Oleh:
Dr. M. Taufik Hidayatullah, M.Si
(Wakil Sekretaris MUI Kabupaten Bogor)
MUI-BOGOR.ORG – Dalam situasi global sejauh ini di mana berbagai drama mengguncang nurani setiap insan diperlihatkan scene demi scene, ada satu pelajaran penting tentang keimanan yang perlu kita renungkan bahkan pertanyakan.
Pada konteks inilah, ceramah Syeikh Muhammad Al Muqrami tentang Gaza yang beredar viral belakangan di platform X (sebelumnya Twitter) oleh akun Ahmed Mosibly @Ahmedmosibly sejak 8 Desember 2025 kemudian menyebar ke berbagai media sosial lain menjadi relevan untuk kita kaji. Kita akan membacanya sebagai alat untuk memahami bagaimana Allah SWT menguji kualitas iman manusia di titik paling ekstrem.
Sejarah Islam melalui Perang Uhud sebenarnya telah lebih dulu mengajarkan hal ini. Perang tersebut bukan sekadar kekalahan militer, tetapi jauh lebih dahsyat telah mengguncang sendi-sendi teologis. Kaum Muslim saat itu sempat beranggapan bahwa karena berada di pihak yang benar selain bersama Rasulullah SAW, maka akan menjamin kemenangan yang mudah.
Namun realitas berkata lain. Banyak sahabat gugur, sedang yang hidup mengalami keruntuhan mental. Dalam situasi seperti itulah Allah SWT menurunkan ayat yang menegaskan bahwa surga tidak bisa diraih tanpa pembuktian melalui jihad dan kesabaran.
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran : 142).
Selama ini, ayat-ayat tentang ujian tersebut kita pahami secara konseptual dari berbagai pelajaran agama atau pengajian. Namun dalam ceramah Syeikh Al Muqrami, ayat-ayat itu seakan hidup kembali menjadi nyata dalam realitas Gaza.
Ketakutan, kelaparan, kehilangan harta dan nyawa sebagaimana disebut dalam QS. Al Baqarah ayat 155, tidak lagi menjadi teks, tetapi fakta yang dialami sebuah komunitas manusia hari ini.
Membuktikan tiga penekanan melalui huruf wawu, lam dan nun tasydid pada potongan ayat, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu…” (QS. Al Baqarah : 155). Melalui kode ini, Allah SWT menegaskan bahwa ujian ini “pasti” berlaku di dunia kita.
Syeikh Al Muqrami kemudian menandaskan jika kita ingin menerapkan ayat ini pada suatu tempat di muka bumi saat ini, maka ayat ini sangat tepat menggambarkan kondisi penduduk Gaza.
Namun yang lebih mencengangkan lanjut Syeikh Al Muqrami, sajian peristiwa demi peristiwa bukan hanya soal beratnya ujian itu, melainkan juga bagaimana manusia meresponsnya. Dalam banyak potongan video dan kesaksian terkait apa yang terjadi di Gaza, misalnya tentang mereka yang kehilangan rumah dan anggota keluarga, mereka tetap mengucapkan kalimat istirja.
Ini manifestasi dari keyakinan yang telah melewati batas logika manusia kebanyakan. “(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (QS. Al Baqarah : 156).
Al Qur’an menyebut bahwa orang-orang sabar tersebut akan mendapatkan ridha dari Allah SWT “… Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah : 155). Sebuah kabar gembira yang lahir dari krisis, bukannya dari kenormalan kehidupan.
Selama ini menurut Syeikh Al Muqrami, respon para penyintas ujian mungkin tidak terbayangkan bagaimana wujudnya. Namun dalam konteks Gaza, ia menemukan bentuknya, bahwa di tengah kehancuran total, masih ada sebentuk iman yang teguh.
Lebih dalam lagi, Gaza tidak hanya menguji mereka yang berperan di dalamnya, tetapi juga menguji kita yang menyaksikan dari kejauhan. Sebagaimana disebut dalam QS. Ali Imran ayat 179, “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk dari yang baik.”
Sungguh pada ayat ini Allah SWT tidak akan membiarkan manusia dalam keseragaman tanpa mengkategori peringkat yang baik dan yang buruk. Peristiwa tersebut sejatinya akan menyingkap posisi moral setiap manusia, apakah ia berpihak, diam atau melawan kedzaliman.
Pada akhirnya, kisah Perang Uhud mengajarkan bahwa kekalahan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses pemurnian keimanan. Gaza hari ini seakan mengingatkan kembali pelajaran itu. Bahwa iman sejati bukan diukur dari seberapa lantang ia diucapkan, tetapi seberapa kokoh ia diimplementasikan bahkan ketika seluruh dunia menentangnya.
Maka dari itu, membaca Gaza sejatinya adalah membaca kualitas iman kita, apakah ia hanya sebatas pengakuan belaka atau sebuah kesiapan mengikuti ujian. Sebab sesungguhnya, mereka yang diuji bukan hanya yang berada di Gaza, tetapi juga kita yang berada diberbagai penjuru ufuk, yang selama ini merasa beriman, tanpa pernah benar-benar diuji.
Wallahu a‘lam bi as shawab







