MUI-BOGOR.ORG – Realitas masyarakat saat ini masih memandang sebelah mata terhadap filsafat. Bahkan, tidak sedikit yang mempercayai bahwa mempelajari filsafat dapat menyesatkan akidah seseorang, yang awalnya religius bisa menjadi ateis. Pandangan ini berangkat dari kesalahpahaman mendasar tentang filsafat itu sendiri.
Pernyataan pemantik tersebut disampaikan oleh Sekretaris MUI Kabupaten Bogor, Dr. (Cand) Puad Hasan, MA., pada pertemuan kelima Pendidikan Kader Ulama (PKU) angkatan XIX MUI Kabupaten Bogor yang diselenggarakan di Aula Balai Diklat Dharmais, Kecamatan Sukaraja, Sabtu (4/5/2025).
Untuk pertama kalinya, mata kuliah Filsafat diberikan kepada para peserta PKU. Mata kuliah tersebut diampu oleh dua orang, yaitu H. Irfan Awaludin, M.Si yang mengampu Filsafat Barat, dan Dr. (C) Puad Hasan, MA., yang mengampu Filsafat Islam. Lalu muncul pertanyaan, mengapa Filsafat masuk dalam kurikulum PKU tahun ini?

Sekretaris Umum MUI Kabupaten Bogor, H. Irfan Awaludin, M.Si., menyampaikan bahwa masuknya mata kuliah filsafat ke dalam kurikulum PKU, harapannya akan menumbuhkan daya pemikiran kritisisme bagi para kader ulama.
“Dalam konteks PKU, mempelajari filsafat penting untuk menumbuhkan daya pemikiran kritis (kritisisme) agar seorang kader ulama tidak menjadi da’i atau ustadz yang pasif, tidak peka terhadap kondisi wilayah, abai terhadap nasib masyarakat yang kelaparan, namun menjadi seorang da’i atau ustadz yang aktif bergerak memberikan solusi, mampu berpikir sistematis dan mendalam, menjadi kader yang mampu merespons tantangan zaman secara cerdas dan kontekstual,” tutur Gus Irfan pada Rapat Konsinyering Kurikulum PKU bersama tokoh kader ulama lintas angkatan, Kamis 22 Mei 2025.
Sementara itu, Kang Puad menambahkan bahwa salah satu penyebab masyarakat salah menilai dan takut terhadap filsafat, adalah karena ketidakmampuan dalam membedakan antara filsafat sebagai produk pemikiran dan filsafat sebagai metode berpikir.
“Selama ini, masyarakat memahami filsafat sebagai produk pemikiran yang ateis, aneh, nyeleneh, dan pandangan negatif lainnya yang tersebar luas di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum terutama melalui ruang media sosial. Hal ini bertabrakan dengan tradisi masyarakat Indonesia yang agamis, akibatnya, filsafat dicap haram untuk diamalkan dan dipelajari,” terang kandidat Doktor Pemikiran Islam Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.

Menurut Kang Puad, kita akan lebih mudah memahami, mempelajari, dan menerima filsafat jika kita melihatnya sebagai metode berpikir atau mengibaratkannya sebagai alat untuk mencapai pemahaman mendalam tentang berbagai aspek kehidupan dan pengetahuan.
Kang Puad menyebut bahwa filsafat sebagai metode berpikir dapat kita kategorikan menjadi dua, yaitu mitos dan logos. Secara sederhana, kita dapat memahami mitos sebagai suatu kepercayaan yang tidak harus melibatkan fakta ilmiah, sedangkan logos merupakan hal yang harus kita buktikan secara ilmiah atau rasional (logis). “Dalam memaknai keduanya, kita perlu menghindari jebakan penilaian benar atau salah, karena keduanya hadir secara bersamaan dalam kehidupan manusia,” ujarnya mengingatkan.
Ia melanjutkan, jika filsafat digunakan secara serampangan dan tanpa bimbingan guru yang mumpuni, ia bisa membawa pada kekeliruan. Namun jika digunakan dengan tepat, filsafat justru bisa menumbuhkan sikap religius yang mendalam.
Oleh sebab itu, Kang Puad menekankan kepada para peserta PKU, tentang pentingnya menata kembali niat dan tujuan dalam mempelajari filsafat. “Apakah ingin menjadi seorang ‘ahli filsafat’ – yang memahami dan menguasai dari mulai teori, sejarah filsafat dari berbagai tradisi, seperti Islam, Barat, Cina, dan lainnya – atau ingin menjadi seorang ‘filsuf’ – yang mampu berpikir sistematis, mendalam, memproduksi gagasan sendiri, melahirkan kebijaksanaan, dan mampu memfilsafati hidupnya sendiri? – ” katanya.
Ia lalu menjelaskan bahwa pada dasarnya setiap orang adalah filsuf bagi dirinya sendiri. Dari pemahaman ini, kita dapat menyimpulkan bahwa tidak semua filsuf adalah ahli filsafat, dan tidak semua ahli filsafat benar-benar menjadi filsuf dalam arti yang sesungguhnya.

