Oleh:
Dr. M. Taufik Hidayatullah, M.Si
(Wakil Sekretaris MUI Kabupaten Bogor)
MUI-BOGOR.ORG – Di tengah kisah para nabi, ada satu cerita yang tampak sederhana namun menyimpan hikmah luar biasa, yaitu ketika Nabi Sulaiman AS tersenyum karena “mendengar” seekor semut berbicara.
Peristiwa ini diabadikan dalam QS. An Naml ayat 18 sampai 19, “Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, “Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”
Nampak seekor semut memperingatkan koloninya agar masuk ke sarang supaya tidak terinjak oleh pasukan yang akan lewat. Sekilas, kisah ini tampak biasa. Namun jika ditelaah lebih dalam, ia justru mengandung dua lapisan makna, antara mukjizat kenabian dan keajaiban sistem komunikasi semut.
Sebagian besar ulama tafsir yang diwakili Ibnu Katsir dan Al Qurthubi memahami ayat ini secara apa adanya, yaitu semut itu benar-benar “berkata” di satu sisi dengan Nabi Sulaiman AS benar-benar memahaminya di sisi lain.
Tentu saja hal ini menandakan bahwa apa yang dilakukan Nabi Sulaiman AS bukan sekadar kemampuan linguistik biasa, melainkan mukjizat memahami apa yang disebut sastrawan sufistik Fariduddin Attar sebagai mantiq at thair, yaitu memahami bahasa makhluk lain yang diberikan langsung oleh Allah SWT.
Bila ditelisik lebih dalam, Al Qur’an menggunakan pilihan kata “namlatun”, mengambil bentuk mu’annath (feminin), ditandai dengan akhiran ta’ marbuthah. Ini menunjukkan jenis semut betina, yang oleh banyak mufassir diidentifikasi sebagai pemimpin koloni, alias “ratu semut”.
Pasalnya sebagaimana bunyi ayat, ia tidak hanya berbicara, melainkan juga mengeluarkan perintah kolektif “Wahai semut-semut, masuklah ke sarang kalian…”. Ada pola komunikasi yang terstruktur rapi pada koloni semut tersebut.
Sampai di sini kita faham bahwa Al Qur’an tidak hanya bercerita tentang mukjizat semata, tetapi juga menggambarkan “realitas biologis” yang baru dipahami manusia jauh hari setelahnya, berabad-abad kemudian.
Sains modern mengungkap bahwa semut tidak berbicara dengan suara seperti manusia. Mereka berkomunikasi melalui sistem yang jauh lebih halus melalui senyawa kimia bernama feromon yang ditransmisikan melalui antena.
Penelitian ilmuwan seperti Edward O. Wilson, sering disebut “Bapak Mirmekologi” atau ahli semut modern di tahun 1958 menemukan bahwa semut meninggalkan jejak kimia untuk menunjukkan arah makanan (Rhodes. 2021). Mereka mengirim sinyal bahaya yang memicu respons kolektif. Tidak berhenti di sana, mereka juga bisa membedakan “teman” dan “musuh” hanya dari baunya.
Penelitian terbaru yang dilakukan tim peneliti dari Rockefeller University tahun 2023 menemukan pusat pemrosesan sinyal alarm khusus di otak semut (Hart, et.al., 2023). Hal ini semakin membuka tabir kompleksitas bahasa yang dimiliki semut.
Dengan berbagai temuan tersebut, koloni semut bekerja layaknya “superorganisme”, karena ribuan individu bertindak sebagai satu kesatuan yang utuh dari sebuah koloni melalui bahasa kimia yang presisi. Hal ini semakin menambah tidak sederhananya diksi “perkataan semut” dalam Al Qur’an.
Sampai di sini kita bisa simpulkan bahwa apa yang disebut “perkataan” pada dasarnya merupakan representasi makna dari sinyal-sinyal feromon tersebut. Semut tidak berkata dengan kata-kata, meskipun demikian pesan mereka sangat jelas dan terstruktur, persis seperti bahasa pada umumnya.
Melihat kompleksitas bahasa semut dan bagaimana bunyi ayat sebagaimana kita ketahui sebelumnya memantik sebuah pertanyaan besar, apakah Nabi Sulaiman AS memahami feromon? Jawaban ilmiahnya dapat kita sampaikan bahwa manusia biasa tidak bisa.
Bahkan bila ia dibekali dengan alat canggih seperti GC-MS atau electroantennography sekalipun. Sejauh ini, ilmuwan pun hanya mampu mendeteksi dan memetakan sinyal, belum benar-benar “berdialog” secara langsung dengan sebuah alat yang mampu mengenkoder dan mendekoder pesan.
Namun dalam perspektif keimanan, kemampuan Nabi Sulaiman AS melampaui itu semua. Dengan kata lain, mukjizat bukan sekadar peningkatan kemampuan indera, melainkan pemberian “pemahaman langsung” dari Allah SWT. Artinya, beliau tidak hanya “mendengar”, tetapi juga mengerti.
Memahami tindakan semutnya saja sebagaimana ayat dan bagaimana penelitian terbaru telah menyibak rahasia alam, membuat kita terkagum-kagum. Namun perhatikan scene yang sering terlewat pada respons Nabi Sulaiman AS. Apa responnya? Setelah mendengar peringatan semut, beliau tidak marah. Ia malah tersenyum dan berdoa.
Hal ini menunjukkan sesuatu yang lebih dalam bahwa kekuasaan besar tidak membuatnya abai terhadap kepentingan makhluk kecil. Juga pengetahuan tidak menjadikannya sombong dan jumawa, malah melahirkan rasa syukur dan kerendahan hati. Sebuah tindakan yang menjadikannya sebagai pemimpin sejati.
Kisah dalam Al Qur’an ini memperlihatkan satu hal penting, bahwa apa yang dahulu dianggap sekadar cerita, kini menemukan relevansinya dalam biologi modern. Pada akhirnya, sang ratu semut mengajarkan bahwa komunikasi tidak selalu tentang suara, ia bisa berupa sinyal atau isyarat tertentu.
Nabi Sulaiman AS mengajarkan bahwa memahami makna adalah anugerah. Lebih penting lagi bahwa mungkin yang perlu diperbaiki bukan tentang cara kita berbicara, tetapi cara kita memahami setelah kita dengarkan, bahkan terhadap yang paling kecil sekalipun. Wallahu a‘lam bishawab








