuah perjalanan yang penuh rambu-rambu. Sebagaimana pengendara membutuhkan tanda peringatan agar tidak celaka, manusia juga membutuhkan pengingat agar tidak kehilangan arah spiritualnya.
Ramadhan menghadirkan rambu perjalanan seperti “larangan” agar manusia tidak tergelincir, “peringatan” agar tidak kehilangan esensi badah dan “perintah” yang menunjukkan arah menuju kedekatan dengan Allah SWT.
Gambaran ini nampak jelas pada hadits, “Puasa adalah perisai (tameng), maka janganlah berkata kotor, jangan berbuat bodoh/sia-sia. Jika ada orang yang memeranginya atau mencacinya, hendaklah ia katakan: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Para ulama dalam berbagai pengajarannya sering menggambarkan manusia sebagai musafir (lihat HR. Bukhari). Dunia hanyalah persinggahan sementara, bukan kampung halaman. Ini sama dengan mode perjalanan jauh di mana musafir tidak menghabiskan bekalnya untuk kesenangan sesaat, melainkan ia dapat menahan diri agar sampai tujuan.
Ajaibnya, puasa menghadirkan pengalaman itu secara nyata. Lapar, haus, lelah secara fisik, namun ringan di hati. Puasa mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kenyang fisik, tetapi dari kedekatan spiritual.
Menghadapi potensi ancaman atau gangguan semacam itu dalam perjalanan, maka sebagai musafir kita harus bersegera. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran : 133, “Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi…”. Jika perjalanan membutuhkan arah yang benar, maka ia juga membutuhkan kecepatan langkah.
Pengejawantahannya dalam puasa adalah anjuran untuk segera berbuka ketika waktunya tiba, segera shalat ketika adzan berkumandang, segera beristighfar ketika sadar berbuat salah. Seorang mukmin sejatinya adalah pengembara yang terus meningkatkan kecepatannya menuju ridha Allah SWT.
Setiap hari puasa sejatinya adalah langkah kecil menjauh dari neraka dan sebaliknya mendekat kepada surga. Setiap rasa lapar dan haus adalah pengingat bahwa dunia hanyalah perjalanan singkat. Karena itu, pesan puasa sebenarnya sederhana. Jika perjalanan menuju Allah SWT sudah dimulai, jangan pernah memperlambat langkah. Wallahu a‘lam bi as shawab