Salah satu peserta PKU ada yang bertanya, “Siapakah filsuf pertama dalam sejarah?” Kang Puad menjawab bahwa secara historis, kalangan ilmuwan menyepakati seseorang bernama “Hermes” sebagai filsuf pertama. “Dalam tradisi Yunani, Hermes merupakan sosok dewa pembawa pesan. Namun menurut pandangan Sayyed Hossein Nasr, Hermes diidentifikasi sebagai Nabi Idris AS, yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai nabi pertama yang mampu membaca dan menulis serta meletakkan dasar-dasar peradaban,” beber alumni PKU angkatan VI tersebut.
“Artinya, kalau ilmuwan di barat saja menyepakati bahwa Nabi Idris AS adalah seorang filsuf, maka semua Nabi dan Rasul adalah filsuf. Sebab menjadi Nabi atau Rasul membutuhkan kebijaksanaan, dan daya pemikiran yang kritis dan mendalam untuk membimbing umatnya,” jelasnya.
Kang Puad kemudian menjelaskan kesinambungan atau keterhubungan antara Filsafat Barat dan Filsafat Islam. Dalam sejarah Filsafat Barat, kita mengenal tokoh-tokoh seperti Thales, Plato, Socrates, Phytagoras, dan Aristoteles. Pemikiran mereka kemudian masuk ke dunia Islam melalui muridnya Aristoteles, yaitu Aleksander Agung atau Alexander the Great (dalam tradisi Barat) atau Iskandar Dzulqarnain (dalam tradisi Islam).
Sebagai pemantik diskusi, Kang Puad mengatakan bahwa jika filsafat dipahami sebagai metode berpikir, maka akan menumbuhkan pemikiran-pemikiran yang kritis dan sistematis. Islam selamanya akan berkutat dalam dunia syari’at jika tidak bersentuhan dengan filsafat, karena saat filsafat bersentuhan dengan Islam, keilmuan Islam semakin berkembang dengan munculnya bidang ilmu, seperti ulumul qur’an, mantiq, balaghah, dan sebagainya.
Melalui filsafat lahir sosok seperti Karl Marx, Friedrich Hegel, dan filsuf lainnya yang berhaluan kiri di Barat. Sementara di dunia Islam, filsafat melahirkan filsuf-filsuf hebat, seperti Ibnu Rusyd, Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan yang lainnya. “Kalau kita menganggap filsafat itu negatif dan menyesatkan, apakah kita juga berani mengatakan bahwa Ibnu Rusyd, Al-Ghazali, dan Ibnu Sina itu sesat? Kurang ‘alim apa mereka?” tegas Kang Puad kepada para peserta PKU XIX.
Kang Puad menutup diskusi dengan pernyataan, bahwa sebelum mempelajari filsafat lebih jauh, sebaiknya tegaskan kembali niat dan tujuan kita mempelajarinya, lalu kita semestinya mengetuk pintu lalu berkenalan dengan filsafat agar saat masuk ke dalam, kita sudah mempersiapkan diri dengan baik. (fw)






